Internasional

Selat Hormuz Memanas, Iran Disebut Tebar Ranjau dengan GPS dan Bidik Jalur Internet Teluk Regional

PATROLI - Angkatan Laut dari Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC saat berpatroli di Selat Hormuz. (The Sun/EPA)

IRAN, UNHAS.TV - Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah muncul laporan bahwa Iran diduga telah menebar ranjau laut berpemandu GPS di jalur pelayaran paling vital di Teluk.

Pada saat yang sama, Teheran juga disebut mempertimbangkan pemutusan kabel internet bawah laut yang menopang sebagian besar konektivitas digital negara-negara Teluk.

Dua ancaman itu, jika benar dijalankan, bukan hanya mengganggu pelayaran energi, tetapi juga bisa memukul layanan internet, perbankan, dan komputasi awan di kawasan.

Mengutip keterangan pejabat Amerika Serikat kepada anggota parlemen, laporan itu menyebut sedikitnya 20 ranjau kemungkinan telah ditempatkan di perairan strategis tersebut. Sebagian di antaranya disebut dapat digerakkan dari jarak jauh dengan bantuan teknologi GPS.

Sumber di Pentagon bahkan memperkirakan proses penyisiran ranjau bisa memakan waktu hingga enam bulan, dan operasi pembersihan kemungkinan baru dilakukan setelah perang Amerika Serikat dengan Iran berakhir.

Ancaman itu dinilai cukup untuk mengguncang kepercayaan pelaku pelayaran, bahkan tanpa perlu menutup selat sepenuhnya.

Richard Nephew, mantan direktur urusan Iran di Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat, mengatakan risiko ranjau saja sudah cukup untuk membuat operator kapal dan perusahaan pelayaran berpikir ulang melewati jalur tersebut.

Menurut dia, gangguan tak harus total untuk menimbulkan efek besar, sebab penutupan sebagian pada selat dua lajur itu saja dapat menimbulkan dampak berantai terhadap perdagangan global.

Kekhawatiran bertambah karena Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC juga disebut menilai kabel internet bawah laut di kawasan itu sebagai titik tekan strategis.

Terdapat tujuh kabel bawah laut yang membentang di bawah Selat Hormuz, dan negara-negara Teluk disebut bergantung pada jalur itu untuk lebih dari 90 persen layanan internet, perbankan, dan cloud mereka.

Sebaliknya, Iran dilaporkan hanya menggantungkan kurang dari 40 persen konektivitasnya pada kabel-kabel tersebut karena masih memiliki jalur cadangan melalui Turki. Jika kabel-kabel itu diputus, negara-negara Teluk akan jauh lebih rentan dibanding Iran sendiri.

Laporan itu juga menantang klaim politik dari Washington yang menyebut kemampuan militer Iran telah dilumpuhkan.

Meski Presiden Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dikatakan menganggap militer Iran telah terpukul berat dalam operasi yang disebut “Epic Fury”, penilaian intelijen Amerika justru menggambarkan situasi yang lebih rumit.

Separuh Rudal Iran Masih Utuh

>> Baca Selanjutnya