UNHAS.TV - Andi Nanda Nur Amriani masih mengingat detik-detik namanya disebut sebagai juara pertama Pemilihan Mahasiswa Berprestasi atau Pilmapres kategori diploma tingkat Wilayah 9 tahun 2026.
Saat itu, ia tidak langsung percaya. Ia lebih dulu menyiapkan diri untuk kemungkinan kalah. Ketika juara kedua diumumkan, pikirannya justru merosot. Ia merasa peluangnya hampir tertutup.
Namun beberapa saat kemudian, namanya dipanggil. Mahasiswa Agribisnis Pangan Fakultas Vokasi Universitas Hasanuddin angkatan 2024 itu menang. Ia akan mewakili wilayahnya ke tingkat nasional.
“Is it really me?” kata Nanda, mengenang momen itu dalam program Unhas Story bersama host Zulkarnain Jumar Taufik.
Kemenangan itu bukan datang dari rasa percaya diri yang selalu penuh. Justru sebaliknya. Nanda berangkat dari keraguan yang berkali-kali datang.
Ia mengaku overthinking. Ia sering membandingkan dirinya dengan peserta lain yang terlihat lebih siap, lebih berpengalaman, dan lebih matang dalam kompetisi akademik.
Pilmapres adalah lomba akademik resmi pertama yang ia ikuti. Sebelumnya, ia lebih banyak dikenal lewat jalur nonakademik. Ia adalah atlet taekwondo.
Ia terbiasa dengan arena pertandingan, latihan fisik, sparing, cedera, dan disiplin keras. Tapi panggung Pilmapres berbeda. Di sana, ia harus menata gagasan, menyusun capaian unggulan, mempresentasikan diri, dan bertahan di depan penilaian juri.
Perjalanannya menuju Pilmapres dimulai tanpa rencana panjang. Seorang dosen pembimbing mengajaknya mencoba. Awalnya Nanda tidak terlalu memahami ajang itu.
Ia kemudian mengetahui bahwa kategori diploma menekankan produk inovatif, capaian unggulan, dan kemampuan peserta menjelaskan rekam prestasi secara utuh.
Dari tingkat program studi, ia maju ke fakultas. Dari fakultas, ia melaju ke tingkat Universitas Hasanuddin. Setelah serangkaian seleksi, ia menjadi juara pertama tingkat universitas. Kemenangan itu membawanya ke tingkat Wilayah 9. Di sana, ia kembali menang.
Nanda menyebut perjalanan itu dengan satu kata, ombak. Ada saat ia merasa sudah tidak sanggup. Ada waktu ia ingin berhenti. Namun setiap kali pikiran itu muncul, ia mengingat dukungan orang tua, dosen, teman, dan orang-orang yang percaya kepadanya.
Orang tuanya menjadi sumber tenaga utama. Sebelum pengumuman, Nanda sempat meminta maaf kepada ayahnya jika hasilnya tidak maksimal. Jawaban sang ayah membuatnya tenang.
“Kami tidak butuh kamu menang. Kami sudah bangga kamu sampai sejauh ini,” begitu kira-kira pesan yang ia terima dari kedua orang tuanya.
Dukungan itu membuat Nanda bertahan. Ia belajar bahwa kepercayaan dari orang lain kadang membantu seseorang melewati keraguan terhadap dirinya sendiri. Ia tidak menganggap prestasi itu sebagai hasil kerja tunggal. Baginya, kemenangan selalu dibangun oleh banyak tangan.
Nanda tumbuh dari perjalanan yang berpindah-pindah. Ia lahir dari keluarga asal Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Ia sempat tinggal di Banjarmasin, lalu kembali ke Sidrap.
Ia pernah bersekolah di Makassar, kemudian pindah lagi. Saat pandemi Covid-19, ia ikut orang tuanya ke Tangerang Selatan. Setelah itu, keluarga berpindah ke Luwu Timur karena pekerjaan orang tua.
Perpindahan itu membentuk dirinya. Ia belajar membaca lingkungan baru, berteman dengan cepat, dan menyesuaikan diri dengan banyak budaya.
Kemampuan bersosialisasi yang cepat itulah, kelak membantunya dalam Pilmapres. Ia tidak segan bertanya, berbagi cerita, dan mengambil pelajaran dari peserta lain yang ia anggap hebat.
Ini Alasannya Pilih Fakultas Vokasi?
>> Baca Selanjutnya
Andi Nanda Nur Amriani FMB, mahasiswa Berprestasi 1 2026 Kategori Diploma Tingkat Wilayah IX. (Dok Unhas TV)








