MAKASSAR, UNHAS.TV - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi peringatan keras kepada Pemerintah Iran agar tidak membunuh para pemrotes. Jika peringatan itu tidak diindahkan, maka Trump berjanji akan mengirimkan pasukan ke Iran.
Melalui akun media sosial, Trump menulis peringatan keras itu, "Kami sudah bidik, kami isi, dan siap berangkat."
Penasiat senior Pemimpin Agung Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, membalas ancaman itu dengan ancaman yang tidak kalah serius. "Trump harus hati-hati. Jika dia ikut terlibat maka akan ada kekacauan besar di Timur Tengah," ujar Ali Larijani.
Hingga saat ini, sedikitnya delapan orang terbunuh setelah unjuk rasa besar-besaran terjadi di Iran selama sepekan ini yang dipicu oleh perlambatan perekonomian.
Dua orang terbunuh ketika pengunjuk rasa bentrok dengan aparat keanaman di selatan Kota Lordegan. Kedua korban, menurut laporan kelompok hak asasi manusia Hengaw, bernama Ahmad Jalil dan Sajjad Valamanesh.
Tiga terbunuh di Azna dan wilayah Kouhdasht namun tidak diketahui apakah korban merupakan bagian dari tindakan unjuk rasa. Seorang lain dikabarkan tewas di pusat Iran, dan lainnya di wilayah Marvdasht.
Salah satu pemicu unjuk rasa tersebut yakni melemahnya nilai tukar mata uang Rial terhadap Dollar AS. Ini yang membuat banyak pedagang dan pengusaha yang jengkel dengan keadaan itu lalu turun ke jalan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan akan mendengarkan keluh kesar warganya untuk menghindari dampak buruk dari unjuk rasa itu. Adapun Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahedi Azad mengingatkan siapa saja tidak boleh mengganggu ketertiban umum karena akan dibalas dengan tindakan tegas.(*)
undefined








