Opini

Rusia dan Seni Bertahan di Tengah Sanksi Ekonomi Amerika Serikat

Seni Bertahan

Oleh : Achmad Firdaus Hasrullah*

Ketegangan antara Rusia dan Amerika Serikat telah lama melampaui batas-batas konvensional, memasuki medan perang yang lebih abstrak namun tak kalah sengit dalam ekonomi. Sejak aneksasi Krimea pada 2014, AS dan sekutunya secara bertahap mengencangkan jerat sanksi ekonomi terhadap Moskow. Di era Donald Trump sampai Joe Biden, tekanan ini semakin masif, dengan sanksi yang menyasar sektor finansial, energi, dan teknologi. Namun, Rusia tidak tinggal diam. Di bawah kepemimpinan Vladimir Putin, negara ini merancang strategi bertahan yang unik, menggabungkan ketahanan domestik, diplomasi pragmatis, dan langkah-langkah kreatif untuk mengurangi ketergantungan pada sistem global yang didominasi AS.

Langkah pertama Rusia adalah mengurangi kerentanannya terhadap tekanan eksternal. Sebagai negara yang ekonominya bertumpu pada ekspor energi, Rusia menyadari bahwa ketergantungan pada minyak dan gas adalah pedang bermata dua. Fluktuasi harga komoditas yang harus dihindari dan sanksi negara barat terhadap proyek-proyek energi Rusia—seperti Nord Stream 2—memaksa Moskow mencari pasar baru. Tiongkok, dengan permintaan energinya yang ‘masif’, menjadi penyelamat. Proyek pipa gas Power of Siberia dan kerja sama energi nuklir dengan Beijing bukan hanya tentang bisnis, tapi juga tentang membangun aliansi strategis yang melawan hegemoni dolar AS. Rusia juga mulai menjual minyak ke India dengan diskon yang cukup besar, mengubah tekanan sanksi menjadi peluang untuk memperluas jejaring dagang non-Barat.

Di sektor finansial, Rusia melakukan "de-dolarisasi" secara agresif. Moskow mengurangi kepemilikan dolar AS dalam cadangan devisanya, menggantikannya dengan emas,  dan Yuan. Transaksi bilateral dengan mitra seperti Tiongkok dan India kini lebih banyak menggunakan rubel atau mata uang lokal, memotong jalur dolar yang rentan disabotase oleh sanksi AS. Sistem pembayaran Mir (мир) alternatif pembayaran  domestik Rusia untuk Visa dan Mastercard—menjadi simbol kemandirian finansial. Meski belum sepenuhnya menggantikan sistem Barat, langkah ini menunjukkan tekad Rusia untuk tidak lagi menjadi "tawanan" infrastruktur keuangan global yang dikontrol AS.


>> Baca Selanjutnya