Mahasiswa

Awal Semester Bertepatan Ramadhan, Mahasiswa Unhas Soroti Efektivitas Kuliah Daring

AWAL KULIAH. Mahasiswa Administrasi Publik Unhas Khayriyah Nisa dan Mahasiswa Sosiologi Unhas Sarmila memberi tanggapan tentang awal semester bertepatan dengan Ramadhan 2026. (unhas tv/venny septiani)

MAKASSAR, UNHAS.TV – Semester genap Tahun Akademik 2025/2026 di Universitas Hasanuddin (Unhas) dijadwalkan dimulai bertepatan dengan bulan suci Ramadhan.

Pada pekan awal perkuliahan, kegiatan belajar mengajar direncanakan berlangsung secara daring. Kebijakan ini memunculkan beragam tanggapan dari mahasiswa yang tengah bersiap kembali ke bangku kuliah setelah libur dua bulan.

Di Perpustakaan Unhas, sejumlah mahasiswa mengaku tengah menyesuaikan ritme belajar dengan suasana Ramadhan. Awal semester yang berbarengan dengan puasa dinilai menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga konsentrasi dan manajemen waktu antara kuliah dan ibadah.

Khayriyah Nisa, mahasiswa semester enam Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas, menilai kebijakan kuliah daring di awal Ramadhan dapat dimanfaatkan secara positif.

Menurut dia, sistem pembelajaran jarak jauh memberi kesempatan mahasiswa untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.

“Menurut saya itu bisa dimanfaatkan untuk menghabiskan waktu luang sambil berpuasa di rumah bersama keluarga, dan bisa berbuka bersama dengan keluarga terdekat,” ujarnya.

Bagi Khayriyah, momen awal Ramadhan memiliki nilai kebersamaan yang kuat. Karena itu, kuliah daring dinilai memberi ruang fleksibilitas tanpa harus meninggalkan tanggung jawab akademik. Namun, ia berharap pelaksanaan perkuliahan tetap berjalan efektif dan efisien.

Ia menekankan pentingnya kesiapan teknis, terutama kestabilan jaringan internet. Menurutnya, pertemuan pertama pada awal semester sangat krusial karena menjadi fondasi pemahaman materi untuk perkuliahan selanjutnya.

“Semoga pertemuan pertama bisa berjalan efektif dan tidak terkendala jaringan saat Zoom,” katanya.

Pandangan senada disampaikan Sarmila, mahasiswa semester empat Program Studi Sosiologi Fisip Unhas.

Ia menyambut baik kebijakan awal kuliah yang bertepatan dengan Ramadhan karena memberi kesempatan berkumpul bersama keluarga, khususnya pada hari-hari pertama puasa.

“Awal bulan puasa itu biasanya paling disambut, jadi bisa kumpul bareng orang tua,” ujarnya.

Namun, Sarmila juga menggarisbawahi tantangan kuliah daring, terutama bagi mahasiswa yang tinggal di wilayah pedesaan. Menurut dia, keterbatasan akses internet sering kali menjadi kendala utama dalam mengikuti perkuliahan online.

“Kalau untuk offline mungkin lebih bagus, apalagi bagi kami yang tinggal di pedesaan, karena kadang jaringan menjadi hambatan,” katanya.

Ia menilai pembelajaran tatap muka tetap lebih efektif dari sisi interaksi dan pemahaman materi, meskipun menyadari bahwa kebijakan daring di awal Ramadhan merupakan bentuk penyesuaian situasi.

Perbedaan pandangan tersebut mencerminkan dinamika kebutuhan mahasiswa yang beragam. Di satu sisi, kuliah daring memberi fleksibilitas dan ruang kebersamaan keluarga. Di sisi lain, tantangan infrastruktur digital masih menjadi persoalan, terutama bagi mahasiswa di luar kota besar.

Meski demikian, baik Khayriyah maupun Sarmila berharap awal semester genap dapat berjalan lancar. Mereka menilai kunci utama terletak pada kesiapan mahasiswa dalam mengatur waktu serta dukungan teknis dari kampus agar proses pembelajaran tidak terganggu.

Dengan sistem pembelajaran yang fleksibel, mahasiswa diharapkan tetap mampu menjaga semangat akademik tanpa mengurangi kekhusyukan ibadah selama Ramadhan.

Awal semester yang bertepatan dengan bulan suci pun diharapkan menjadi momentum untuk menyeimbangkan capaian akademik dan penguatan spiritual secara bersamaan.

(Venny Septiani Semuel / Moh Resha Maharam / Unhas TV)