News
Travel

Chongqing: Kota yang Membangun Bersama Alam



Dari Chongqing, pelajaran itu terasa konkret. Keterbatasan geografis tidak dijadikan alasan untuk stagnasi, relasi dengan alam tidak diputus demi pertumbuhan, dan masyarakat lokal tidak diperlakukan sebagai penghambat, melainkan fondasi.

Kota ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan keberlanjutan sosial tidak harus saling meniadakan. Justru dengan mengakui kenyataan, baik itu bukit, sungai, sejarah, dan rakyat, pembangunan memperoleh daya tahan jangka panjang.

Mengingat Indonesia

Ketika saya meninggalkan Ciqikou dan kembali ke hiruk-pikuk Chongqing modern, satu pertanyaan terus mengemuka: apakah Indonesia berani menempuh jalan serupa, apakah Indonesia berani membangun bersama alam dan masyarakatnya sendiri?

Indonesia memiliki sungai, pesisir, pegunungan, dan kampung-kampung hidup seperti Ciqikou. Kita juga memiliki sejarah, keragaman budaya, dan masyarakat lokal yang kaya pengetahuan. Tantangannya bukan pada kekurangan model, tetapi pada keberanian memilih jalan yang kontekstual.

Chongqing memberi inspirasi bahwa pembangunan tidak harus dimulai dari meniru, tetapi dari mendengarkan alam dan rakyat sendiri. Membangun bukan dengan menaklukkan, melainkan dengan merawat dan bertumbuh bersama. Semoga jalan itu masih terbuka bagi Indonesia.

Perlahan, kapal feri saya berlabuh, meninggalkan Chongqing dengan inspirasinya yang menggoda, serta sejumput pertanyaan-pertanyaan yang belum selesai. 


*Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Ekonomi (IKAIE) Universitas Hasanuddin