News
Opini

RSGM Unhas Terus Berbenah, Menuju Smart Dental Teaching Hospital

Oleh: Dr. drg. A. Tajrin, M.Kes., Sp.BMM., SubSp.COM (K) 

Rumah sakit pendidikan hari ini tidak cukup hanya memiliki gedung yang baik, peralatan yang lengkap, pasien yang banyak, dan mahasiswa yang datang untuk praktik. Tantangannya sudah jauh lebih besar.

Rumah sakit pendidikan harus bisa memberikan pelayanan terbaik kepada pasien, menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten, mengembangkan penelitian dan inovasi, memanfaatkan teknologi, serta memiliki kemampuan untuk menjaga keberlanjutan institusinya.

Pemikiran itulah yang dalam beberapa tahun terakhir kami coba bangun di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Hasanuddin.

RSGM Unhas memiliki perjalanan yang cukup panjang. Izin tetap penyelenggaraan RSGM ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan pada 2 Desember 2005.

Sejak 2011, organisasi dan tata kerja RSGM berada langsung di bawah Rektor Universitas Hasanuddin. Gedung RSGM yang digunakan saat ini kemudian diresmikan pada 26 Juni 2013.

Tetapi membangun rumah sakit tentu tidak berhenti pada gedung dan fasilitas. Pertanyaan yang selalu kami ajukan adalah, RSGM Unhas selanjutnya ingin menjadi apa?

Kami ingin membawa RSGM Unhas menuju Smart Dental Teaching Hospital. Smart bagi kami bukan sekadar digitalisasi. Bukan pula sekadar memiliki banyak teknologi dan aplikasi. Smart berarti pelayanan, pendidikan, penelitian, inovasi, pengabdian masyarakat, sumber daya manusia, teknologi, dan kemandirian finansial berada dalam satu sistem yang saling mendukung.

Kami membangunnya dengan tiga semangat utama: Integrasi, Inovasi, dan Kemandirian.

Dalam perjalanan menuju ke sana, ada sepuluh keunggulan RSGM Unhas yang terus kami bangun, evaluasi, dan kembangkan.

Pertama, Pendidikan Lengkap dari Profesi hingga Subspesialis. Keunggulan pertama RSGM Unhas adalah ekosistem pendidikannya.

Saat ini sekitar 300 mahasiswa Program Profesi Dokter Gigi menjalani pendidikan klinik di RSGM Unhas. Selain itu, ada delapan Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis, yaitu Prostodonsia, Konservasi Gigi, Periodonsia, Bedah Mulut dan Maksilofasial, Ortodonsia, Kedokteran Gigi Anak, Radiologi Kedokteran Gigi, serta Ilmu Penyakit Mulut.

Ekosistem tersebut semakin lengkap dengan pendidikan Subspesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial atau Sp-2 serta keterlibatan pendidikan tenaga kesehatan gigi lainnya.

Artinya, dalam satu rumah sakit berlangsung pendidikan mulai dari profesi, spesialis sampai subspesialis. Mahasiswa dan residen bertemu dengan dosen, DPJP, serta berbagai profesi kesehatan dalam aktivitas klinik sehari-hari.

Inilah salah satu kekuatan RSGM Unhas. Kami tidak ingin rumah sakit ini hanya menjadi tempat mahasiswa praktik. Kami ingin membangun sebuah clinical learning ecosystem, tempat pelayanan dan pendidikan berlangsung bersama-sama.

Kedua, Pendidikan Tidak Lagi Sekadar Mengejar Requirement. Keunggulan kedua adalah perubahan cara kita melihat pendidikan klinik.

Selama ini pendidikan profesi sering kali identik dengan requirement. Mahasiswa sibuk menghitung berapa kasus yang sudah dikerjakan. Menurut saya, kita harus bergerak lebih jauh.

Pertanyaannya bukan hanya, “Berapa banyak kasus yang sudah dikerjakan?” tetapi, “Apakah mahasiswa ini sudah benar-benar kompeten?”

Karena itu, RSGM Unhas mendorong perubahan dari requirement-based education menuju competency-based education.

Mahasiswa melewati proses secara bertahap. Mereka belajar teori, masuk ke Clinical Skills Laboratory atau phantom, melakukan observasi, menjadi asisten, kemudian setelah dinilai siap barulah menjadi operator.

