Sulsel

Rehabilitasi Irigasi Bontonyeleng Ditargetkan Tingkatkan Pengairan 1.200 Hektare Sawah di Bulukumba

DI BONTONYELENG - Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Rehabilitasi Daerah Irigasi (DI) Bontonyeleng, di Kabupaten Bulukumba, Kamis (18/6/2026). Pembangunan ini sebagai bagian dari program peningkatan layanan pengairan bagi lahan pertanian. (Dok Pemprov Sulsel)

BULUKUMBA, UNHAS.TV – Upaya memperkuat sektor pertanian di Sulawesi Selatan terus dilakukan melalui perbaikan infrastruktur pendukung, salah satunya jaringan irigasi.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan saat ini tengah melakukan rehabilitasi Daerah Irigasi (DI) Bontonyeleng di Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, sebagai bagian dari program peningkatan layanan pengairan bagi lahan pertanian.

Untuk itu dilakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama pembangunan Rehabilitasi Daerah Irigasi (DI) Bontonyeleng, Kamis (18/6/2026).

Perbaikan jaringan irigasi tersebut menjadi salah satu proyek strategis yang diharapkan mampu mengatasi berbagai persoalan distribusi air yang selama ini dihadapi petani.

Sejumlah saluran yang mengalami kerusakan dan kebocoran dinilai menjadi penyebab pasokan air ke area persawahan belum berjalan secara optimal.

Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, mengatakan rehabilitasi DI Bontonyeleng merupakan bagian dari Paket 1 proyek rehabilitasi irigasi multiyears yang mencakup beberapa wilayah di Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Maros, Gowa, Bulukumba, dan Sinjai.

Program tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan pangan melalui peningkatan kualitas infrastruktur pertanian.

Khusus di Kabupaten Bulukumba, pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran sekitar Rp16,5 miliar untuk rehabilitasi tiga daerah irigasi, yakni DI Bontonyeleng, DI Bettu, dan DI Bongki-Bongki.

Ketiga jaringan irigasi tersebut memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas pertanian masyarakat setempat yang sebagian besar bergantung pada ketersediaan air untuk budidaya tanaman pangan.

Menurut Andi Sudirman, salah satu persoalan utama yang selama ini ditemukan adalah masih adanya titik-titik kebocoran pada saluran utama irigasi. Kondisi tersebut menyebabkan aliran air tidak dapat didistribusikan secara maksimal ke lahan pertanian sehingga berpengaruh terhadap produktivitas pertanian masyarakat.

Melalui rehabilitasi yang sedang dilakukan, kapasitas layanan jaringan irigasi diperkirakan akan meningkat secara signifikan.

Optimalisasi Lahan 1.200 Hektare

Pemerintah memproyeksikan peningkatan layanan pengairan hingga sekitar 65 persen, yang nantinya dapat mengoptimalkan kebutuhan air untuk kurang lebih 1.200 hektare lahan pertanian di wilayah tersebut.

Perbaikan jaringan irigasi dinilai menjadi langkah penting mengingat ketersediaan air merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan produksi pertanian.

Distribusi air yang lebih lancar dan merata diharapkan mampu membantu petani meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mengurangi risiko gagal panen akibat kekurangan pasokan air.

Selain mendukung peningkatan hasil pertanian, keberadaan jaringan irigasi yang berfungsi optimal juga berpotensi meningkatkan intensitas tanam petani.

Dengan ketersediaan air yang lebih terjamin, petani memiliki peluang untuk mengelola lahan secara lebih produktif sepanjang tahun.

Program rehabilitasi irigasi yang dijalankan Pemprov Sulsel tidak hanya difokuskan di Bulukumba. Sebelumnya, pekerjaan serupa juga telah dimulai di sejumlah daerah lain melalui proyek multiyears yang mencakup kawasan Luwu Raya, Toraja, Bone, Soppeng, dan Wajo.

Langkah tersebut menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat infrastruktur sumber daya air sebagai penunjang sektor pertanian.

Pemerintah berharap rehabilitasi jaringan irigasi dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, khususnya petani yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan daerah.

Dengan infrastruktur pengairan yang lebih baik, produktivitas pertanian diharapkan meningkat sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan.

Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian, mulai dari perubahan iklim hingga kebutuhan pangan yang terus meningkat, keberadaan infrastruktur irigasi yang andal menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian.

Karena itu, rehabilitasi jaringan irigasi menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk memastikan kebutuhan air pertanian tetap terpenuhi dan sektor pertanian Sulawesi Selatan dapat terus berkembang.

(Rahmatia Ardi / Unhas TV)