Kesehatan
News

Saat Stres Berujung Menggigit Kuku, Ini Cara Mengatasinya?

IIustrasi kebiasaan menggigit kuku jari. (foto: freepick)

UNHAS.TV - Tanpa cermin, tanpa peringatan, dan sering kali tanpa sadar, jari-jari itu bergerak ke mulut. Kuku digigit, kulit terkelupas, rasa perih menyusul belakangan.

Kebiasaan menggigit kuku—yang kerap dianggap sepele—ternyata menyimpan cerita tentang stres, kecemasan, dan ketegangan yang tak selalu terucap.

Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika, dr. Andi Nurhaerani Zainuddin, Sp.D.V.E., menyebut menggigit kuku sebagai respons tubuh yang muncul ketika seseorang berada dalam tekanan psikologis.

Stres menjadi pemicu utama, sementara kecemasan memperkuat kebiasaan itu hingga membentuk pola yang berulang.

“Ini kebiasaan yang bisa dilakukan secara sadar maupun tidak sadar,” kata Andi Nurhaerani. “Saat seseorang stres atau cemas, tubuh mencari cara untuk meredakan ketegangan. Salah satunya lewat menggigit kuku.”

Fenomena ini bukan sekadar urusan estetika. Kuku yang rusak dapat menjadi pintu masuk infeksi. Kulit di sekitar kuku yang terluka berisiko meradang.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini juga dapat memengaruhi kepercayaan diri. Namun akar persoalannya tidak berhenti di jari. Ia bersemayam di pikiran.

Menurut Andi, kebiasaan menggigit kuku sering kali bertahan karena pemicunya tidak pernah disentuh.

Stres dibiarkan menumpuk, kecemasan dipendam, sementara perilaku kompulsif terus berulang sebagai pelampiasan. “Kalau faktor pemicunya tidak diatasi, kebiasaan ini akan terus muncul,” ujarnya.

Dalam praktiknya, banyak orang mencoba menghentikan kebiasaan ini dengan cara instan—mengoleskan cairan pahit di kuku atau menutupnya dengan plester.



Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi di Klinik dan Apotek Saoraja Medika, dr Andi Nurhaerani Zainuddin SpDVE. (dok unhas tv)


Cara itu bisa membantu sementara, tetapi tidak menyentuh akar masalah. Tanpa pengelolaan stres yang baik, kebiasaan tersebut kerap kembali, bahkan lebih kuat.

Andi menyarankan pendekatan yang lebih menyeluruh. Langkah pertama adalah mengenali pemicu stres: apakah berasal dari pekerjaan, akademik, relasi sosial, atau tekanan pribadi.

Jika tingkat kecemasan dirasa berlebihan dan mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi menjadi penting. “Kita obati dulu faktor pemicu stres atau kecemasannya. Kalau itu membaik, kebiasaan yang mengikutinya juga bisa hilang,” katanya.

Selain itu, pengalihan aktivitas menjadi strategi sederhana namun efektif. Menggambar, menulis, meremas bola kecil, atau aktivitas lain yang melibatkan tangan dapat membantu menyalurkan ketegangan tanpa melukai diri sendiri. Kebiasaan baru ini berfungsi sebagai pengganti—memberi tubuh jalan keluar yang lebih aman.

Dalam perspektif kesehatan mental, menggigit kuku kerap dipandang sebagai sinyal. Ia menandai adanya tekanan yang belum selesai. Bukan sesuatu yang perlu dihakimi, tetapi dipahami. Kesadaran inilah yang menjadi titik awal perubahan.

Di tengah ritme hidup yang cepat dan tuntutan yang kian menumpuk, stres seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian.

Namun tubuh selalu punya cara untuk berbicara—kadang lewat nyeri kepala, kadang lewat sulit tidur, dan kadang lewat kebiasaan kecil seperti menggigit kuku.

Menghentikannya bukan sekadar soal menahan jari dari mulut, melainkan tentang memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas, mengenali beban, dan mencari bantuan ketika diperlukan. Karena kesehatan, seperti juga ketenangan, sering kali bermula dari hal-hal yang tampak sepele.

(Venny Septiani Semuel/ Unhas TV)