Supervisinya juga disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa. Ada yang masih membutuhkan supervisi tinggi, ada yang sudah moderat, sampai akhirnya bisa berada pada supervisi yang lebih rendah.

Dengan sistem seperti ini, mahasiswa tidak diberikan kewenangan klinik hanya karena harus memenuhi requirement. Kewenangan diberikan karena dia memang sudah mencapai kompetensi yang dibutuhkan.

Target kami sederhana: mahasiswa bukan hanya cepat selesai, tetapi kompeten dan selesai tepat waktu.

Ketiga, Patient Safety Menjadi Fondasi Pendidikan.  Keunggulan ketiga, dan menurut saya sangat penting, adalah keselamatan pasien.

Ada satu prinsip yang selalu kami pegang: pendidikan tidak boleh mengurangi hak pasien untuk mendapatkan pelayanan yang aman dan bermutu.

Pasien datang ke RSGM Unhas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Mereka bukan sekadar objek pendidikan.

Karena itu DPJP tetap menjadi penanggung jawab utama pelayanan. Residen yang sudah memenuhi kompetensi dan ketentuan dapat terlibat dalam pelayanan dan proses pembelajaran. Mahasiswa juga belajar sesuai tingkat kompetensinya. Tetapi semuanya berada dalam sistem supervisi.

Kami membangun close supervision antara DPJP, residen, dan mahasiswa.

Hasilnya mulai terlihat. Rata-rata IPK mahasiswa meningkat dari sekitar 3,46 menjadi 3,78. Pada saat yang sama, rata-rata masa studi turun dari sekitar 37 bulan menjadi 20 bulan.

Bagi kami, ini menunjukkan bahwa kualitas dan kecepatan pendidikan tidak harus dipertentangkan. Kalau sistemnya baik, mahasiswa bisa semakin kompeten sekaligus menyelesaikan pendidikan dengan lebih efektif.

Keempat, Pelayanan BPJS Terintegrasi dengan Pendidikan dan Bank Pasien. Keunggulan keempat adalah bagaimana kami mengintegrasikan pelayanan pasien BPJS dengan pendidikan klinik tanpa mengurangi hak pasien.

Jumlah pasien BPJS di RSGM Unhas meningkat sangat signifikan. Kunjungan rawat jalan BPJS yang pada 2020 sekitar 3.605 kunjungan, pada 2025 sudah mencapai sekitar 58.571 kunjungan.

Tetapi kami tidak ingin melihat angka yang besar itu sebagai sumber requirement mahasiswa.

Untuk pasien BPJS, DPJP tetap menjadi penanggung jawab pelayanan dan tindakan klinik. Mahasiswa dapat menjadi observer atau asisten sesuai tingkat kompetensinya. Mereka bisa belajar pemeriksaan, diagnosis, menyusun rencana perawatan, memahami clinical reasoning, dan menyaksikan tahapan tindakan klinik.

Lalu bagaimana mahasiswa mendapatkan variasi kasus ketika sudah kompeten menjadi operator?

Di sinilah kami mengembangkan bank pasien pendidikan.

Kami memiliki program “Mahasiswa Unhas Bebas Penyakit Gigi dan Mulut”. Kami melakukan screening terhadap mahasiswa Universitas Hasanuddin untuk melihat kondisi dan kebutuhan perawatan mereka.

Kami juga menjalankan program “Tebarkan Senyum, Sehatkan Gigi dan Mulut untuk Generasi Lebih Berkualitas” bersama panti-panti asuhan di Makassar. Anak-anak panti mendapatkan akses pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara gratis.

Ada pula program “Hidup Sehat di Usia Senja: Lansia Sehat, Senyum Merekah, Sehat Gigi dan Mulut” melalui kerja sama dengan panti jompo.

Dari kegiatan seperti ini, kebutuhan perawatan dapat dipetakan. Masyarakat memperoleh pelayanan, sementara mahasiswa yang telah memiliki kompetensi bisa mendapatkan variasi kasus yang dibutuhkan dengan supervisi yang sesuai.

Bagi saya, ini contoh bagaimana pendidikan dan pengabdian masyarakat bisa saling menguatkan.

Kelima, Pelayanan Spesialistik dan Multidisiplin yang Lengkap. Keunggulan kelima adalah kelengkapan pelayanan.

