MAKASSAR, UNHAS.TV - Namanya Manohara dan si empunya nama tidak tahu mengapa kedua orangtuanya memberi nama yang tidak lazim bagi orang Makassar. Bahwa kemudian ia tahu nama itu seperti nama bintang televisi, Manohara tidak begitu peduli.
"Panggil saja Ara. Begitu teman-teman saya memanggil saya," katanya. Ia sedang asyik mencoret-coret kertas di depan rumahnya yang sederhana di Kampung Tamala'lang, Kelurahan Parangloe, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar.
Tamala'lang adalah kampung kecil yang berada di pinggiran Kota Makassar, lebih tepatnya di samping Kawasan Industri Makassar (KIMA). Banyak warga kampung itu bekerja di pabrik-pabrik di kawasan itu. Tapi ayah Ara, Amir (56 tahun), lebih memilih menjadi tukang ojek motor, sedangkan ibunya, Suriati, berjualan kue yang sering dibeli tetangga atau pekerja pabrik.
Dari penghasilan itulah Amir dan Suriati mengandalkan biaya penopang hidup untuk tujuh anaknya, termasuk Ara, anak keenam. "Lima kakak saya hanya tamat SMP atau SMA karena kami tidak punya cukup uang untuk melanjutkan sekolah," ujar Ara.
Arah, alumnus SMP Negeri 9 Makassar, sempat ragu untuk melanjutkan pendidikannya ke SMA Negeri 6 Makassar yang tidak jauh dari rumahnya. Arah paham bahwa meskipun sekolah negeri, biaya sekolah tidak murah. Baju seragam sekolah harus dibeli sendiri, belum termasuk seragam Pramuka, dan seragam olahraga.
"Sempat patah semangat hingga kemudian dapat kabar baru. Seorang pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) datang ke rumah mengabarkan bahwa ada sekolah yang sepenuhnya gratis. Kami tidak percaya tetapi pendamping itu terus meyakinkan," ujarnya.
Tepat pada 14 Juli 2025, Ara sudah resmi terdaftar sebagai siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 Kota Makassar. Ia termasuk angkatan pertama bersama 151 siswa lainnya dari berbagai daerah: Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Kabupaten Maros, dan Kabupaten Kepulauan Selayar.
Hal yang paling menakjubkan dari sekolah itu karena fasilitasnya lengkap: lapangan olahraga, dapur, perpustakaan, ruang prakarya, dan taman bermain. Sekolahnya juga tidak jauh dari kampus Universitas Hasanuddin (Unhas), hanya dipisahkan oleh satu jalan kecil yang oleh mahasiswa Unhas sering dinamakan Pintu Nol.
Siswa sekolah ini juga diasramakan, makanan bergizi disediakan tiga kali dalam sehari semalam, serta semua perlengkapan sekolah termasuk seragam dan alat tulis diberikan seutuhnya. Teman-teman sekolahnya juga asyik. Guru-guru, wali asuh, dan wali asramanya peduli.
"Saya juga tidak pernah menyangka bahwa saya akhirnya bisa pakai laptop, satu siswa satu laptop. Mana bisa anak tukang ojek punya laptop? Teman-teman samping rumah awalnya tidak percaya kalau saya ceritakan. Eh, mereka baru percaya setelah saya perlihatkan akun media sosial sekolah saya," jelas Ara.

PRAMUKA - Manohara (kiri) bersama teman sekelasnya pada kegiatan Pramuka. Foto: koleksi pribadi Manohara.
undefined




-300x200.webp)



