Pendidikan
Sosial

BISINDO sebagai Hak, Unhas Dorong Penguatan Komunikasi dan Kesetaraan bagi Mahasiswa Tuli



WORKSHOP BISINDO - Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin (Pusdis Unhas) menggelar Workshop dan Deklarasi “Hak Asasi Manusia untuk Tuli” dengan tema “BISINDO sebagai Hak, Komunikasi sebagai Hak, dan Kesetaraan sebagai Hak” di Aula LPPM Unhas, Senin (5/10/2026). (Unhas TV / Mustika Syaharuddin)


Penguatan bahasa isyarat di lingkungan akademik menjadi salah satu perhatian utama dalam membangun kampus yang inklusif.

Menurut Ishak, akses komunikasi bagi mahasiswa Tuli tidak cukup hanya tersedia dalam kegiatan formal seperti seminar atau acara seremonial, tetapi juga harus hadir dalam proses pembelajaran sehari-hari.

Ia mengatakan, Unhas perlu terus memperkuat dukungan melalui ketersediaan relawan isyarat dan juru bahasa isyarat yang dapat membantu mahasiswa Tuli mengikuti aktivitas akademik.

“Harapan jangka pendek tentu saja kami tetap menemani Unhas untuk menjadi kampus yang lebih inklusif, bahasa isyarat menjadi bahasa sehari-hari yang didukung oleh ketersediaan relawan isyarat dan juru bahasa isyarat, bukan hanya di ruang-ruang seminar tapi juga di ruang-ruang kelas,” kata Ishak.

Menurut dia, budaya inklusif tidak dapat dibangun hanya melalui kebijakan, tetapi membutuhkan perubahan cara pandang seluruh warga kampus terhadap keberagaman.

Pengakuan terhadap budaya Tuli dan bahasa isyarat menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang setara.

“Harapan jangka panjangnya adalah terus membudayakan budaya inklusif, mengakui budaya Tuli dan bahasa isyarat sebagai hak warga Tuli dan menjadi bahasa nasional,” ujarnya.

Ketua Panitia kegiatan, Keysa Pattipeiluhu, mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas angkatan 2025, mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai hak komunikasi mahasiswa Tuli.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah bagaimana memberikan dukungan dan membagikan pengalaman bagi masyarakat terkait Hari Bahasa Isyarat Internasional, khususnya di Unhas,” kata Keysa.

Ia berharap dukungan terhadap mahasiswa Tuli dapat semakin diperkuat, terutama dalam proses perkuliahan. Salah satu kebutuhan yang menurutnya penting adalah penyediaan layanan juru bahasa isyarat yang lebih memadai.

“Harapan ke depannya itu, saya mau agar dukungan kepada teman-teman Tuli lebih masif lagi, lebih aktif lagi, termasuk dalam proses perkuliahan,” ujar Keysa.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Prof drg Muhammad Ruslin MKes PhD SpBM (K), menyatakan dukungan institusi terhadap keberlanjutan program yang mendorong pendidikan inklusif.

“Saya pikir ini suatu kegiatan yang sangat luar biasa, Unhas pasti akan mendukung dan ini harus kita teruskan,” kata Prof Ruslin.

Menurut dia, keterlibatan komunitas Tuli di Makassar dan Sulawesi Selatan menjadi bagian penting dalam memperluas kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat pemenuhan hak komunikasi serta membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi mahasiswa Tuli.

Melalui workshop dan deklarasi tersebut, Unhas menegaskan bahwa pemenuhan hak mahasiswa Tuli tidak berhenti pada pengakuan terhadap bahasa isyarat.

Penyediaan akses komunikasi, layanan pendukung, dan lingkungan akademik yang ramah disabilitas menjadi bagian dari langkah panjang menuju kampus yang inklusif.

Akses terhadap BISINDO, bagi mahasiswa disabilitas Tuli, bukan hanya persoalan bahasa, melainkan pintu menuju kesetaraan. Upaya menghadirkan komunikasi yang setara menjadi bagian dari perjalanan Unhas membangun pendidikan yang dapat diakses semua kalangan.

(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)