oleh: Yusran Darmawan*
Pada sebuah sore yang lengang di Melbourne, Ahmad Amiruddin duduk di sudut kampus Monash University. Di depannya, layar laptop menampilkan simulasi PLEXOS, model energi yang ia gunakan untuk memetakan masa depan super grid Indonesia.
Ketika angin musim dingin Australia bergerak perlahan, Ahmad sedang merampungkan sesuatu yang kelak menjadi pijakan penting dalam kariernya: riset doktoral tentang integrasi energi terbarukan dan penyimpanan energi dalam sistem ketenagalistrikan nasional.
Perjalanannya dari Sidrap menuju Makassar, Edinburgh, Melbourne, hingga Jakarta tidaklah lurus—tetapi justru berliku, penuh tekad, kehilangan, ketekunan, dan akhirnya kembali dalam bentuk kontribusi.
BACA: William Sabandar: Dari Teknik Unhas Hingga Alumni Australia Terbaik
Hari ini, perjalanan itu membawanya pada tanggung jawab baru: Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan di Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM, sebuah posisi strategis yang membuatnya berada tepat di jantung kebijakan energi Indonesia.
Akar yang Tumbuh di Teknik Unhas
Ahmad menempuh pendidikan sarjana di Teknik Elektro Universitas Hasanuddin di tahun 1998. Di sini, ia bertumbuh bukan hanya sebagai calon insinyur, tetapi sebagai kader organisasi.
Dari IMM hingga HMI Teknik, ia belajar kepemimpinan dan disiplin. “Unhas itu kawah candradimuka,” kenangnya. “Ilmu teknik melatih logika, tapi organisasi melatih keberanian.”
Selepas kuliah, ia bekerja sebagai engineer di LG Philips Displays Indonesia, mengawasi kualitas produk MCB di Schneider Electric, kemudian menjadi Site Manager proyek SCADA di Siemens. Namun panggilan pengabdian membuatnya berpindah ke pemerintahan.
Sejak 2009, ia bergabung sebagai Inspektur Ketenagalistrikan di Ditjen Gatrik, menangani inspeksi teknis, penyidikan, audit keselamatan, hingga analisis sistem listrik—fondasi penting yang kelak membuatnya memahami ketenagalistrikan dari “urat nadi” paling dalam.
Puluhan tulisannya menghiasi media nasional: Kompas, Detik, The Conversation, dan berbagai buletin energi. Dia juga meramaikan media sosial dengan berbagai telaah tentang energi serta pembelajaran hidup.
Ia menulis tentang listrik, emisi, baterai, keadilan energi, hingga dilema PLTU. Bagi Ahmad, pengetahuan teknis bukan sekadar profesi, tetapi kewajiban moral.
Melbourne: Tempat Ujian, Tempat Bertahan
Tahun 2021, Ahmad berangkat ke Monash University untuk studi doktoral di bidang Resources Engineering. Setahun pertama berlangsung secara daring akibat pandemi.
Pada semester kedua, ayahnya wafat karena Covid-19. Tiba di Melbourne, ia langsung menghadapi confirmation review. Di tahun ketiga, salah satu supervisornya meninggal dunia. “Seperti berlari sambil menahan napas,” ujarnya mengenang masa itu.
undefined
-300x169.webp)

-300x169.webp)

-300x200.webp)



