MAROS, UNHAS.TV - Tradisi pesta panen Mappadendang masih bertahan di Desa Allaere, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Pada Jumat (3/4/2026) lalu, warga kembali menggelar prosesi adat yang diwariskan turun-temurun itu sebagai ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus ikhtiar menjaga jejak budaya leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.
Selama dua hari dua malam, warga bergantian mengikuti prosesi mappadekko, yakni seni menumbuk padi menggunakan alu dan lesung kayu.
Bunyi ketukan yang ritmis memecah suasana desa, menjadi penanda bahwa pesta panen bukan sekadar perayaan hasil sawah, melainkan juga ruang pertemuan antara adat, kerja kolektif, dan pendidikan budaya bagi generasi muda.
Prosesi itu berlangsung dengan aturan adat yang ketat. Para peserta, yang mayoritas remaja putri, berdiri berjam-jam sambil menjaga irama ketukan alu agar tetap serempak.
Selama giliran mereka berlangsung, peserta tidak diperkenankan berbicara dan harus tetap berada di tempat sampai digantikan oleh peserta lain yang telah ditentukan tokoh adat.
Bagi warga, Mappadendang bukan tontonan biasa. Tradisi ini diperlakukan sebagai prosesi sakral yang sarat makna.
Ketekunan peserta menjaga ritme dan kepatuhan terhadap aturan adat menjadi bagian dari penghormatan terhadap tradisi yang telah hidup lama di tengah masyarakat agraris Bugis-Makassar.
Salah seorang peserta mappadekko, Sumainah, mengaku lelah mengikuti prosesi itu. Namun siswi kelas III SMP tersebut mengatakan tetap senang karena bisa ambil bagian dalam pelestarian budaya desanya.
Sumainah telah mengikuti tradisi itu setiap tahun setelah dipilih untuk terlibat dalam prosesi. “Sudah empat jam berdiri. Capek. Tapi mau karena untuk melestarikan budaya. Senang,” kata Sumainah.
Kepala Desa Allaere, Haris, mengatakan puncak kegiatan Mappadendang berlangsung selama dua hari, bahkan terus berjalan hingga pagi karena peserta tampil secara bergantian.
Menurut dia, pelibatan anak-anak muda sengaja dilakukan agar tradisi adat tetap hidup dan tidak terputus di generasi berikutnya.
“Puncaknya ini selama dua hari, 24 jam sampai pagi. Mereka bergantian. Yang melatarbelakangi ini untuk pelestarian budaya supaya adat kami tidak hilang. Kami gunakan generasi muda sekaligus mendidik mereka,” ujar Haris.
Selain prosesi menumbuk padi, warga juga menyajikan makanan khas bernama ase lolo untuk dinikmati bersama. Hidangan itu terbuat dari beras ketan muda, kelapa, dan gula merah. Kehadiran ase lolo melengkapi suasana pesta panen yang kental dengan nuansa kebersamaan.
Seluruh rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama dan tokoh adat setempat.
Doa itu menjadi penegas bahwa Mappadendang tidak hanya merawat ingatan kolektif warga terhadap tradisi panen, tetapi juga menjaga hubungan antara manusia, alam, dan nilai-nilai yang diwariskan leluhur.
Di tengah perubahan zaman, Desa Allaere menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu kalah oleh modernitas. Selama masih dirawat oleh warganya, Mappadendang akan tetap hidup sebagai identitas budaya yang menandai ingatan dan kebanggaan sebuah kampung.
(Muh Nur Alim / Maros / Unhas TV)
TRADISI MAPPADENDANG - Sejumlah remaja putri mengikuti tradisi pesta panen Mappadendang di Desa Allaere, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Jumat (3/4/2026) lalu. (Unhas TV / Muh Nur Alim)





 Makassar-300x192.webp)