RSGM Unhas memiliki pelayanan Bedah Mulut dan Maksilofasial, Konservasi Gigi, Kedokteran Gigi Anak, Periodonsia, Prostodonsia, Penyakit Mulut, Ortodonsia, serta Radiologi Dentomaksilofasial.

Pelayanan tersebut didukung bidang kedokteran lainnya, kamar operasi, rawat inap, geriatri, private care, terapi wicara, farmasi, instalasi gawat darurat, laboratorium patologi klinik, dan laboratorium dental.

Kelengkapan ini penting bagi masyarakat karena memungkinkan berbagai kasus ditangani secara lebih komprehensif dan multidisiplin.

Tetapi sebagai rumah sakit pendidikan, manfaatnya juga sangat besar. Mahasiswa, residen, dan peserta pendidikan subspesialis mendapatkan variasi serta kompleksitas kasus yang lebih luas.

Rumah sakit pendidikan yang baik membutuhkan case mix yang baik. Sebab kompetensi klinik tidak bisa hanya dipelajari dari buku. Ia harus ditempa melalui kasus nyata, dengan supervisi yang benar.

Keenam, SDM dan Fasilitas Dental Teaching Hospital.  Keunggulan keenam adalah kombinasi sumber daya manusia dan fasilitas.

RSGM Unhas didukung dokter gigi spesialis dari berbagai bidang, dokter gigi umum, dokter spesialis medis, dokter umum, tenaga anestesi, perawat, radiografer, apoteker, tekniker gigi, terapis wicara, fisioterapis, serta berbagai tenaga kesehatan dan tenaga pendukung lainnya.

Dari sisi fasilitas, kita memiliki 103 dental unit dan 18 tempat tidur, disertai kamar operasi dan berbagai fasilitas penunjang.

Pelayanan Radiologi Dentomaksilofasial juga didukung CBCT 3D, panoramik, sefalometri, serta berbagai modalitas radiografi dental lainnya. Kita juga memiliki laboratorium klinik dan laboratorium dental.

Fasilitas tersebut tentu digunakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Tetapi bagi kami, fasilitas itu sekaligus menjadi infrastruktur pendidikan.

Sebab kita tidak mungkin berbicara tentang pendidikan kedokteran gigi yang berkualitas kalau mahasiswa dan residen tidak memiliki akses terhadap fasilitas klinik yang memadai.

Ketujuh, Transformasi Digital Menuju Smart Dental Teaching Hospital. Keunggulan ketujuh adalah transformasi digital.

RSGM Unhas terus melakukan digitalisasi, mulai dari sistem antrean, rekam medis, integrasi pelayanan BPJS, administrasi, sampai proses klaim.

Tetapi bagi saya, transformasi digital bukan sekadar memindahkan pekerjaan dari kertas ke komputer.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana teknologi membuat pelayanan lebih cepat, lebih efisien, transparan, dan akuntabel. Dan yang tidak kalah penting, bagaimana data yang kita miliki membantu kita mengambil keputusan.

Di bidang pendidikan, FKG dan RSGM Unhas mengembangkan SIMPELDIK. Melalui sistem ini, admin, mahasiswa, departemen, dosen, dan DPJP bisa terhubung. Aktivitas klinik mahasiswa, kehadiran, jenis kasus, DPJP, penilaian, sampai perkembangan pendidikan dapat dipantau.

Kalau seorang mahasiswa mulai tertinggal dalam pencapaian kompetensi, kita seharusnya bisa mengetahuinya lebih dini.

Kita bisa melihat persoalannya. Apakah pasiennya kurang? Apakah ada kompetensi yang belum tercapai? Apakah supervisinya perlu diperkuat?

Itulah makna smart bagi kami. Bukan sekadar memiliki teknologi, tetapi mampu menggunakan data untuk memperbaiki pelayanan, pendidikan, dan tata kelola.

Kedelapan, Kemandirian Finansial yang Dikembalikan kepada Pendidikan. Keunggulan kedelapan mungkin menjadi salah satu hal yang membedakan model yang sedang kami bangun di RSGM Unhas.

Kami percaya bahwa rumah sakit memang harus memiliki kemampuan finansial yang baik. Tetapi pendapatan tidak boleh menjadi tujuan akhir.

Kekuatan finansial rumah sakit harus kembali memperkuat pendidikan.

Sejak 2020, RSGM Unhas menjalankan Program Subsidi Pendidikan Mahasiswa Profesi Dokter Gigi.

