Sport

10 Tahun Torehkan 20 Gelar, Guardiola Isyaratkan Bertahan di Manchester City Usai Juara Piala FA



FA CUP - Pep Guardiola angkat tropi FA Cup ketujuh selama 10 tahun di Man City. Dan tropi ke-20 untuk City. (The Sun/Getty)


Meski baru memenangi Piala FA, Guardiola menegaskan tidak akan ada perayaan panjang di ruang ganti. City harus segera mengalihkan perhatian ke pertandingan berikutnya melawan Bournemouth pada Selasa. Ia bahkan menyatakan para pemain tidak akan mendapat kesempatan bersantai dengan minuman perayaan.

“Tidak satu bir pun,” kata Guardiola ketika ditanya apakah skuad City akan merayakan keberhasilan itu. “Anda tahu, Bournemouth tandang pada Selasa. Itu akan lebih sulit. Kami akan mencoba pergi ke sana dan mendapatkan hasil.”

Komentar itu menunjukkan fokus City terhadap jadwal padat. Guardiola menilai timnya tidak punya waktu untuk larut dalam euforia karena setiap pertandingan masih menentukan arah musim mereka.

Di tengah sinyal bertahannya Guardiola, John Stones justru bersiap menutup perjalanannya bersama Manchester City. Bek asal Inggris itu diperkirakan akan memainkan laga terakhirnya untuk City saat menghadapi Brentford pada akhir pekan depan.

Stones telah memperkuat City selama satu dekade. Selama periode itu, ia mengoleksi 17 gelar mayor dan menjadi bagian penting dari era dominasi klub tersebut. Namun, dalam final Piala FA melawan Chelsea, Stones hanya duduk di bangku cadangan dan tidak dimainkan.

Keputusan itu membuat Stones harus menyaksikan seluruh pertandingan dari tepi lapangan. Ia mengaku bangga melihat City kembali juara, tetapi tidak menyembunyikan kekecewaan karena tidak terlibat langsung dalam pertandingan final.

“Saya ingin terlibat dalam pertandingan,” kata Stones kepada BBC One. “Sebagai pemain, itu sulit diterima, terutama ketika banyak dari kami bermain di semifinal. Tapi itu bagian dari beradaptasi dan tetap mendukung tim.”

Stones mengatakan pertandingan melawan Chelsea bukan laga terbaik City, terutama dari sisi peluang dan permainan pada babak pertama. Namun, ia memuji daya juang rekan-rekannya yang mampu bertahan dan memastikan kemenangan.

“Bukan pertandingan terbaik hari ini dalam hal peluang atau bagaimana kami bermain pada babak pertama, tapi bertahan dan berjuang seperti yang kami lakukan itu luar biasa,” ujar Stones.

Ia juga tersentuh oleh sambutan pendukung City setelah pertandingan. Stones mengatakan atmosfer di Wembley dan dukungan yang diberikan kepadanya menjadi momen emosional menjelang akhir masa baktinya bersama klub.

“Saya tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Sepuluh tahun lalu, saya tidak pernah membayangkan hal seperti ini terjadi. Saya punya lagu sendiri dan begitu dicintai. Itu sangat luar biasa. Sangat spesial,” katanya.

Stones juga merefleksikan musim yang sulit. Ia sempat banyak bermain pada paruh pertama musim, tetapi cedera kecil pada Desember membuat menit bermainnya berkurang setelah kembali pulih.

“Ini musim yang sulit. Pada paruh pertama musim, saya cukup banyak bermain dan terlibat, tapi saya mengalami cedera kecil pada Desember dan sudah kembali sejak itu. Ini sepak bola. Saya tidak benar-benar punya jawaban mengapa saya tidak bermain,” ujar Stones.

Kemenangan Piala FA ini memperpanjang dominasi Manchester City di kompetisi domestik. Namun, di balik tambahan trofi itu, City juga memasuki fase perubahan.

Guardiola masih menimbang motivasi dan tuntutan kompetisi, sementara pemain senior seperti Stones mulai meninggalkan era kejayaan yang ikut mereka bangun. (*)