Oleh: Muliadi Saleh (Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran)
Di ruang operasi, cahaya lampu tidak hanya menerangi tubuh yang sedang dibedah. Ia juga menerangi harapan. Di sana, ilmu pengetahuan bertemu kasih sayang. Ketelitian berpadu dengan empati. Dan seorang dokter tidak sekadar memperbaiki jaringan tubuh, tetapi ikut menyusun kembali kepercayaan diri, martabat, bahkan masa depan seseorang.
Di jalan itulah Prof. drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.BM(K) menapakkan pengabdiannya.
lahir di Pangkajene pada tanggal 2 Juli 1973, beliau menempuh perjalanan akademik yang panjang. Dari bangku Universitas Hasanuddin, melanjutkan pendidikan spesialis di Universitas Indonesia, hingga meraih gelar doktor di Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda.
Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan dari satu kampus ke kampus lain, melainkan perjalanan memperluas cakrawala ilmu untuk kemudian dibawa pulang menjadi manfaat bagi negeri.
Ilmu yang tinggi akan kehilangan maknanya bila berhenti di ruang seminar. Karena itu, kebesaran seorang akademisi tidak diukur dari banyaknya gelar yang melekat di belakang namanya, melainkan dari banyaknya kehidupan yang disentuh oleh ilmunya.
Prof. Ruslin memahami benar filosofi itu.
Sebagai dokter bedah mulut dan maksilofasial, beliau bekerja pada bagian tubuh yang sangat dekat dengan identitas manusia: wajah. Wajah adalah bahasa pertama sebelum kata-kata lahir. Senyum adalah kalimat paling universal yang dipahami semua orang.
Ketika seorang anak yang lahir dengan bibir sumbing akhirnya mampu tersenyum setelah operasi, sesungguhnya yang sembuh bukan hanya luka fisiknya. Orang tuanya memperoleh harapan baru. Lingkungannya belajar menerima. Dan masa depannya terbuka lebih lebar.
Di titik itulah ilmu berubah menjadi kemanusiaan.
Sebagai mantan Direktur Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unhas, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi, hingga kini mengemban amanah sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin, Prof. Ruslin memperlihatkan bahwa kepemimpinan akademik bukan sekadar mengelola institusi. Ia adalah seni menumbuhkan manusia.
Universitas yang besar tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas, tetapi juga melahirkan pribadi yang berkarakter, rendah hati, dan memiliki keberpihakan kepada kemanusiaan.
Kepemimpinan sejati bukanlah tentang berada di depan, melainkan tentang membuat banyak orang mampu berjalan bersama.
Kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai Ketua Majelis Guru Besar Kedokteran Gigi Indonesia pada tahun 2026 serta kepemimpinan di Kolegium Bedah Mulut dan Maksilofasial Indonesia menjadi pengakuan bahwa integritas akademik selalu menemukan jalannya sendiri. Jabatan bukanlah tujuan, melainkan konsekuensi dari konsistensi mengabdi.
Namun, mungkin yang paling membekas bukanlah deretan jabatan itu.
Yang paling membekas justru jejak-jejak kemanusiaan yang beliau tinggalkan melalui operasi bibir sumbing gratis di berbagai pelosok negeri. Di tempat-tempat yang jauh dari gemerlap kota, ilmu hadir sebagai kasih. Di sana seorang profesor tidak berdiri sebagai simbol prestise, melainkan hadir sebagai pelayan kehidupan.
Inilah wajah pendidikan tinggi yang sesungguhnya. Ilmu tidak berhenti menjadi pengetahuan. Ia menjelma menjadi kebermanfaatan.
Pada akhirnya, usia bukanlah hitungan berapa kali matahari terbit dan tenggelam. Usia adalah seberapa banyak cahaya yang berhasil kita nyalakan di kehidupan orang lain.
Hari ini, 2 Juli, ketika usia kembali bertambah, sesungguhnya yang sedang dirayakan bukan sekadar pertambahan angka. Yang dirayakan adalah perjalanan pengabdian yang terus meluas, ilmu yang terus bertumbuh, dan manfaat yang terus mengalir tanpa henti.
Barakallah fi umrik, Prof. Muhammad Ruslin.
Semoga Allah Swt. senantiasa melimpahkan kesehatan, umur yang penuh keberkahan, keluasan ilmu, keteguhan hati, serta kekuatan untuk terus mengabdi bagi dunia pendidikan, kedokteran, dan kemanusiaan. Semoga setiap senyum yang kembali merekah karena sentuhan tangan dan kebijakan yang lahir dari pengabdian beliau menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir zaman.
Karena pada akhirnya, manusia tidak dikenang oleh apa yang dimilikinya, tetapi oleh kehidupan yang berhasil ia bahagiakan.
__________
"Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban."




-300x200.webp)



