Mahasiswa

Dari Limbah Menjadi Energi: Mahasiswa KKN-T Unhas Nyalakan Inovasi Hijau dari Arawa

Mahasiswa KKN-T Unhas mengubah sekam padi menjadi energi bersih demi desa mandiri berkelanjutan bersama di Desa Arawa. (Ilustrasi Chat GPT)

ARAWA, UNHAS.TV — Sekam padi yang selama ini kerap dipandang sebagai limbah pertanian mulai memperoleh makna baru di Kelurahan Arawa, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang.

Di tangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin, limbah tersebut dirancang menjadi briket yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif.

Gagasan itu diperkenalkan dalam Seminar Program Kerja Mahasiswa KKN-T Inovasi Desa Posko Kelurahan Arawa yang digelar di Kantor Kelurahan Arawa pada Selasa, 21 Juli 2026.

Seminar menjadi ruang perjumpaan antara mahasiswa, pemerintah, tenaga pendidik, tokoh lingkungan, dan masyarakat untuk menyusun langkah pengabdian yang sesuai dengan kebutuhan lokal.

Kegiatan tersebut dihadiri Camat Watang Pulu Masyur, S.Pd., M.A.P., Lurah Arawa Ruslan Pide, S.E., beserta jajarannya, koordinator tingkat sekolah dasar, kepala sekolah, guru, Kepala Lingkungan II, masyarakat, serta mahasiswa KKN-T Inovasi Desa.

Kelurahan Arawa merupakan bagian dari Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, sebuah wilayah yang kehidupan masyarakatnya tidak dapat dipisahkan dari aktivitas pertanian dan pembangunan berbasis pedesaan.

Program Lahir dari Pengamatan Lapangan

Mahasiswa tidak datang dengan membawa program yang sepenuhnya disusun dari ruang kuliah.

Sebelum seminar dilaksanakan, mereka terlebih dahulu melakukan observasi terhadap kondisi sosial, lingkungan, pendidikan, dan potensi ekonomi masyarakat Arawa.

Hasil pengamatan tersebut kemudian dirumuskan menjadi tiga program kerja kelompok dan tujuh program kerja individu.

Setiap program dirancang untuk menjawab persoalan yang ditemukan di tengah masyarakat sekaligus mengoptimalkan potensi yang telah tersedia.

Seminar program kerja tidak sekadar menjadi kegiatan pemaparan, tetapi juga menjadi mekanisme koreksi bersama.

Pemerintah kelurahan dan masyarakat memperoleh kesempatan untuk memberikan tanggapan, masukan, serta pertimbangan agar program mahasiswa dapat diterapkan secara tepat.

Mahasiswa KKN-T Unhas bersama pemerintah dan warga Arawa satukan inovasi membangun desa berkelanjutan dan mandiri. (Foto: Dok.Pribadi).
Mahasiswa KKN-T Unhas bersama pemerintah dan warga Arawa satukan inovasi membangun desa berkelanjutan dan mandiri. (Foto: Dok.Pribadi).


Pendekatan tersebut penting karena keberhasilan pengabdian masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kualitas gagasan, tetapi juga oleh keterlibatan warga sejak tahap perencanaan.

Program yang disusun bersama masyarakat cenderung lebih mudah diterima, dijalankan, dan dilanjutkan setelah masa KKN berakhir.

BRISMART Mengubah Sekam Padi Menjadi Bahan Bakar

Salah satu program unggulan yang menarik perhatian peserta seminar adalah BRISMART, akronim dari Briket Sekam Padi sebagai Solusi Energi Terbarukan.

Program tersebut berfokus pada pengolahan sekam padi menjadi bahan bakar padat yang lebih mudah disimpan dan dimanfaatkan.

Sekam padi merupakan lapisan keras yang terpisah dari bulir beras dalam proses penggilingan.

Dalam jumlah besar, limbah ini sering kali menumpuk, dibuang, atau dibakar secara terbuka apabila tidak dikelola dengan baik.