Nilainya berkembang cukup besar. Pada 2022, subsidi pendidikan profesi sekitar Rp631 juta. Tahun 2023 meningkat menjadi sekitar Rp7,01 miliar. Pada 2024 sekitar Rp12,04 miliar, dan pada 2025 mencapai sekitar Rp12,76 miliar.

Ini merupakan bentuk komitmen kami bahwa ketika rumah sakit semakin kuat, mahasiswa juga harus merasakan manfaatnya. Kita ingin mahasiswa lebih fokus mencapai kompetensi dan menyelesaikan pendidikan tepat waktu.

Hal yang sama kami lakukan untuk residen.

Sejak 2022, RSGM Unhas menjalankan Program Jasa Medis bagi Residen atau PPDGS. Residen yang telah melalui proses kredensialing dan memberikan pelayanan sesuai kompetensi serta kewenangannya memperoleh jasa medis.

Kita juga memberikan dukungan terhadap kegiatan pendidikan, operasional, seminar, pelatihan, dan workshop PPDGS.

Kami ingin membangun sistem pembiayaan pendidikan yang semakin resmi, transparan, dan akuntabel. Kita ingin mengurangi ketergantungan pada pembiayaan informal, mencegah pungutan tidak resmi, serta mengurangi risiko tekanan finansial dalam hubungan senior dan junior.

Pada akhirnya kita ingin residen belajar dalam lingkungan yang sehat, profesional, dan kondusif.

Di sinilah kami melihat sebuah siklus yang menarik.

Pelayanan yang bermutu membuat masyarakat percaya. Kepercayaan masyarakat meningkatkan pelayanan. Pelayanan yang tumbuh memperkuat pendapatan rumah sakit. Kekuatan finansial itu kemudian digunakan untuk memperkuat pendidikan, membantu mahasiswa, mendukung residen, memperbaiki fasilitas, dan meningkatkan SDM.

Pendidikan yang semakin baik menghasilkan SDM yang semakin kompeten. Dan SDM yang kompeten kembali membuat pelayanan semakin baik. Inilah yang kami sebut sebagai Educational Sustainability Model RSGM Unhas.

Kesembilan, Riset, Inovasi dan Pengabdian Masyarakat. Keunggulan kesembilan adalah posisi RSGM Unhas sebagai rumah sakit universitas. Rumah sakit pendidikan tidak boleh hanya menjadi tempat pelayanan. Ia juga harus menjadi tempat lahirnya pengetahuan.

Setiap hari kita berhadapan dengan berbagai kasus dan menghasilkan data klinik. Semua itu merupakan sumber pengetahuan yang sangat berharga.

Dosen, DPJP, residen, dan mahasiswa dapat berkolaborasi. Masalah yang ditemukan dalam pelayanan bisa dikembangkan menjadi penelitian. Hasil penelitian kemudian harus dikembalikan lagi untuk memperbaiki pelayanan.

Jadi penelitian jangan berhenti setelah artikelnya terbit di jurnal. Kalau hasil penelitian dapat memperbaiki prosedur, meningkatkan keselamatan pasien, atau melahirkan inovasi, maka manfaatnya harus kembali kepada pasien.

Hal yang sama berlaku untuk pengabdian masyarakat.

Kita menjalankan pelayanan kesehatan gigi bagi mahasiswa Unhas, anak-anak panti asuhan, kelompok lanjut usia, kegiatan promosi kesehatan, berbagai pelayanan sosial, sampai operasi celah bibir dan lelangit bagi masyarakat yang membutuhkan.

Upaya perbaikan ini juga mulai mendapatkan pengakuan. RSGM Unhas memperoleh penghargaan terkait Inovasi Program Unggulan Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri, apresiasi terhadap transformasi digital pelayanan BPJS, serta hasil rekredensialing BPJS dengan skor 95,49 dalam kategori Excellent.

Kami tentu bersyukur. Tetapi penghargaan bukan tujuan akhir. Bagi kami, penghargaan adalah tanda bahwa ada sesuatu yang sudah berjalan baik sekaligus pengingat bahwa masih banyak yang harus diperbaiki.

Kesepuluh, Menjadi Bagian dari Academic Health System Universitas Hasanuddin. Keunggulan kesepuluh sebenarnya menjadi payung bagi sembilan keunggulan sebelumnya.

RSGM Unhas tidak berdiri sendiri. Kita merupakan bagian dari ekosistem besar Universitas Hasanuddin.

