MAKASSAR, UNHAS.TV - Aktivitas gempa bumi yang masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia menjadi pengingat akan tingginya aktivitas tektonik di Tanah Air.
Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk tidak hanya memahami fenomena kegempaan, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan guna mengurangi risiko korban dan kerusakan saat bencana terjadi.
Kepala Pusat Penelitian Kebencanaan LPPM Universitas Hasanuddin Ilham Alimuddin ST MGIS PhD menjelaskan bahwa gempa bumi merupakan bagian dari dinamika tektonik bumi yang terus berlangsung.
Indonesia menjadi salah satu wilayah yang memiliki aktivitas tektonik tinggi karena berada di kawasan tepian lempeng bumi.
Menurut Ilham, kondisi tersebut menyebabkan gempa bumi dapat terjadi di berbagai wilayah Indonesia, dengan tingkat aktivitas yang berbeda-beda. Ia juga menyinggung aktivitas kegempaan di wilayah Nusa Tenggara Timur yang berkaitan dengan zona Flores Back Arc.
“Secara tektonika, dinamika bumi ini terus bergerak. Sehingga gempa-gempa itu akan terus terjadi. Hanya ada daerah yang sekarang aktif dan ada mungkin yang sedikit berkurang dan ada yang tidak aktif,” jelas Ilham.
Ia menjelaskan, Flores Back Arc merupakan zona sesar naik yang aktif di wilayah Flores. Setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7, aktivitas gempa susulan masih dapat terjadi sebagai bagian dari proses penyesuaian tektonik menuju kondisi yang lebih seimbang.
Ilham mengatakan, gempa susulan dapat terus berlangsung hingga mengalami peluruhan. Meski sebelumnya diperkirakan aktivitas tersebut dapat berlangsung sekitar satu bulan, dalam perkembangannya gempa masih dirasakan di sejumlah wilayah meskipun intensitasnya semakin menurun.
“Ini setelah satu bulan itu masih terjadi walaupun intensitasnya sudah semakin kecil. Di beberapa tempat itu masih sering terasa. Tapi insya Allah ini akan semakin berkurang,” ujarnya.
Di tengah aktivitas tektonik yang tidak dapat dihentikan, Ilham menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat sebagai salah satu upaya untuk mengurangi dampak bencana.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami kondisi kegempaan di wilayah tempat tinggal, termasuk potensi keberadaan patahan dan risiko yang dapat ditimbulkan.
Kesiapsiagaan juga perlu didukung dengan informasi mengenai kawasan yang berpotensi terdampak patahan aktif. Pemahaman tersebut dinilai penting sebagai salah satu pertimbangan dalam pembangunan untuk mengurangi potensi korban maupun kerusakan bangunan ketika gempa terjadi.
Selain masyarakat, pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan memiliki peran dalam memastikan informasi mengenai potensi bencana dapat diterima dengan baik.
Informasi dan peringatan terkait aktivitas kegempaan juga dapat dipantau masyarakat melalui kanal resmi lembaga terkait, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG.
Ilham menilai kesiapsiagaan tidak hanya sebatas mengetahui adanya potensi gempa, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang terlatih, terinformasi, dan teredukasi. Karena itu, keterlibatan berbagai pihak diperlukan untuk membangun kesiapsiagaan secara berkelanjutan.
Dengan pemahaman risiko yang lebih baik dan kesiapan yang terus diperkuat, masyarakat diharapkan dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan ketika gempa bumi terjadi.
(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)
Kepala Pusat Penelitian Kebencanaan LPPM Universitas Hasanuddin Ilham Alimuddin ST MGIS PhD. (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)








