MAKASSAR, UNHAS.TV - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang hampir setiap tahun terjadi di Indonesia, khususnya di Sumatra dan Kalimantan, menghasilkan kabut asap tebal yang mengandung berbagai polutan berbahaya.
Asap tersebut kini bahkan sudah menyebar ke sejumlah wilayah Sulawesi Selatan sejak sepekan lalu, khususnya di Makassar. Asap ini tidak hanya mengganggu kegiatan sehari-hari, tetapi juga menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Asap yang menyebar melalui udara ini mengangkut sejumlah partikel halus PM2.5 (berukuran ≤2,5 mikrometer), karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO₂), serta senyawa organik beracun seperti polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH), aldehid, benzena, dan dioksin. JIka komponen utama itu terhirup jauh ke dalam tubuh manusia, maka ada risiko kesehatan yang harus ditanggung dalam jangka pendek hingga jangka panjang.
"Asap Karhutla mengandung partikel halus PM.25, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun. Paparannya dapat menyebabkan ISPA, iritasi mata/kulit, perburukan Asma dan PPOK, serta peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke," demikian penjelasan Kemenkes melalui akun Instagram resmi, Rabu (14/10/2026).
Adapun gangguan tersebut yakni
1. Gangguan Saluran Pernapasan (Paling Umum)
Paparan asap paling sering menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Gejalanya meliputi batuk, sesak napas, pilek, radang tenggorokan, dan produksi dahak berlebih. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan ratusan ribu kasus ISPA di wilayah terdampak setiap musim karhutla, dengan proporsi signifikan pada anak-anak di bawah 5 tahun.
Selain itu, asap dapat:
- Memicu atau memperburuk asma.
- Memperberat Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).
- Meningkatkan risiko bronkitis dan pneumonia karena melemahnya sistem pertahanan saluran napas, sehingga kuman dan virus lebih mudah masuk.
- Partikel PM2.5 menembus hingga alveolus paru-paru, memicu peradangan, iritasi, dan penurunan fungsi paru.
2. Iritasi Mata, Hidung, Tenggorokan, dan Kulit
Dampak langsung yang paling cepat dirasakan adalah:
- Mata perih, merah, berair, atau gatal.
- Hidung berair dan tenggorokan kering/gatal.
- Iritasi kulit, termasuk memperburuk kondisi seperti eksim.
- Sakit kepala dan pusing juga sering muncul akibat berkurangnya asupan oksigen dan paparan karbon monoksida.
3. Gangguan Kardiovaskular (Jantung dan Pembuluh Darah)
Asap karhutla tidak hanya menyerang paru-paru. Partikel halus dapat masuk ke aliran darah dan memicu peradangan sistemik. Kelompok lansia sangat rentan terhadap dampak ini. Adapun akibatnya:
- Peningkatan tekanan darah (hipertensi).
- Risiko lebih tinggi mengalami serangan jantung, stroke, dan gagal jantung.
- Perburukan kondisi pada penderita penyakit jantung yang sudah ada.
4. Dampak Jangka Panjang
Paparan berulang atau berkepanjangan dapat menimbulkan efek kronis yang lebih serius:
- Penurunan fungsi paru permanen dan hiperaktivitas saluran pernapasan.
- Peningkatan risiko penyakit paru kronis, fibrosis paru, dan kanker paru (karena senyawa karsinogenik seperti PAH dan dioksin).
- Risiko kanker kulit dan masalah kesehatan lain yang masih diteliti.
- Kematian prematur akibat komplikasi pernapasan dan kardiovaskular. Studi sebelumnya memperkirakan puluhan ribu hingga ratusan ribu kematian prematur terkait asap karhutla di Asia Tenggara pada tahun-tahun kebakaran parah.
- Pada ibu hamil, paparan asap berisiko menyebabkan berat badan lahir rendah (BBLR) dan kelahiran prematur. Anak-anak yang terpapar berulang kali dapat mengalami gangguan perkembangan paru dan penurunan kapasitas paru di kemudian hari.
Kelompok yang Paling Rentan
Tidak semua orang terdampak sama. Yang paling berisiko adalah anak-anak dan balita (paru-paru masih berkembang), lansia, ibu hamil, penderita asma, PPOK, penyakit jantung, atau diabetes, serta pekerja di luar ruangan.
Cara Melindungi Diri
- Batasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara buruk (pantau ISPU).
- Gunakan masker N95 atau KN95.
- Tutup jendela dan pintu, gunakan air purifier jika memungkinkan.
- Minum air yang cukup dan jaga daya tahan tubuh.
- Segera ke fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada, atau gejala yang memburuk.
Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, melainkan krisis kesehatan masyarakat. Pencegahan kebakaran melalui pengelolaan lahan yang berkelanjutan tetap menjadi solusi terbaik untuk melindungi kesehatan jutaan warga Indonesia. Paparan asap yang berulang setiap tahun meninggalkan jejak kesehatan yang sulit dipulihkan, sehingga kesadaran dan langkah mitigasi sejak dini sangat penting.(*)
Kebakaran hutan. Ilustrasi: Grok


-300x200.webp)
-300x200.webp)