Ada Universitas Hasanuddin, Fakultas Kedokteran Gigi, RSGM Unhas, rumah sakit jejaring, fasilitas kesehatan primer, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Bayangkan kalau seluruh unsur ini benar-benar terhubung. Pasien yang datang menghasilkan pengalaman pelayanan dan data klinik. Kasusnya menjadi sumber pendidikan. Datanya bisa menjadi sumber penelitian.

Penelitian menghasilkan pengetahuan dan inovasi. Inovasi kemudian dikembalikan untuk memperbaiki pelayanan.

Pada saat yang sama, pengabdian masyarakat memperluas akses pelayanan sekaligus memperkuat pendidikan. Digitalisasi menghubungkan proses dan data. Kemandirian finansial menjaga agar seluruh sistem dapat terus berjalan.

Itulah Academic Health System yang ingin kita bangun. Target akhirnya bukan hanya membuat RSGM Unhas menjadi rumah sakit yang semakin besar.

Kita ingin menghasilkan manfaat yang semakin besar. Pasien mendapatkan pelayanan yang aman dan bermutu. Mahasiswa mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan dapat menyelesaikan studinya tepat waktu.

Residen memperoleh pendidikan spesialis yang baik, lingkungan pendidikan yang sehat, dan dukungan finansial yang lebih baik. Dosen dan DPJP mempunyai ruang untuk mengembangkan pendidikan dan penelitian. Universitas mendapatkan ekosistem akademik yang semakin kuat. Dan masyarakat merasakan manfaat nyata dari kehadiran RSGM Unhas.

Terus Berbenah

Sepuluh keunggulan tadi bukan berarti kami ingin mengatakan bahwa RSGM Unhas sudah sempurna. Justru sebaliknya. Kami melihat semuanya sebagai bagian dari proses continuous improvement. Selalu ada yang harus diperbaiki.

Mutu dan keselamatan pasien harus terus ditingkatkan. Pendidikan berbasis kompetensi harus semakin kuat. Kesejahteraan peserta didik harus terus diperhatikan. Riset dan inovasi harus berkembang. Kualitas SDM dan fasilitas harus ditingkatkan. Integrasi digital harus dipercepat. Pengabdian masyarakat harus diperluas. Tata kelola dan kemandirian finansial juga harus semakin kuat.

Karena itu, bagi saya ukuran keberhasilan RSGM Unhas bukan semata-mata berapa banyak pasien yang datang, berapa besar pendapatan rumah sakit, berapa banyak fasilitas yang kita miliki, berapa jumlah peserta didik, atau berapa penghargaan yang kita terima.

Ukuran yang lebih penting adalah dampak. Apakah pasien mendapatkan pelayanan yang semakin aman dan bermutu? Apakah mahasiswa mendapatkan pendidikan yang baik dan bisa menyelesaikan pendidikan tepat waktu? 

Apakah residen tumbuh menjadi dokter spesialis yang kompeten dalam lingkungan pendidikan yang sehat? Apakah dosen dan DPJP mendapatkan ruang untuk mengembangkan pengetahuan dan inovasi? Dan pada akhirnya, apakah masyarakat merasakan manfaat keberadaan RSGM Unhas?

Kalau jawabannya iya, saya kira kita sedang bergerak ke arah yang benar.

Itulah perjalanan yang sedang kami tempuh, dari rumah sakit pendidikan menuju Smart Dental Teaching Hospital.

Kami ingin RSGM Unhas bukan hanya menjadi tempat mahasiswa belajar, tetapi menjadi organisasi yang juga terus belajar dan memperbaiki diri. Bukan hanya memberikan pelayanan, tetapi juga menghasilkan pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian.

Bukan hanya membangun kemandirian finansial, tetapi menggunakan kemandirian itu untuk memberikan manfaat kembali kepada pendidikan dan masyarakat.

RSGM Unhas terus berbenah, terus berinovasi, dan terus memberi dampak.


*Dr.drg.A.Tajrin,M.Kes.,SpBMM.,SubSp COM (K) adalah Direktur RSGM Unhas 2023-2027, Ketua Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia periode ( ARSGMPI 2026-2029), Sekjen Asosiasi Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri ( ARSPTN 2022-2027), Ketua Kompartemen Hukum dan Organisasi Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia (ARSPI 2026-2029)