News
Sport

Rotasi Besar Guardiola Berbuah Petaka, Manchester City Tunduk 0-2 dari Leverkusen

Penyerang Bayer Leverkusen Alejandro Grimaldo mencetak gol ke gawang Manchester City. (screenshot the sun)

MANCHESTER, UNHAS.TV - Eksperimen besar Pep Guardiola berujung bencana. Manchester City menelan kekalahan 0-2 dari Bayer Leverkusen pada laga Liga Champions di Etihad Stadium, Rabu (26/11/2025) dini hari.

Hasil buruk The Citizen ini sekaligus mengakhiri catatan tujuh tahun tanpa kekalahan kandang di fase grup Liga Champions.

Bahkan kehadiran Erling Haaland yang dimasukkan di babak kedua tak mampu menyelamatkan The Citizens dari kegagalan yang sepenuhnya lahir dari keputusan blunder pelatih mereka sendiri.

Bagi Guardiola, laga ke-100 bersama City di kompetisi Eropa ini berubah menjadi salah satu momen paling mengecewakan.

Setelah mengakui bahwa perjalanan 99 laga sebelumnya lebih banyak menghadirkan kekecewaan ketimbang kebanggaan, pertandingan bersejarah ini justru menambah daftar panjang hasil pahit itu. “Kesalahan ada pada saya,” ujar Guardiola usai pertandingan.

Keputusan aneh yang membuat banyak pihak mengernyit datang sebelum kick-off. Guardiola melakukan sepuluh perubahan dalam susunan pemainnya. Hanya satu pemain inti yang bertahan di line-up awal.

Sisanya, rotasi penuh. Padahal Guardiola menyebut pertandingan ini penting untuk menjaga peluang finis delapan besar klasemen Liga Champions yang baru. 

Etihad Stadium sempat terpana melihat daftar susunan pemain. Dengan jadwal menghadapi Leeds United akhir pekan ini—tim yang sedang berkutat di zona degradasi—banyak yang mengira rotasi besar akan dilakukan di laga domestik, bukan di panggung Eropa.

Leverkusen Bermain Rapi dan Efisien

Tampil sebagai tamu, Leverkusen tampil percaya diri sejak awal. Tim asuhan Kasper Hjulmund itu datang bukan sekadar bertahan.

Meski pernah kebobolan tujuh gol dari PSG bulan lalu, Leverkusen tampak jauh lebih rapi dan efisien. Momen awal pertandingan menunjukkan City kesulitan menemukan ritme. Intensitas hilang, koordinasi goyah, dan transisi lambat.

City sempat memiliki peluang ketika Nathan Ake melepaskan chip yang mampu ditepis Mark Flekken. Kiper Leverkusen yang pernah tampil gemilang saat berseragam Brentford kembali menunjukkan ketangguhan. Beberapa kali ia menggagalkan peluang City, menambah frustrasi lini serang tuan rumah.


Statistik pertandingan Manchester City saat kalah 0-2 dari Bayer Leverkusen. (screenshot the sun)


Sebaliknya, Leverkusen menyerang dengan sederhana namun efektif. Dari skema transisi cepat, Ibrahim Maza menyisir sisi kanan sebelum mengirim umpan kepada Christian Kofane.

Kofane lalu mengalirkan bola ke Alejandro Grimaldo yang menuntaskan dengan tembakan rendah melewati sela dua bek City dan menaklukkan kiper James Trafford.

Pertahanan City tampak rapuh. Ernest Poku dan Ait-Nouri beberapa kali mengancam lewat serangan balik. Reijnders dan Oscar Bobb mencoba peruntungan, namun Flekken selalu berada di posisi terbaik untuk menahan usaha mereka.

Guardiola tidak menunggu lama. Baru memasuki jeda babak pertama, ia melakukan tiga pergantian sekaligus: Phil Foden, Nico O’Reilly, dan Jeremy Doku masuk untuk menambah energi dan kreativitas.

Perubahan ini sempat memberi dinamika. City lebih menekan, lebih sering masuk kotak penalti. Tetapi, di balik itu, ruang di belakang semakin terbuka. Leverkusen membaca kelemahan itu dengan kejam.

Menit ke-55, Maza kembali menjadi kreator. Umpannya dari sisi kanan disambar Patrik Schick yang lolos dari kawalan Ake dan menanduk bola ke sudut gawang. Skor berubah 0-2 dan City seketika kehilangan arah. Atmosfer di Etihad berubah dari tegang menjadi cemas.

Haaland yang selama ini menjadi pematah kebuntuan akhirnya dipanggil turun pada menit ke-62. Kesempatan langsung didapatnya ketika menerima operan Foden, namun kiper Flekken kembali tampil sebagai tembok penghalang.

Striker Norwegia itu bahkan kembali gagal pada kesempatan kedua, ketika sepakan jarak dekatnya justru melayang di atas mistar.

Masuknya Rayan Cherki juga tak mengubah situasi. Tembakan kerasnya pun dipatahkan Flekken yang tampil sebagai pemain terbaik laga ini. City terus mengurung Leverkusen pada 10 menit terakhir, tetapi tak pernah benar-benar mendekati gol.

Kekalahan ini menjadi pukulan ganda. Pertama, City kehilangan rekor 23 laga kandang tanpa kekalahan di fase grup sejak 2018. Kedua, mereka mencatat dua kekalahan beruntun—sesuatu yang jarang terjadi pada periode ini dalam satu musim.

Dengan format liga 36 klub, kekalahan ini membuat posisi City di papan atas semakin rapuh. Dua pekan lagi mereka harus bertandang ke Bernabeu menghadapi Real Madrid. Kekalahan di sana bisa mengirim City ke jalur play-off, situasi yang pernah mereka alami musim lalu.

“Performa tidak cukup baik. Kami harus memperbaiki banyak hal sebelum ke Madrid,” kata Guardiola singkat.

Bagi Leverkusen, kemenangan besar ini menjadi sinyal bahwa mereka mulai stabil di bawah Hjulmund. Dua gol yang dicetak lewat organisasi sederhana namun efektif menunjukkan ketajaman mental dan efisiensi lini serang mereka.

Untuk Manchester City, malam ini dicatat sebagai hari ketika eksperimen terlalu jauh membawa risiko besar. Rotasi yang berlebihan, lini serang yang tumpul, dan pertahanan yang mudah ditembus—semuanya berkumpul menjadi satu.

Etihad menjadi saksi bagaimana sebuah keputusan taktis mengubah laga krusial menjadi luka panjang bagi musim Guardiola. (*)