Mahasiswa

Revolusi Bioplastik Mahasiswa KKN Unhas Menjadi Laboratorium Edukasi Sains dan Etika Lingkungan bagi Siswa Lancirang

Siswa kelas XII MA Darus Sa’adah As’adiyah Lancirang bersama mahasiswa KKN Tematik 115 Universitas Hasanuddin menunjukkan hasil lembaran bioplastik berbahan pati singkong usai sesi praktik dan diskusi ilmiah tentang sains polimer serta solusi ramah lingkungan, 3 Februari 2026. Siswa kelas XII MA Darus Sa’adah As’adiyah Lancirang bersama mahasiswa KKN Tematik 115 Universitas Hasanuddin menunjukkan hasil lembaran bioplastik berbahan pati singkong usai sesi praktik dan diskusi ilmiah tentang sains polimer serta solusi ramah lingkungan, 3 Februari 2026.

SIDENRENG RAPPANG, UNHAS.TV – Di tengah krisis global sampah plastik sekali pakai yang menurut data UNEP telah melampaui 400 juta ton produksi per tahun di seluruh dunia, seorang mahasiswa Universitas Hasanuddin menghadirkan inovasi edukatif berbasis sains terapan dengan memperkenalkan teknologi bioplastik berbahan singkong kepada siswa MA Darus Sa’adah As’adiyah Lancirang dalam kegiatan yang dilaksanakan pada 3 Februari 2026.

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Naura Rahadatul Aisy Rafifah, mahasiswa Program Studi Teknik Industri yang tergabung dalam KKN Tematik Universitas Hasanuddin Gelombang 115, sebagai respons atas meningkatnya persoalan pencemaran plastik yang bahkan telah menjangkau wilayah pedesaan.

Program ini dilaksanakan di bawah bimbingan Dr. Hasan Basri, S.KM, selaku Dosen Pendamping Kegiatan (DPK) KKN, dengan melibatkan 18 siswa kelas XII MA Darus Sa’adah As’adiyah Lancirang dalam sesi edukasi sekaligus praktik langsung pembuatan biodegradable plastic berbahan dasar pati singkong atau tepung tapioka.

Sebelum memasuki tahap teknis, para siswa terlebih dahulu mendapatkan pemaparan mengenai dampak plastik konvensional yang membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai dan telah terbukti mencemari tanah, sungai, hingga rantai makanan melalui mikroplastik yang kini ditemukan di laut maupun tubuh manusia.

Naura menegaskan bahwa edukasi ini bertujuan membangun kesadaran kritis generasi muda agar mampu mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai sekaligus memahami bahwa solusi lingkungan dapat lahir dari potensi lokal yang sederhana.

Pada sesi ilmiah, siswa diajak memahami konsep dasar polimer dengan penjelasan bahwa pati singkong merupakan polisakarida yang tersusun atas amilosa dan amilopektin, di mana amilosa berfungsi membentuk lapisan film kuat sementara amilopektin menjaga stabilitas struktur plastik.

Penjelasan semakin komprehensif ketika diperkenalkan penggunaan gliserin sebagai plasticizer agar lembaran plastik tidak kaku, serta Low Methoxyl Pectin (LMP) yang berperan meningkatkan elastisitas melalui interaksi dengan ion kalsium alami dalam campuran, sementara penambahan cuka putih membantu menstabilkan sistem polimer.

Praktik pembuatan dilakukan menggunakan peralatan dapur sederhana seperti timbangan digital, panci, kompor, dan nampan plastik, dimulai dari pencampuran bahan hingga homogen lalu dipanaskan sampai mencapai fase gelatinisasi ketika adonan berubah menjadi bening dan kental sebelum dituangkan dan dikeringkan menjadi lembaran bioplastik.

Mahasiswa KKN Tematik Gelombang 115 Universitas Hasanuddin memandu praktik pembuatan bioplastik berbahan pati singkong kepada siswa kelas XII MA Darus Sa’adah As’adiyah Lancirang, Kelurahan Lancirang, 3 Februari 2026, sebagai bagian dari edukasi sains polimer dan penguatan kesadaran lingkungan berbasis potensi lokal.
Mahasiswa KKN Tematik Gelombang 115 Universitas Hasanuddin memandu praktik pembuatan bioplastik berbahan pati singkong kepada siswa kelas XII MA Darus Sa’adah As’adiyah Lancirang, Kelurahan Lancirang, 3 Februari 2026, sebagai bagian dari edukasi sains polimer dan penguatan kesadaran lingkungan berbasis potensi lokal.


Antusiasme siswa tampak jelas ketika mereka tidak hanya mengamati proses reaksi termal pati, tetapi juga menyentuh langsung hasil akhir berupa lembaran plastik yang kuat, solid, mudah terurai, dan bahkan aman dikonsumsi karena berbasis bahan pangan.

"Momen saat mereka menuangkan adonan ke nampan dan meratakannya dengan penuh hati-hati adalah bagian paling berkesan bagi saya. Juga ketika melihat antusiasme dan rasa kagum mereka saat pertama kali memegang sampel bioplastik yang sudah jadi. Banyak yang tidak menyangka bahwa tepung tapioka yang biasa mereka temui di dapur bisa berubah menjadi lembaran plastik dengan tekstur yang kuat, solid, dan mudah terurai bahkan dapat dimakan. Hal tersebut saya rasa menjadi bukti bahwa inovasi ini benar-benar membuka cakrawala baru bagi mereka." Ungkap Naura.

Keberhasilan kegiatan ini turut mendapat dukungan penuh dari Kepala MA Darus Sa’adah As’adiyah Lancirang, Azis, S.Ag, beserta jajaran guru yang menilai bahwa inovasi teknologi ramah lingkungan seperti ini relevan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21 yang menekankan keterampilan praktis dan kewirausahaan berbasis keberlanjutan.

“Program ini sangat bermanfaat bagi siswa karena membuka wawasan mereka tentang inovasi ramah lingkungan sekaligus menumbuhkan kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan,” tutur Bapak Azis.

Kegiatan ini ditutup dengan harapan agar MA Darus Sa’adah As’adiyah Lancirang dapat menjadi pionir sekolah ramah lingkungan di wilayahnya, sekaligus membuktikan bahwa transformasi menuju ekonomi sirkular dan keberlanjutan global dapat dimulai dari laboratorium kecil di ruang kelas desa melalui optimalisasi potensi lokal yang berbasis ilmu pengetahuan.(*)