Laporan Eka Sastra dari Chongqing*
Langkah saya melambat ketika memasuki gang-gang batu di Ciqikou, sebuah kampung tua di tepi sungai Chongqing.
Rumah-rumah kayu bertingkat berdiri rapat di kiri-kanan, kedai teh kecil mengepulkan uap hangat, sementara warga lokal menjalani hari seperti biasa: menjajakan makanan, berbincang santai, atau duduk diam memandangi arus sungai.
Di tempat ini, sejarah tidak disimpan rapi di balik kaca museum. Sejarah hidup, bernapas, dan menyatu dengan keseharian.
Ciqikou hanyalah satu fragmen dari Chongqing, sebuah kota yang secara administratif bukan provinsi dan bukan pula kabupaten, melainkan municipality setingkat provinsi yang langsung berada di bawah pemerintah pusat Tiongkok, sejajar dengan Beijing, Shanghai, dan Tianjin.
Wilayahnya sangat luas, mencakup kawasan urban yang padat, perbukitan curam, desa-desa, hingga pedalaman Sungai Yangtze, dengan jumlah penduduk lebih dari 30 juta jiwa.
Dari Beijing, Chongqing berjarak sekitar 1.800 kilometer ke arah barat daya, sebuah perjalanan yang terasa seperti berpindah dunia, dari pusat politik nasional menuju jantung industri dan sungai di barat daya Tiongkok.
Chongqing dikenal sebagai gerbang hulu Sungai Yangtze, simpul logistik dan industri penting bagi kawasan pedalaman. Kota ini populer dengan lanskapnya yang vertikal dan dramatis: jembatan-jembatan raksasa yang melintasi sungai, sistem transportasi bertingkat, dan kabut yang hampir selalu menggantung di udara.

Di sini pula hotpot pedas yang membakar lidah menjadi identitas kuliner, kehidupan malam menyala di tepi sungai, dan cahaya gedung-gedung tinggi membentuk pemandangan kota yang seolah tumbuh ke atas sekaligus masuk ke perut bukit.
Namun di balik citra modern itu, kampung-kampung tua seperti Ciqikou tetap bertahan. Kampung ini menjadi penanda bahwa Chongqing tidak hanya berbicara tentang kecepatan, tetapi juga tentang ingatan.
Ciqikou sendiri pernah menjadi pelabuhan kecil, simpul perdagangan sungai, sekaligus kampung nelayan yang tumbuh mengikuti irama air dan kontur bukit.
Dari lorong-lorong sempit inilah saya mulai memahami watak Chongqing: sebuah kota besar yang tidak lahir dari ambisi menaklukkan alam, melainkan dari kesediaan panjang untuk berdamai dengannya.
Chongqing bukan kota yang mudah ditundukkan oleh cetak biru perencana. Bentuknya bertingkat, berbukit, dipotong oleh dua sungai besar, yakni Yangtze dan Jialing, serta kerap diselimuti kabut.
Namun alih-alih meratakan bukit atau memaksa sungai mengalah, kota ini memilih jalan yang lebih rumit sekaligus lebih berkelanjutan: menyesuaikan diri. Jalan-jalan bertingkat, bangunan vertikal, jembatan tinggi, dan sistem transportasi yang mengikuti kontur alam bukan sekadar pilihan estetika, melainkan jawaban atas keterbatasan ruang.
Bahkan kereta yang melintas menembus gedung, yang sering dianggap atraksi wisata, sejatinya adalah solusi fungsional. Di Chongqing, alam tidak diposisikan sebagai musuh pembangunan, melainkan mitra yang harus dipahami.
Di balik lanskapnya yang dramatis, Chongqing memikul sejarah yang berat. Pada masa Perang Tiongkok–Jepang, kota ini pernah menjadi ibu kota sementara dan mengalami pemboman intensif.

Luka itu tidak dihapus, tetapi juga tidak dipamerkan secara berlebihan. Sejarah diolah menjadi ketahanan sosial. Chongqing tumbuh dengan watak tangguh, keras, dan pragmatis. Ingatan kolektif tidak membebani langkah, melainkan menjadi energi yang mendorong kota bergerak maju.
Ritme kota hari ini yang cepat, padat, dan penuh daya, seolah lahir dari daya tahan panjang menghadapi tekanan.
Yang paling mengesankan adalah cara Chongqing merawat modernitas tanpa mengusir rakyatnya. Kawasan tua seperti Ciqikou tidak disterilkan menjadi museum mati. Pedagang kecil tetap berjualan, warga lokal tetap tinggal, dan wisatawan hadir sebagai tamu, bukan penguasa ruang.
Gedung-gedung tinggi dan pusat perbelanjaan modern berdiri tak jauh dari kampung lama, membentuk lanskap kota yang berlapis. Chongqing tidak mengejar citra kota global yang rapi namun kosong. Chongqing memilih menjadi kota yang ramai, berisik, dan bernyawa.
Di sini, pembangunan bukan sinonim penggusuran, melainkan proses merangkul.
undefined








