MAKASSAR, UNHAS.TV - Kasus resistensi obat pada penyakit tuberkulosis (TBC) menjadi perhatian serius. Durasi pengobatan yang panjang serta ketidakpatuhan pasien dalam mengonsumsi obat menjadi faktor utama yang memicu munculnya bakteri TBC yang kebal terhadap pengobatan.
Tuberkulosis atau TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan umumnya menyerang paru-paru. Penyakit ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di dunia, termasuk di Indonesia.
Resistensi obat TBC terjadi karena bakteri memiliki kemampuan bertahan yang sangat kuat terhadap serangan antibiotik. Pengobatan TBC yang membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun sering kali tidak dijalani secara konsisten oleh pasien.
Akibatnya, bakteri tidak sepenuhnya mati, melainkan beradaptasi dan menjadi lebih kuat. Kondisi ini dikenal sebagai multidrug-resistant tuberculosis atau TBC resisten obat.
Selain itu, bakteri TBC memiliki dinding sel yang kuat dan mampu menghambat masuknya obat ke dalam tubuh bakteri. Umumnya, pengobatan hanya menyasar bagian dalam bakteri, sementara dinding sel yang menjadi pertahanan utama justru tidak tersentuh.
Guru Besar Kimia FMIPA Universitas Hasanuddin, Prof Dr Indah Raya Andi Rumpang MSi menjelaskan bahwa lamanya durasi pengobatan menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan TBC.
“Pengobatan TBC memiliki durasi yang panjang karena bakterinya sangat kuat. Ketika pasien tidak disiplin mengonsumsi obat, bakteri justru menjadi lebih kebal," ujar Indah kepada Unhas TV, Kamis (6/8/2026).
"Ini yang menyebabkan munculnya multidrug-resistant. Bakteri seolah ‘dilatih’ untuk bertahan, sehingga dinding selnya semakin kuat dan sulit ditembus obat,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mengembangkan pendekatan baru dengan menargetkan dinding sel bakteri sebagai upaya meningkatkan efektivitas pengobatan.
“Dalam penelitian kami, dinding sel bakteri menjadi target utama. Kami berupaya mengembangkan calon obat yang dapat merusak dinding sel sekaligus bekerja di bagian dalam bakteri.
"Namun, selain kandungan obat, sistem penghantaran obat atau drug delivery juga sangat penting agar obat dapat mencapai sasaran secara optimal,” jelasnya.
Prof. Indah menambahkan, pengembangan metode baru ini diharapkan mampu mempercepat proses penyembuhan pasien serta mengurangi risiko resistensi obat.
Upaya penanganan resistensi obat TBC memerlukan kesadaran pasien untuk menjalani pengobatan secara tuntas, serta dukungan penelitian dalam mengembangkan terapi yang lebih efektif.
Dengan langkah terpadu, diharapkan kasus TBC resisten obat dapat ditekan dan angka kesembuhan terus meningkat.
(Andrea Ririn Karina / UnhasTV)
Guru Besar Kimia FMIPA Universitas Hasanuddin Prof Dr Indah Raya Andi Rumpang MSi. (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)






 MKes_1-300x169.webp)

