Lingkungan
Sosial

Bupati Morowali Utara: Investasi Industri Baterai Harus Diimbangi Dekarbonisasi

DEKARBONISASI - Departemen Ilmu Politik FISIP Unhas bekerja sama dengan CSIS menggelar seminar publik tentang dekarbonisasi rantai pasok industri baterai dan kendaraan listrik di Gedung Ipteks Unhas, Makassar, Selasa (9/6/2026). (Unhas TV/Moh Resha A=Maharam)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Bupati Morowali Utara, Delis Julkarson Hehi, menilai investasi industri baterai dan kendaraan listrik memberi dampak besar bagi daerah penghasil nikel.

Namun, ia mengingatkan investasi itu juga membawa risiko serius terhadap lingkungan bila tidak dikendalikan dengan kebijakan yang tepat.

Pernyataan itu disampaikan Delis dalam Seminar Publik bertajuk “Membangun Dekarbonisasi pada Rantai Pasok Industri Baterai dan EV demi Menjaga Daya Saing dan Komitmen Lingkungan Indonesia” di Gedung Ipteks Universitas Hasanuddin, Makassar, Selasa (9/6/2026).

Kegiatan tersebut digelar Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin bekerja (FISIP Unhas) sama dengan CSIS Indonesia.

Seminar ini menjadi ruang diskusi atas masifnya hilirisasi nikel dan kebutuhan menjaga daya saing industri baterai tanpa mengabaikan komitmen lingkungan.

Delis mengatakan kehadiran investasi industri elektrik di Kabupaten Morowali Utara seperti mata uang dengan dua sisi.

Di satu sisi, industri tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global. Namun di sisi lain, aktivitas industri pengolahan nikel juga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.

Karena itu, Delis menekankan perlunya langkah penyeimbang. Ia menyebut reklamasi berkelanjutan, penerapan good mining practices, dan penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan harus menjadi bagian dari tata kelola industri.

“Tentu ada beberapa langkah yang telah didiskusikan, bagaimana reklamasi secara kontinu, menerapkan good mining practices, dan juga bagaimana menerapkan bauran energi pada industri pengolahan nikel dengan memanfaatkan PLTA, PLTS, maupun menerapkan co-firing bagi PLTU yang masih menggunakan batu bara,” kata Delis.

Menurut Delis, pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi dampak industrialisasi. Ia mengatakan Pemerintah Kabupaten Morowali Utara akan menggandeng akademisi untuk memetakan risiko dan menyusun langkah mitigasi.

Delis menyebut telah membahas rencana kerja sama dengan Dekan FISIP Unhas, Prof Dr Phil Sukri. Kerja sama itu akan ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama antara Unhas dan Pemerintah Kabupaten Morowali Utara.

“Saya tadi telah berdiskusi dengan Bapak Dekan untuk menindaklanjuti dengan PKS antara Unhas dan Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali Utara untuk bagaimana kita coba memetakan dan memitigasi ini,” ujar Delis.

Dekan FISIP Unhas, Prof Sukri, menyambut rencana tersebut. Ia mengatakan kampus perlu mengambil peran dalam menghasilkan riset yang dapat menjawab persoalan masyarakat. Menurut dia, dekarbonisasi harus ditempatkan dalam kerangka regulasi yang memberi manfaat lebih luas.

Prof Sukri berharap forum akademik seperti ini terus menghadirkan gagasan yang dapat diterapkan di lapangan. Ia mengatakan Unhas siap terlibat dalam riset dan kegiatan yang mendukung agenda dekarbonisasi.

(Kautsar Ardiansyah R / Moh Resha Maharam / Unhas TV)