Pendidikan
Saintek

AI Boleh Membantu, Unhas Tegaskan Ide dan Analisis Tetap Milik Peneliti Sendiri Sepenuhnya

Prof Firzan Nainu SSi MBiomedSc PhD - Ketua Unhas Fly Research Group dan Kepala Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi Fakultas Farmasi Unhas. (Dok Unhas TV)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkuat pengawasan terhadap integritas penelitian seiring meluasnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam kegiatan akademik.

Kampus menilai teknologi tersebut dapat membantu proses penelitian, tetapi tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir dan tanggung jawab ilmiah peneliti.

Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, Prof. Firzan Nainu SSi MBiomedSc PhD, mengatakan perkembangan AI tidak dapat dihindari.

Teknologi itu telah digunakan untuk membantu sejumlah tahapan penelitian, seperti pencarian referensi, pengolahan informasi, serta analisis data.

Namun, menurut Firzan, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Penggunaan AI tanpa batas dan pengawasan berpotensi memunculkan pelanggaran etika, ketidakakuratan informasi, hingga pengaburan tanggung jawab atas karya ilmiah.

“AI bisa digunakan dalam batasan tertentu. Yang penting jangan sampai menggantikan fungsi berpikir kita, apalagi dalam penelitian,” kata Firzan saat ditemui Unhas TV di kampus Universitas Hasanuddin (Unhas), Senin (27/7/2026).

Ia menegaskan bahwa gagasan, analisis, interpretasi, dan kesimpulan penelitian harus tetap berasal dari peneliti.

AI, kata guru besar Farmasi Unhas itu, hanya dapat ditempatkan sebagai alat pendukung untuk meningkatkan efisiensi kerja, bukan sebagai pihak yang mengambil alih proses intelektual.

“Ide, analisis, dan hasil akhirnya tetap harus berasal dari penelitinya sendiri,” ujar Kepala Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi Fakultas Farmasi Unhas itu.

Lebih jauh, Firzan menilai perguruan tinggi perlu menyusun aturan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Regulasi tersebut dibutuhkan untuk memberikan batas yang jelas mengenai bentuk pemanfaatan AI yang diperbolehkan dan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran akademik.

Unhas juga menyediakan sistem pendeteksi plagiarisme yang dapat digunakan dosen dan mahasiswa sebelum karya ilmiah dipublikasikan.

Fasilitas itu menjadi bagian dari upaya kampus mencegah duplikasi, penjiplakan, serta penggunaan sumber tanpa pengakuan yang semestinya.

Meski demikian, Firzan mengingatkan bahwa perangkat pendeteksi tidak dapat menjadi satu-satunya alat untuk menjamin integritas penelitian.

Setiap peneliti tetap harus melakukan verifikasi terhadap data, referensi, dan hasil analisis yang diperoleh dengan bantuan teknologi.

Menurut dia, penggunaan AI harus disertai tanggung jawab akademik, evaluasi kritis, dan keterbukaan mengenai metode yang digunakan. Peneliti juga harus memastikan informasi yang dihasilkan tidak keliru atau menyesatkan.

Melalui penguatan etika, regulasi, dan budaya akademik, Unhas berupaya menjaga kredibilitas hasil penelitian sekaligus mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap dunia ilmiah.

(Rahmatia Ardi / Unhas TV)