.webp)
PENGGUNAAN AI - Mahasiswa Unhas tengah mengerjakan tugas di Perpustakaan Unhas, Selasa (8/9/2026). Saat mengerjakan tugas, mahasiswa kerap menggunakan Artificial Intelligence AI sebagai alat bantu. (Unhas TV/Mustika Syaharuddin)
Bagi Supardi Syarif, mahasiswa Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan Unhas, AI digunakan ketika ia mengalami kesulitan memahami materi atau membutuhkan bantuan dalam menyusun tugas yang kompleks. Namun, ia tidak menjadikan hasil AI sebagai jawaban yang langsung digunakan.
“Tidak, tidak hanya sekadar copy-paste, tapi kalau saya bertanya di AI itu, saya analisis dulu informasi dari AI itu, kemudian saya susun kembali dengan kata-kata saya sendiri,” jelas Supardi.
Cara tersebut memperlihatkan adanya upaya untuk tetap menempatkan mahasiswa sebagai pihak yang memahami dan mengolah informasi, sementara AI digunakan sebagai alat bantu dalam proses tersebut.
Persoalan mengenai batas penggunaan AI kemudian menjadi lebih jelas dalam pandangan Andi Muh. Alamir Rahman, mahasiswa Program Studi Geofisika, Fakultas MIPA.
Menurutnya, ukuran sederhana untuk mengetahui apakah AI masih digunakan sebagai alat bantu atau sudah menjadi jalan pintas adalah dengan melihat apakah pengguna masih memahami informasi setelah menggunakan AI.
“Apapun yang kamu searching itu, selesai kamu menggunakan AI, masih ingat enggak materinya, masih ingat jawabannya? Kalau kamu masih ingat jawabannya, artinya beruntung dong kamu menggunakan AI. Kalau tidak, ya artinya kamu cuma menggunakan AI untuk jadi jalan pintas,” ujar Amir.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan utama penggunaan AI di lingkungan mahasiswa bukan semata-mata terletak pada teknologi yang digunakan, melainkan pada bagaimana teknologi tersebut ditempatkan dalam proses belajar.
AI dapat membantu mahasiswa menemukan informasi dan membuka sudut pandang baru, tetapi pemahaman terhadap materi tetap menjadi tanggung jawab pengguna.
Hal serupa juga terlihat dari pengalaman mahasiswa lain yang memilih menggunakan AI untuk mendapatkan referensi atau gambaran awal pembahasan, kemudian menyusun dan mengembangkan kembali materi dengan pemahaman mereka sendiri.
Pendekatan tersebut membuat AI berfungsi sebagai pendukung proses belajar, bukan pengganti kemampuan akademik mahasiswa.
Di tengah perkembangan teknologi AI yang semakin mudah diakses, kemampuan mahasiswa untuk melakukan verifikasi, menganalisis informasi, dan memahami kembali hasil yang diperoleh menjadi semakin penting.
Penggunaan AI secara kritis juga dapat membantu mahasiswa memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan proses belajar yang menjadi tujuan utama pendidikan.
Pada akhirnya, AI tidak secara otomatis menjadi teman kuliah ataupun jalan pintas. Keduanya bergantung pada cara mahasiswa menggunakannya.
Ketika AI digunakan untuk mencari referensi, membantu memahami materi, dan membuka gagasan yang kemudian diperiksa serta diolah kembali, teknologi tersebut dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Sebaliknya, ketika mahasiswa hanya mengambil hasil AI tanpa memahami isinya, teknologi tersebut berisiko menggantikan proses berpikir yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa.
(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)



-1024x629_1-300x185.webp)




