Budaya
Pendidikan

Antropologi Unhas Dorong Sekolah Adat untuk Perkuat Identitas Massenrempulu

SEOLAH ADAT - Guru Besar Antropologi Unhas, Prof Dr Munsi Lampe MA, tengah menyusun kurikulum untuk sekolah adat Massenrempulu. (Unhas TV/Iffa Aisyah)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Departemen Antropologi Universitas Hasanuddin mendorong pengembangan sekolah adat untuk memperkuat identitas etnik Massenrempulu di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Program ini disiapkan sebagai ruang pembelajaran budaya bagi generasi muda di sejumlah lembaga adat Massenrempulu.

Guru Besar Antropologi Unhas, Prof Dr Munsi Lampe MA, mengatakan eksistensi budaya Massenrempulu menghadapi tantangan serius di tengah perubahan sosial.

Menurut dia, pembicaraan tentang suku bangsa dan budaya Massenrempulu mulai meredup. Penyebabnya bukan hanya dominasi kelompok budaya yang lebih besar, tetapi juga perubahan minat generasi muda.

“Anak-anak muda sekarang memang cenderung lebih menyukai yang dari luar. Oleh karena itu, saya bersama kawan-kawan sekarang sudah menyusun sebuah program untuk mengadakan sekolah adat Massenrempulu,” kata Munsi.

Program sekolah adat itu tidak dirancang sebagai pendidikan formal. Sekolah adat akan menjadi ruang belajar alternatif untuk mengenalkan bahasa, simbol, tradisi, nilai, dan sejarah lokal Massenrempulu.

Pesertanya terutama generasi muda yang selama ini makin jauh dari pengetahuan adat di lingkungan mereka sendiri.

Menurut Munsi, penguatan identitas etnik tidak bertujuan menciptakan sekat dengan kelompok lain. Ia menyebut identitas budaya justru penting sebagai dasar untuk saling mengenal.

Dengan memahami akar budaya sendiri, masyarakat dapat membangun kerja sama dengan kelompok suku dan budaya lain, baik di tingkat regional maupun nasional.

Departemen Antropologi Unhas bersama tim kini menyiapkan kurikulum sekolah adat tersebut. Kurikulum itu akan memuat materi dasar tentang sejarah Massenrempulu.

Mulai dari struktur adat, bahasa, simbol budaya, serta praktik sosial yang diwariskan secara turun-temurun. Penyusunan kurikulum menjadi langkah awal agar sekolah adat memiliki arah pembelajaran yang jelas.

Selain kurikulum, tim juga mendorong implementasi konkret di tengah masyarakat. Salah satu gagasan yang disiapkan ialah penggunaan simbol khas adat pada rumah-rumah di wilayah Massenrempulu.

Simbol itu diharapkan menjadi penanda identitas sekaligus pengingat bagi warga bahwa adat tidak hanya hidup dalam cerita, tetapi juga hadir dalam ruang sehari-hari.

“Mudah-mudahan itu bisa menjadi contoh. Karena sebetulnya sudah ada, tapi belum maksimal. Ini akan terus didorong dan diperkuat dengan penyusunan kurikulum, juga implementasi konkret,” ujar Prof Munsi.

Massenrempulu merupakan etnik masyarakat yang berada di Kabupaten Enrekang. Etnik ini memiliki kekayaan budaya, bahasa, serta tradisi adat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, arus globalisasi dan budaya populer membuat pengetahuan lokal menghadapi tekanan baru.

Melalui sekolah adat, Departemen Antropologi Unhas berharap generasi muda Massenrempulu tidak hanya mengenal budayanya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai identitas yang dapat dirawat, dipahami, dan dikembangkan dalam kehidupan modern.

(Andrea Ririn Karina / Iffa Aisyah Rahman / Unhas TV)