Melalui proses pengeringan, pengarangan, penghalusan, pencampuran bahan perekat, pencetakan, dan pengeringan kembali, sekam padi dapat diolah menjadi briket yang mempunyai nilai guna.

Briket dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk kebutuhan rumah tangga maupun kegiatan usaha berskala kecil, bergantung pada kualitas bahan dan proses pembuatannya.

Program BRISMART menempatkan limbah pertanian bukan sebagai beban lingkungan, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dikembangkan melalui pengetahuan dan teknologi sederhana.

Gagasan tersebut sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang berupaya mempertahankan nilai suatu bahan selama mungkin serta mengurangi jumlah limbah yang berakhir di lingkungan.

Potensi Besar dari Sentra Produksi Padi

Pemanfaatan sekam padi memiliki arti penting bagi Indonesia sebagai salah satu negara penghasil padi terbesar di dunia.

Sebuah kajian yang diterbitkan pada 2025 memperkirakan bahwa produksi padi Indonesia pada 2024 mencapai 53,14 juta ton dan berpotensi menghasilkan sekitar 10,63 juta ton sekam padi.

Angka tersebut menunjukkan bahwa limbah penggilingan padi sesungguhnya menyimpan potensi energi yang sangat besar apabila dikelola secara sistematis.

Mahasiswa KKN-T Unhas memaparkan inovasi BRISMART, mengajak warga Arawa membangun energi terbarukan berkelanjutan bersama. (Foto: Dok.Pribadi).
Mahasiswa KKN-T Unhas memaparkan inovasi BRISMART, mengajak warga Arawa membangun energi terbarukan berkelanjutan bersama. (Foto: Dok.Pribadi).


Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga memasukkan sekam padi sebagai salah satu sumber biomassa yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi, bersama limbah kelapa sawit, tebu, jagung, kayu, limbah ternak, dan sampah perkotaan.

Secara nasional, potensi biomassa untuk pembangkit listrik pernah diperkirakan mencapai 31.654 megawatt, meskipun pemanfaatannya masih membutuhkan teknologi, tata kelola bahan baku, dan model ekonomi yang berkelanjutan.

Bioenergi juga dinilai fleksibel karena dapat digunakan dalam bentuk listrik, panas, maupun bahan bakar, sehingga pengembangannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam konteks Arawa, teknologi briket dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan energi terbarukan dalam bentuk yang sederhana dan mudah dipahami.

Masyarakat tidak harus memulai dari teknologi berskala besar.

Perubahan dapat dimulai dari kemampuan mengolah bahan yang tersedia di sekitar menjadi produk yang berguna, hemat, dan memiliki nilai ekonomi.

Inovasi Harus Aman dan Terukur

Meskipun menjanjikan, pemanfaatan briket tetap memerlukan perhatian terhadap mutu bahan baku, kadar air, kekuatan briket, nilai kalor, emisi asap, dan keamanan penggunaannya.

Briket yang tidak diproduksi dengan baik dapat menghasilkan pembakaran yang tidak sempurna dan menimbulkan asap berlebihan.

Karena itu, program BRISMART perlu disertai edukasi mengenai proses produksi, penggunaan tungku yang memiliki ventilasi baik, serta penyimpanan bahan bakar secara aman.

Pengujian sederhana juga diperlukan agar masyarakat mengetahui apakah briket mudah menyala, berapa lama waktu pembakarannya, dan seberapa banyak abu yang dihasilkan.

Pendekatan ilmiah semacam ini akan membedakan program inovasi dari kegiatan demonstrasi sesaat.

Mahasiswa tidak hanya memperlihatkan cara membuat briket, tetapi juga perlu membantu masyarakat memahami alasan ilmiah di balik setiap tahapan produksi.

Dengan demikian, warga dapat memperbaiki kualitas produk secara mandiri apabila program tersebut dikembangkan lebih lanjut.

