
Namun ia terus maju. Ia mengajar empat mata kuliah: Solar Energy, Resources Estimation, Ventilation Engineering, dan Natural Resources. Ia meneliti pasar energy storage, menerbitkan tiga artikel Q1, dan memenangkan penghargaan sebagai Best Presenter dan Best Poster.
Ia juga aktif di komunitas diaspora: Vice President PPI Australia, Board of Advisor PPI Australia, hingga Lurah LPDP Monash. Di ruang-ruang diskusi itu, ia berdialog dengan presiden, menteri, gubernur, ilmuwan, hingga aktivis lintas negara. Semua pengalaman itu menempel dalam cara pandangnya tentang energi dan pembangunan.
Salah satu momen yang ia kenang adalah ketika bertemu Kepala BKPM Bahlil Lahadalia (kini Menteri ESDM) di Melbourne. Ahmad mengusulkan konsep dana abadi tambang, yakni mekanisme yang dapat digunakan untuk energi hijau dan pembangunan sosial masyarakat lingkar tambang.
“Tambang itu dekat dengan hidup kita,” tuturnya. “Pertanyaannya selalu: apakah kita mengelolanya dengan benar?”
Ketika tesisnya rampung dan ijazah dikeluarkan pada Mei 2025, Ahmad tercatat sebagai mahasiswa pertama yang lulus dari kelompok risetnya. Ia kemudian menutup perjalanannya dengan mengikuti Program Profesi Insinyur di Unhas dan menerima gelar IPU, peringkat tertinggi profesi insinyur Indonesia.
Ia tertawa ketika membahasnya: “Buat manjang-manjangin nama,” katanya.
Namun di balik candanya, ia menyebut Aristoteles: ethos, logos, pathos. “Gelar menambah ethos,” ujarnya sambil tersenyum. “Mudah-mudahan kredibilitas dompet juga ikut bertambah.”
Kembali ke Ruang Pelayanan Publik
Kini Ahmad berdiri di ujung baru dari perjalanan panjang itu. Setelah pulang dari Australia, ia dipercaya memegang jabatan penting sebagai Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan.
Posisi itu menempatkannya tepat di episentrum kebijakan, pembinaan, evaluasi, serta arah pembangunan kelistrikan nasional.
Ini bukan sekadar kenaikan jabatan. Ini adalah titik di mana seluruh pengalaman Ahmad, mulai dari belajar ilmu teknik dari Unhas, pengawasan lapangan bertahun-tahun, riset di Edinburgh dan Melbourne, jaringan diaspora, dan ratusan jam diskusi publik, bermuara.
“Saya hanya ingin memberi peran untuk Indonesia,” ujarnya sederhana. “Seberapa pun kecilnya, biarkan ia menjadi bagian dari gerak besar menuju masa depan energi yang bersih dan berkeadilan.”
Dari Sidrap ke Makassar, dari Makassar ke Melbourne, dari Fakultas Teknik Unhas hingga Direktur di Kementerian ESDM, Ahmad Amiruddin menunjukkan bahwa perjalanan energi Indonesia bukan hanya soal teknologi dan infrastruktur, tetapi tentang manusia yang percaya bahwa pengetahuan adalah jalan pengabdian.
*Penulis adalah blogger, peneliti, dan digital strategist. Lulus di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat.






-300x169.webp)

