MAKASSAR, UNHAS.TV- Dalam uji coba terbaru,(10/2), pesawat supersonik eksperimental XB-1 berhasil melaju lebih cepat dari kecepatan suara tanpa menghasilkan ledakan suara (sonic boom) yang terdengar dari darat. Keberhasilan ini dicapai berkat fenomena fisika yang disebut Mach cutoff.
Mach Cutoff adalah fenomena dalam ilmu fisika, khususnya aerodinamika dan akustik, yang menjelaskan bagaimana gelombang kejut (shock waves) dari sebuah pesawat supersonik dapat dibiaskan atau dibelokkan ke atas oleh atmosfer, sehingga tidak mencapai permukaan bumi.
Menurut Boom Supersonic, perusahaan di balik XB-1, pesawat ini menembus kecepatan suara hingga tiga kali dalam penerbangan perdananya pada 28 Januari lalu. Namun, berbeda dengan pesawat supersonik lainnya, tidak ada ledakan suara yang sampai ke permukaan bumi.
Blake Scholl, pendiri dan CEO Boom Supersonic, menyatakan bahwa pencapaian ini menjadi bukti bahwa penerbangan supersonik bisa lebih ekonomis, berkelanjutan, dan tidak mengganggu orang-orang di darat.
Tanpa Ledakan Suara
Saat pesawat terbang dengan kecepatan tinggi, tekanan udara di sekitarnya berubah dan menciptakan gelombang suara. Jika kecepatan pesawat melampaui Mach 1 (sekitar 1.224 km/jam), gelombang suara ini akan bergabung dan membentuk gelombang kejut yang menyebar dari jalur penerbangan.
Inilah yang biasanya menyebabkan ledakan suara yang dapat terdengar keras hingga ke daratan, bahkan bisa membuat kaca jendela bergetar atau pecah.
Ledakan suara ini menjadi alasan utama mengapa pesawat legendaris Concorde dipensiunkan pada 2003 dan mengapa banyak negara melarang penerbangan supersonik komersial di atas daratan. Sejak itu, para insinyur terus berusaha mencari solusi agar pesawat dapat terbang lebih cepat dari suara tanpa menimbulkan gangguan di bumi.
Pada uji coba ini, XB-1 memanfaatkan fenomena Mach cutoff. Pada ketinggian tertentu, kecepatan suara lebih lambat dibandingkan di permukaan bumi. Akibatnya, jika pesawat menembus kecepatan suara di ketinggian tersebut, gelombang kejutnya akan terdorong ke atas dan tidak mencapai daratan. Namun, kondisi atmosfer seperti suhu dan arah angin juga berpengaruh, sehingga diperlukan ketinggian dan kecepatan optimal agar efek ini terjadi.