Internasional

Asap Kebakaran Hutan Indonesia Makin Mengganggu, Warga Singapura Dibatasi Tinggalkan Rumah

Kebakaran. Ilustrasi: AI Grok

UNHAS.TV - Warga Singapura merasakan dampak langsung dari kebakaran hutan yang terjadi di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Penanganan yang belum tuntas mengakibatkan kabut asap kebakaran hutan meluas hingga ke Singaoura, Malaysia, Brunei, hingga Filipina.

Warga Singapura mengeluhkan kualitas udara yang buruk melalui media sosial. Mereka merasakan dampak kesehatan, gangguan kegiatan, serta menuntut tindakan lebih tegas terhadap negara tetangga. 

Apotek dan supermarket sempat kehabisan masker wajah. Kegiatan luar ruangan terganggu: sejumlah lokasi konstruksi melambat, latihan outdoor militer ditangguhkan, dan beberapa layanan pengantaran makanan sempat terdampak pada periode puncak.

Sebelumnya (pertengahan-akhir September), pusat kuliner terbuka seperti East Coast Lagoon Food Village juga dilaporkan lebih sepi karena warga memilih tetap di dalam rumah. 

National Environment Agency (NEA), adalah badan hukum pemerintah di bawah Kementerian Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura terus mengeluarkan panduan kesehatan: orang sehat disarankan mengurangi kegiatan fisik luar ruangan yang lama atau berat, sementara kelompok rentan (lansia, ibu hamil, anak-anak, dan penderita penyakit paru/jantung kronis) diminta meminimalkan atau menghindari kegiatan tersebut.

Per hari ini, Kamis (8/10/2026), kualitas udara Singapura tetap di tingkat tidak sehat akibat kabut asap dari kebakaran hutan di Indonesia, dengan warga mengeluhkan dampaknya.

Pada pagi hari (sekitar 6–8 pagi), Pollutant Standards Index (PSI) tercatat tertinggi di wilayah barat (hingga 161), diikuti wilayah tengah (sekitar 146–147), timur (126–128), selatan (118–120), dan utara (113).

Partikel halus yang dominan saat kabut asap, berada di tingkat tinggi di beberapa wilayah, terutama barat dan tengah Singapura. NEA memproyeksikan PSI 24-jam tetap di rentang tidak sehat. Ini merupakan salah satu periode terburuk musim kabut asap 2026 sejauh ini, meski belum mencapai level berbahaya seperti tahun 2015.

Penyebab

Kabut asap berasal dari titik panas dan kebakaran hutan/lahan di Sumatra bagian tengah-selatan serta berbagai wilayah Kalimantan, Indonesia. Angin tenggara hingga selatan membawa plumes asap sedang hingga pekat ke arah Singapura. Kondisi kering diperkirakan berlanjut sehingga risiko kabut asap transboundary tetap tinggi.

Menurut data IQAir, Singapura sempat menjadi kota dengan polusi udara terburuk di dunia pada Rabu (7 Oktober) sore, masuk kategori “very unhealthy”.

Musim kabut asap 2026 diperburuk oleh kondisi El Niño yang membuat cuaca lebih kering dan panas. NEA telah mengeluarkan panduan harian sejak awal September. Situasi ini juga berdampak ke Malaysia (beberapa sekolah di Johor ditutup sementara) dan wilayah lain di Asia Tenggara.(*)