LONDON, UNHAS.TV – Tak ada yang lebih sakral bagi publik sepak bola Inggris selain warna putih seragam tim nasional mereka dan corak merah Salib St. George.
Setelah sempat terperosok dalam polemik "estetika progresif" yang memicu amarah nasional pada 2024, raksasa perlengkapan olahraga Nike tampaknya memilih jalan rekonsiliasi.
Bocoran seragam The Three Lions untuk Piala Dunia 2026 yang beredar di jagat maya menunjukkan satu pesan kuat: kembali ke khitah.
Laman spesialis perlengkapan sepak bola, Footy Headlines, mengunggah gambar-gambar yang diklaim sebagai jirah tempur Harry Kane dan kawan-kawan untuk hajatan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mendatang.
Berbeda dengan pendahulunya yang eksentrik, desain kali ini terlihat lebih tenang, minimalis, namun sarat akan simbol identitas.
Warna putih bersih tetap menjadi fondasi utama. Namun, perhatian tertuju pada detail di kerah dan lengan.
Nike menyematkan trim biru tua (navy) yang dipadukan dengan aksen merah-putih yang rumit—sebuah penghormatan visual yang jelas terhadap bendera St. George.
Tak ada lagi eksperimen warna ungu atau biru muda pada salib di tengkuk yang sebelumnya dicemooh sebagai desain "woke" oleh para kritikus konservatif.
Sentuhan paling sentimentil justru tersembunyi di bagian dalam kerah. Alih-alih label merek yang kaku, Nike membubuhkan baris lirik dari lagu kebangsaan Inggris yakni "Happy and Glorious".
Ini seolah menjadi doa bagi ambisi Inggris yang telah puasa gelar mayor selama enam dekade. Di atas logo ikonik tiga singa, satu bintang emas tetap bertengger tegak—pengingat abadi akan kejayaan tahun 1966.
Keputusan Nike untuk "bermain aman" ini bukanlah tanpa alasan. Kilas balik ke tahun 2024, saat seragam Euro dirilis, Inggris dilanda badai protes.
Saat itu, Nike mengubah warna Salib St. George di bagian belakang kerah dengan gradasi ungu dan biru tua, menyebutnya sebagai "versi modern dari desain klasik".
Namun, publik Inggris, termasuk para petinggi politik, tidak melihatnya sebagai modernisasi, melainkan penodaan terhadap simbol nasional.
Perdana Menteri, Rishi Sunak, sampai angkat bicara. "Terkait bendera nasional, kita tidak boleh mengotak-atiknya karena itu adalah sumber kebanggaan dan identitas kita," ujar Sunak pedas.
Senada dengan itu, Keir Starmer juga mendesak Nike untuk meninjau ulang desain tersebut karena bendera dianggap sebagai pemersatu yang tak butuh "sentuhan baru".
Meski kaus utama tampak lebih konservatif, Nike tetap memberikan ruang untuk eksperimen pada seragam pemanasan (warm-up kit). Kali ini, mereka berkolaborasi dengan label streetwear ternama, Palace.
Hasilnya cukup radikal: sebuah kaus dengan motif jendela kaca patri (stained-glass window) bergaya gotik yang didominasi warna hitam, putih, dan abu-abu.
Gambar sosok yang menyerupai santo terpampang di bagian depan, memberikan kesan dramatis yang jauh dari kesan seragam olahraga konvensional.
Untuk kelengkapan di lapangan, tim asuhan Thomas Tuchel ini kemungkinan besar akan mengenakan setelan serba putih, dari kaus kaki hingga celana. Namun, pilihan celana biru tua tetap disediakan sebagai alternatif regulasi turnamen.
Bocoran ini muncul beberapa bulan sebelum peluncuran resmi. Bagi publik Inggris, kembalinya warna merah murni pada detail bendera bukan sekadar urusan fesyen.
Ini adalah soal memulihkan hubungan antara produsen komersial dengan nilai-nilai tradisional yang dipegang teguh oleh para pendukung di tribun.
Setelah segala kegaduhan soal "salib pelangi", Nike tampaknya sadar bahwa di Piala Dunia, tradisi adalah pemenang mutlak. (*)
Dua pemain Timnas Inggris Jude Bellingham dan Harry Kane mengenakan jersey untuk Piala Dunia 2026. Gambar lainnya jersey Timnas Inggris untuk latihan. (foto: the sun)




-300x169.webp)


