MAKASSAR, UNHAS.TV - Tim Mannennungeng dari Unit Kegiatan Mahasiswa Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (UKM KPI) Universitas Hasanuddin (Unhas) lolos sebagai penerima pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan atau PPK Ormawa 2026.
Tim ini mengusung inovasi sistem irigasi pintar berbasis Internet of Things atau IoT untuk pertanian di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Program pendanaan PPK Ormawa 2026 diumumkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Tim Mannennungeng terpilih melalui program pengabdian masyarakat yang menyasar penguatan pertanian desa berbasis teknologi tepat guna.
Desa Kajaolaliddong dipilih karena memiliki potensi pertanian besar. Sekitar 50 persen wilayah desa tersebut merupakan lahan persawahan.
Namun para petani masih menghadapi persoalan klasik, terutama pengelolaan air irigasi yang bergantung pada musim dan pemantauan manual.
Untuk menjawab masalah itu, Tim Mannennungeng mengembangkan sistem irigasi pintar berbasis IoT. Sistem tersebut dilengkapi sensor pemantau kelembapan tanah secara real-time.
Data dari sensor dapat diakses petani melalui laman web, sehingga kondisi air di sawah bisa dipantau tanpa harus selalu datang langsung ke lahan.
Project Manager Tim Mannennungeng, Rifqi Alan Maulana, mengatakan teknologi itu membantu petani mengetahui kapan air harus ditambah atau dikurangi.
“Ketika airnya berlebih, sistem akan memberi tahu petani bahwa irigasinya bisa ditutup, jadi tidak ada air yang berlebihan. Ketika air surut, petani juga diberi tahu bahwa padi membutuhkan air,” kata Rifqi.
Menurut dia, sistem ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan petani pada pemantauan manual. Petani tidak lagi harus berkali-kali datang ke sawah hanya untuk memastikan lahan tidak kekeringan atau kelebihan air.
.webp)
HIBAH PENELITIAN - Tim UKM KPI Unhas memenangi salah satu hibah penelitian dengan menghadirkan solusi pertanian cerdas di Kabupaten Bone. (Tim KPI Unhas)
Selain irigasi pintar, tim ini juga menjalankan program pendukung. Di antaranya pengolahan limbah organik menjadi pupuk, pengendalian hama, serta penerapan pola tanam jajar legowo. Seluruh kegiatan itu dikembangkan dengan pendekatan circular farming.
Program tersebut kemudian diintegrasikan dalam kurikulum Sikola P4S Lamelon. Tujuannya agar masyarakat Desa Kajaolaliddong dapat mengelola inovasi secara mandiri dan menjadikannya bagian dari inventaris desa.
Public Relations Tim Mannennungeng, Auliyah Azzahra, mengatakan timnya berharap teknologi ini tidak berhenti sebagai proyek mahasiswa. Ia ingin petani dapat menerapkan sistem circular farming dan IoT secara berkelanjutan.
“Kami berharap Desa Kajaolaliddong menjadi desa percontohan pertama di Indonesia sebagai desa pertanian cerdas,” ujar Auliyah.
Inovasi tim Mannennungeng ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendorong modernisasi pertanian desa.
Melalui teknologi sederhana yang dapat dioperasikan masyarakat, program tersebut diharapkan membantu efisiensi air, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat ketahanan pangan dari tingkat desa.
(Radina Sinja Putri / Tri Novianti Utami Putri / Kautsar Ardiansyah R / Unhas TV)
IRIGASI PINTAR - Project Manager Tim Mannennungeng, Rifqi Alan Maulana (kanan) bersama Public Relations Auliyah Azzahra menjelaskan program Tim Mannennungeng menghadirkan solusi pertanian cerdas dengan irigasi pintar di Bone. (Dok Tim KPI Unhas)
-300x166.webp)







