FAKFAK TIMUR, UNHAS.TV - Upaya mengurai persoalan ekonomi masyarakat di kawasan transmigrasi Weri–Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, memasuki tahap pemetaan mendalam.
Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 16 Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar Focus Group Discussion (FGD) kedua dengan agenda social mapping untuk memetakan persoalan sosial, kelembagaan, hingga hambatan ekonomi yang dihadapi masyarakat setempat.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Koramil Kawasan Transmigrasi Weri–Saharey pada Kamis (3/9/2026), menjadi ruang pertemuan berbagai unsur masyarakat untuk membedah persoalan yang selama ini menghambat penguatan ekonomi kampung.
Forum mengangkat tema “Penguatan Kohesi Sosial Masyarakat Lokal dan Masyarakat Nusantara melalui Pendampingan Ekonomi Kolaboratif di Kawasan Transmigrasi Weri–Saharey, Papua Barat”.
Diskusi berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIT. Sebanyak 25 peserta hadir dalam forum tersebut, mulai dari Kepala Distrik Fakfak Timur, Kepala Kampung Weri, jajaran dewan adat, pengurus BUMKam Saharey, aparat keamanan, tokoh masyarakat lokal, hingga perwakilan masyarakat transmigran.
Program ini digagas oleh TEP 2026 Universitas Hasanuddin di bawah kepemimpinan Dr Sawedi Muhammad SSos MSc. Pelaksanaan lapangan dikoordinasikan oleh Nur Vidiah Rachmadani bersama anggota tim Andi Farhan Fauzi, Vilia Glaudya Paays, Azzahra Zainal, dan Sudirman M.
Forum diawali dengan doa bersama yang dipimpin Abdul Samai. Setelah itu, para peserta mulai mengidentifikasi berbagai persoalan yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi masyarakat kampung.
.webp)
SOCIAL MAPPING - Tim Ekspedisi Patriot 16 Unhas menggelar social mapping di Aula Koramil Weri–Saharey, Fakfak Timur, Kamis (3/9/2026). Kegiatan ini memetakan persoalan ekonomi kampung melalui diskusi kolaboratif bersama masyarakat. (Dok TEP Unhas)
Kepala Distrik Fakfak Timur, Gani Samai SE menilai peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam. Menurutnya, perubahan pola pikir masyarakat menjadi faktor penting dalam mendorong kemandirian ekonomi.
“Peningkatan kesejahteraan tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya alam, tetapi sangat dipengaruhi oleh pola pikir dan kemauan masyarakat untuk berinovasi," ujar Gani.
"Inovasi tidak harus rumit atau mahal, tetapi dimulai dari perubahan cara bekerja, cara mengolah komoditas agar bernilai tambah, dan cara membangun kerja sama melalui BUMKam yang profesional,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa lembaga ekonomi kampung harus mampu menjadi penggerak usaha masyarakat, bukan hanya memenuhi kebutuhan administrasi pemerintahan desa.
Narasumber ahli dari Unhas, Andi Nurlela SSos MSi., menyampaikan bahwa masyarakat perlu membangun sikap adaptif dalam menghadapi perubahan ekonomi. Ia mendorong warga agar tidak hanya menunggu program bantuan, tetapi aktif mencari peluang berdasarkan potensi lokal.
Menurut dia, pendampingan harus menjadi momentum untuk memperkuat disiplin kerja, meningkatkan kemampuan pengelolaan usaha, serta membuka ruang kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga ekonomi kampung.
Potensi Besar Pertanian, Perkebunan, Perikanan
>> Baca Selanjutnya
SOCIAL MAPPING - Tim Ekspedisi Patriot 16 Unhas menggelar social mapping di Aula Koramil Weri–Saharey, Fakfak Timur, Kamis (3/9/2026). Kegiatan ini memetakan persoalan ekonomi kampung melalui diskusi kolaboratif bersama masyarakat. (Dok TEP Unhas)








