
Papan nama Sekolah Dasar
Beberapa sekolah bahkan mendatangkan pengajar dari Korea Selatan untuk mengajar langsung. Sorawolio, kampung tempat proyek ini dimulai, berubah menjadi semacam destinasi budaya baru. Banyak influencer berdatangan hanya untuk berpose di depan papan bertuliskan aksara Korea, menjadikannya bukan lagi sekadar proyek linguistik, melainkan ikon budaya populer.
Kerapuhan Sebuah Proyek
Namun, Song juga mencatat kerentanan. Pemerintah pusat menunjukkan rasa curiga, khawatir Hangeul melemahkan bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa. Sementara itu, Seoul berhitung bahwa keterlibatan berlebihan bisa merusak diplomasi.
“Kini, mereka dipaksa beradaptasi dengan kenyataan ekonomi baru yang impersonal, berorientasi laba, dan dibentuk oleh kapitalisme global,” tulis Song.
Tanpa dukungan finansial dan politik yang kuat, momentum itu meredup. Banyak papan nama Hangeul mulai diturunkan, dan pengajaran alfabet Korea di sekolah berhenti.
Meski singkat, penelitian Song menunjukkan bahwa papan nama beraksara Korea di Baubau adalah simbol identitas yang sedang dibangun ulang. Ia bukan sekadar penunjuk arah, melainkan penanda bahwa sebuah komunitas kecil ingin menjawab: kami ada, kami berbicara, kami menolak tenggelam.
“Kasus Cia-Cia menunjukkan kepada kita bahwa daerah pinggiran di Indonesia tidaklah pasif, melainkan justru aktif berupaya mendefinisikan ulang diri mereka dalam lanskap politik yang baru,” tulis Song.

Papan nama jalan dengan aksara Korea
Kalimat itu tidak sekadar kesimpulan akademis, melainkan kunci untuk membaca gerak daerah-daerah pinggiran Indonesia setelah Reformasi. Cia-Cia menjadi cermin bagaimana komunitas kecil yang selama ini dianggap pelengkap narasi besar bangsa mulai menemukan cara untuk bersuara.
Mereka tidak lagi pasif menunggu arahan dari pusat, tetapi aktif menggunakan simbol, bahasa, bahkan aksara asing untuk menegosiasikan posisi mereka.
Song melihat bahwa kasus Hangeul di Baubau adalah contoh paling jelas dari “politik pinggiran.” Identitas lokal tidak lagi sekadar hadir di panggung seremonial, melainkan dibawa ke ruang publik, melalui papan nama jalan, buku pelajaran, kurikulum sekolah.
Itu adalah cara mereka berkata: kami bukan sekadar pinggiran, kami bagian dari Indonesia yang layak diperhitungkan.
Langkah ini memperlihatkan dua hal: pertama, desentralisasi membuka celah bagi ekspresi lokal; kedua, pinggiran punya logika politik sendiri, kadang tak sejalan dengan pusat. Hangeul menjadi jembatan paradoksal: sekaligus simbol modernitas global dan simbol kebangkitan lokal.
Dengan demikian, Cia-Cia bukan sekadar bicara tentang pelestarian bahasa. Mereka bicara tentang pengakuan, tentang tempat dalam republik yang begitu luas, tentang hak untuk dikenal di luar sekadar angka dalam sensus.
Kasus ini mengingatkan bahwa Indonesia bukanlah monolit. Di balik pusat yang bising, pinggiran justru bergerak dengan caranya sendiri, menegosiasikan ulang makna menjadi “Indonesia” dalam lanskap politik baru.

Baliho di pintu Masuk Sorawolio
Song melihat bahwa papan Hangeul bukan sekadar eksotisme, melainkan deklarasi simbolik. Globalisasi bisa hadir lewat jalur tak biasa: dari K-pop hingga papan nama kampung. Ia melambangkan keinginan komunitas untuk keluar dari bayang-bayang pusat, membuka pintu bagi jaringan global, sekaligus tetap mempertahankan akar lokal.
Kini, bayangan politik identitas itu menjelma dalam bentuk lain: budaya populer.
Suatu sore di Hutan Samparona, beberapa remaja putri Baubau datang dengan mengenakan hanbok, baju khas Korea. Mereka membawa tripod kecil, menyalakan ponsel, lalu mulai merekam video. Di tengah gemericik air terjun dan rimbun pepohonan tropis, suara mereka mengalun, mendendangkan lagu BTS yang mereka hafal dari layar YouTube:
"Cause I-I-I'm in the stars tonight, So watch me bring the fire and set the night alight..."
Lagu “Dynamite” itu pecah di udara Samparona, jauh dari Seoul, tapi penuh semangat yang sama. Video mereka segera beredar di media sosial, ditonton ribuan orang.

Pemudi Baubau
Di situ, mimpi Korea di tanah Buton menemukan wujud barunya. Dari papan nama Hangeul di jalan kampung hingga nyanyian BTS di hutan tropis, Baubau menunjukkan bahwa identitas bisa cair, bisa dinegosiasikan, bahkan bisa dinyanyikan ulang, dengan cara mereka sendiri.