Budaya

Temuan Terbaru: Lukisan Cadas Tertua di Dunia Ada di Muna, Maros Tersingkir

undefined

MAKASSAR, UNHAS.TV - Empat peneliti arkeologi menemukan gambar tapak tangan di dinding dua (lukisan cadas) yang diperkirakan sudah berusia sedikitnya 67.800 tahun dan menjadi lukisan cadas tertua di dunia.

Empat peneliti yakni Maxime Aubert, Budianto Hakim, Adam Brumm, dan Adhi Agus Oktaviana menemukan lukisan cadas itu di Goa Metaduno di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. 

Temuan ini menyingkirkan lukisan cadas di Leang Karamgpuang, Desa Samangki, Kabupaten Maros, yang lebih dulu diklaim sebagai tertua karena diperkirakan berusia setidaknya 51.200 tahun.

Uniknya, temuan di Maros dan di Muna berasal dari hasil penelitian dari empat orang itu. Mereka merupakan bagian dari kerja sama penelitian yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University, dan Southern Cross University.


MUNA - Pintu masuk ke Goa Metaduno di Muna. Foto: Adhi Agus Oktaviana/Griffith University


Gambar berupa garis luar sebuah telapak tangan yang dibuat dengan pigmen merah di dinding gua di Muna ini mirip dengan lukisan cadas di Leang Jarie di Maros. Namun yang membuat temuan di Muna ini lebih fantastis karena selain lukisan tapak tangan juga ditemukan lukisan berbentuk hewan kuda, kijang, dan babi namun dengan usia yang "relatif lebih muda".

Lukisan tangan di Muna bersama dengan lukisan-lukisan cadas lainnya di Pulau Sulawesi, kemungkinan dibuat oleh manusia purba yang merupakan bagian dari populasi yang menyebar ke benua yang hilang yang dikenal sebagai Sahul. Sahul pada dulu kala merupakan wilayah yang meliputi Australia, Papua Nugini, dan Papua.

"Lukisan itu dibuat dengan oker. Mereka meletakkan tangan mereka di sana, lalu menyemprotkan pigmen. Kita tidak dapat memastikan teknik apa yang mereka gunakan. Mereka mungkin memasukkan pigmen ke dalam mulut mereka dan menyemprotkannya. Mereka mungkin menggunakan semacam alat," kata Maxime Aubert, seorang arkeolog dan ahli geokimia dari Universitas Griffith di Australia. 

Aubert, yang merupakan penulis senior dari studi tentang temuan yang diterbitkan pada hari Rabu di jurnal Nature, menggambarkan penemuan itu sebagai "menegangkan dan mengagumkan."

Usia minimum dari lukisan tapak tangan ini lebih tua daripada lusinan lukisan lainnya yang juga ditemukan di gua-gua batu kapur di wilayah tersebut. Contoh lain adalah adegan yang melibatkan sosok sebagian manusia dan sebagian hewan yang sedang berburu babi berkutil, bukti tertua mengenai bagaimana manusia prasejarah bercerita melalui seni.

Aubert menegaskan bahwa meskipun ada klaim bahwa tulisan cadas tertua ada di Afrika Selatan yang berusia 73 ribu tahun namun ia menyebutkan temuan itu tidak bisa disebut sebagai karya yang disengaja karena bentuknya sangat abstrak dan sulit dipercaya sebagai karya seni.

Paull Pettitt, seorang professor arkeologi palaeolithic yang mengkaji seni prasejarah dari Universitas Durham, Inggris, sangat yakin bahwa temuan di Muna sangat besar kemungkinannya lebih tua dari hasil penelitian. 

Hal menarik dari temuan ini adalah menimbulkan peluang baru untuk memunculkan penelitian-penelitian yang lebih rumit dan menantang. Misalnya, bagaimana persebaran orang dari Pulau Sulawesi ke Sahul (Australia dan Papua).

Beberapa ahli menduga sekelompok manusia tiba di Sahul sekitar 50 ribu tahun lalu, lainnya menduga sekitar 65 ribu tahun lalu. Mereka juga berselisih mengenai rute yang ditempuh.

Kuat dugaan bahwa para leluhur orang pertama Australia punya hubungan dekat dengan orang Sulawesi. Mereka ini kerap melakukan perjalanan jauh yang sangat menantang untuk bisa saling terhubung. 

Sebagian ahli mengatakan, ada kemungkinan Pulau Sulawesi adalah pulau persinggahan dari rute perjalanan dari Kepualuan Sunda (mencakup Kalimantan) menuju Sahul (Australia dan Papua New Guinea). 

Perjalanan mereka tidak "seseram" saat ini karena pada saat itu masih Era Es sehingga laut tidak sangat dalam dan perjalanan masih bisa dilakukan dengan perahu-perahu kecil.(*)