MAKASSAR, UNHAS.TV - Ramainya kasus dugaan riset palsu yang melibatkan alumni perguruan tinggi Indonesia di Denmark kembali menyita perhatian publik.
Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Universitas Hasanuddin menegaskan bahwa integritas akademik merupakan prinsip utama yang tidak bisa ditawar dalam dunia penelitian.
Kasus dugaan pemalsuan data penelitian kembali mencuat dan menjadi sorotan luas. Fenomena ini tidak hanya mencoreng nama individu, tetapi juga berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap dunia akademik secara keseluruhan.
Guru Besar dan Ketua Departemen Farmasi Unhas, Prof Firzan Nainu SSi MBiomedSc PhD Apt menilai bahwa integritas akademik adalah fondasi utama dalam setiap penelitian.
Tanpa kejujuran dan etika, validitas data menjadi diragukan dan berdampak luas pada perkembangan ilmu pengetahuan.
Dalam keterangannya, Prof. Firzan menyayangkan kasus tersebut terkuak dan menjadi viral di media sosial. Ia menegaskan bahwa integritas merupakan hal yang tidak bisa ditawar bagi seorang peneliti.
“Jadi ini integritas akademik. Memang kita sangat menyayangkan kasus ini. Dan sepertinya bukan seorang tapi ada sindikat, banyak beberapa orang yang terlibat," ujarnya.
“Integritas akademik tidak bisa ditawar. Saya kira semua orang akan setuju bahwa integritas akademik itu tidak bisa ditawar. Itu harga mati bagi peneliti,” ujarnya.
Menurut dia, kepercayaan terhadap data ilmiah runtuh ketika seorang peneliti terbukti memalsukan temuan. Dampaknya tidak berhenti pada satu karya, tetapi menjalar ke seluruh data yang pernah dihasilkan.
“Tanpa integritas, bagaimana kita bisa percaya data orang lain? Kalau satu data palsu diakui, data lain ikut dipertanyakan,” katanya. Ia meminta kampus dan lembaga riset memperketat pengawasan.
Ia juga menambahkan bahwa kasus serupa bukan pertama kali terjadi di dunia riset. Prof. Firzan mencontohkan skandal internasional yang melibatkan peneliti Jepang, Haruko Obakata.
Kasus peneliti Jepang itu sempat menghebohkan dunia ilmiah setelah terbukti memalsukan data penelitian terkait stem cell yang dipublikasikan di jurnal bergengsi.
Menurutnya, kejadian seperti ini memang kerap berulang dan menjadi ancaman serius bagi kredibilitas dunia penelitian. Oleh karena itu, diperlukan komitmen kuat dari seluruh peneliti untuk menjunjung tinggi nilai kejujuran dan etika akademik.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pelaku pemalsuan data harus diberikan sanksi tegas, mulai dari pencabutan hak akademik, pengembalian dana penelitian, hingga larangan berkarier di dunia akademik.
Langkah tegas tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik serta memastikan bahwa penelitian yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)
Ketua Departemen Farmasi Unhas, Prof Firzan Nainu SSi MBiomedSc PhD Apt. (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)


 HSE-300x169.webp)