Pemerintah Kelurahan Buka Ruang Kolaborasi

Lurah Arawa Ruslan Pide menyambut kehadiran mahasiswa KKN-T dan menyatakan dukungan pemerintah kelurahan terhadap program yang akan dilaksanakan.

Dukungan tersebut menjadi modal sosial yang penting karena mahasiswa membutuhkan keterlibatan aparatur pemerintah, tokoh masyarakat, sekolah, dan warga selama proses pelaksanaan program.

Pemerintah kelurahan juga memiliki peran strategis dalam mempertemukan mahasiswa dengan kelompok masyarakat yang berpotensi menjadi penerima manfaat.

Kolaborasi dapat diarahkan kepada kelompok tani, pelaku usaha rumah tangga, pemuda, sekolah, maupun komunitas lingkungan.

Keterlibatan sekolah dalam seminar turut membuka peluang agar program pengabdian tidak hanya menyentuh aspek ekonomi dan lingkungan, tetapi juga pendidikan.

Pengetahuan tentang pengolahan limbah, energi terbarukan, dan ekonomi sirkular dapat diperkenalkan sejak dini kepada peserta didik melalui kegiatan yang sederhana dan kontekstual.

Anak-anak dapat belajar bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya kumpulan teori di dalam buku, melainkan alat untuk memecahkan persoalan yang mereka temui sehari-hari.

KKN sebagai Laboratorium Sosial

Pelaksanaan KKN pada dasarnya merupakan jembatan antara perguruan tinggi dan masyarakat.

Mahasiswa belajar memahami kenyataan sosial yang sering kali lebih kompleks daripada persoalan yang dibahas di ruang kelas.

Masyarakat, pada saat yang sama, memperoleh akses terhadap gagasan, pengetahuan, dan teknologi yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan lokal.

Melalui proses tersebut, kampus tidak berdiri sebagai menara gading yang jauh dari kehidupan warga.

Perguruan tinggi hadir sebagai mitra yang mendengarkan, belajar, dan bekerja bersama masyarakat.

Program seperti BRISMART juga menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus lahir dari mesin mahal atau laboratorium besar.

Inovasi dapat tumbuh dari kemampuan membaca persoalan sederhana, seperti tumpukan sekam padi, kemudian mengubahnya menjadi peluang energi dan ekonomi.

Namun, keberlanjutan tetap menjadi ujian utama.

Program pengabdian akan memiliki dampak yang lebih kuat apabila pengetahuan yang diberikan dapat diteruskan oleh masyarakat setelah mahasiswa meninggalkan lokasi KKN.

Karena itu, pelatihan, dokumentasi, pembentukan kelompok pengelola, serta pendampingan pemerintah setempat menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Menyalakan Harapan dari Desa

Seminar Program Kerja KKN-T Inovasi Desa Gelombang 116 Unhas di Arawa menandai dimulainya kerja bersama yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.

Tiga program kelompok dan tujuh program individu menjadi rangkaian ikhtiar mahasiswa untuk menghadirkan manfaat selama masa pengabdian.

Di antara seluruh program itu, BRISMART membawa pesan yang sederhana tetapi kuat.

Apa yang selama ini dianggap limbah dapat berubah menjadi energi ketika disentuh oleh pengetahuan, kreativitas, dan kemauan untuk berkolaborasi.

Dari Arawa, mahasiswa Unhas menunjukkan bahwa transisi energi tidak selalu harus dimulai dari proyek raksasa.

Ia dapat tumbuh dari desa, dari penggilingan padi, dan dari keberanian generasi muda melihat peluang di balik sesuatu yang selama ini terbuang.

Ketika pemerintah, masyarakat, sekolah, dan perguruan tinggi bergerak bersama, sekam padi bukan lagi sekadar sisa panen.

Ia dapat menjadi nyala kecil yang menerangi jalan menuju desa yang lebih mandiri, inovatif, dan berkelanjutan. (*)