Mahasiswa
Sosial

Ramadhan Talk Pusdis Unhas Bahas Dalil dan Keutamaan Puasa dalam Al-Quran Bagi Disabilitas

Guru Besar UIN Alauddin Makassar dan Pengasuh Pondok Pesantren Modern IMMIM, Prof Dr Hj Amrah Kasim Lc MA. (unhas tv/venny septiani)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin (Pusdis Unhas) menggelar kegiatan Ramadhan Talk yang membahas dalil serta keutamaan ibadah puasa dalam Al-Qur’an.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program Iftar with Pusdis yang berlangsung di Aula Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin, Sabtu (7/3/2026).

Diskusi keagamaan tersebut menghadirkan Guru Besar Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Modern IMMIM, Prof Dr Hj Amrah Kasim Lc MA, sebagai pemateri utama.

Dalam pemaparannya, Prof Amrah mengulas landasan syariat puasa dalam Al-Qur’an sekaligus menjelaskan makna spiritual ibadah tersebut bagi umat Islam.

Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda Iftar with Pusdis yang mengusung tema GEMBIRA atau Gerakan Mewujudkan Budaya Inklusif dan Ramadhan yang Aksesibel.

Program tersebut dirancang untuk menghadirkan ruang pembelajaran dan kebersamaan yang dapat diakses oleh seluruh sivitas akademika, termasuk mahasiswa difabel.

Dalam materinya, Amrah menjelaskan bahwa puasa bukan hanya ibadah yang diwajibkan bagi umat Islam pada bulan Ramadhan. Praktik menahan diri tersebut, kata dia, juga telah dikenal dalam berbagai tradisi keagamaan sebelum datangnya Islam.

“Puasa sebenarnya sudah dikenal sejak sebelum masa Islam. Banyak tradisi keagamaan yang juga mengenal praktik puasa sebagai bentuk pengendalian diri dan pendekatan kepada Tuhan,” ujarnya dalam pemaparan di hadapan peserta.

Menurut Amrah, dalam ajaran Islam, kewajiban puasa Ramadhan memiliki landasan yang jelas dalam Al-Qur’an. Ibadah ini dilaksanakan oleh umat Islam sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Namun kewajiban tersebut tidak berlaku bagi mereka yang memiliki uzur syar’i, seperti orang sakit atau sedang melakukan perjalanan jauh.

Ia menekankan pentingnya memahami dalil-dalil Al-Qur’an yang menjadi dasar kewajiban puasa. Dengan pemahaman tersebut, ibadah yang dilakukan tidak hanya bersandar pada tradisi atau kebiasaan, tetapi juga berlandaskan ilmu.

“Sering kali kita menjalankan ibadah hanya karena mendengar dari orang lain tanpa mengetahui sumbernya. Padahal ketika seseorang memahami dalil Al-Qur’an tentang puasa, nilai ibadahnya akan berbeda karena dilakukan dengan pengetahuan,” kata Amrah.

Ia menambahkan, Al-Qur’an merupakan sumber utama ajaran Islam yang menjadi rujukan dalam memahami berbagai bentuk ibadah, termasuk puasa.

Karena itu, ia mengajak peserta untuk menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum memperbanyak membaca dan mempelajari Al-Qur’an.

Menurut Amrah, Ramadhan memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam karena menjadi bulan diturunkannya Al-Qur’an. Hal tersebut menjadi alasan penting bagi umat Islam untuk meningkatkan interaksi dengan kitab suci tersebut selama bulan puasa.

“Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Karena itu jangan sampai kita melewati bulan ini tanpa membaca dan mempelajari Al-Qur’an,” ujarnya.

Kegiatan Ramadhan Talk ini diikuti oleh relawan, mahasiswa difabel, serta staf Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin yang turut hadir dalam rangkaian Iftar with Pusdis.

Diskusi berlangsung interaktif dengan sejumlah pertanyaan dari peserta terkait praktik ibadah puasa dan pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an.

Melalui kegiatan ini, Pusdis Unhas berharap peserta tidak hanya memahami keutamaan bulan Ramadhan secara umum, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas ibadah melalui pemahaman ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)