Econotalks
Ekonomi
Program

Dari Uang Saku ke Investasi, Strategi Mahasiswa Membangun Masa Depan

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (FEB Unhas) Dr Nur Alamzah SE MSi. (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Investasi kini semakin mudah diakses oleh masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa.

Jika dahulu investasi identik dengan modal besar dan hanya dapat dilakukan oleh kalangan tertentu, kini dengan perkembangan teknologi digital, masyarakat sudah dapat mulai berinvestasi dengan nominal yang sangat terjangkau, bahkan mulai dari Rp10 ribu.

Dalam program Econotalks Unhas TV, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Dr Nur Alamzah SE MSi menjelaskan bahwa investasi merupakan kegiatan menempatkan sejumlah dana atau aset pada instrumen tertentu dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa depan.

Ia menambahkan bahwa cara-cara investasi telah mengalami perubahan dan perkembangan signifikan dari waktu ke waktu.

“Dulu investasi hanya bisa dilakukan oleh kalangan tertentu dengan modal besar. Namun seiring perkembangan, masyarakat kini dapat berinvestasi secara kolektif melalui saham, hingga akhirnya terbuka luas untuk publik melalui bursa dan reksa dana,” jelasnya.

Lebih lanjut, perkembangan teknologi digital menjadi faktor utama yang membuat investasi semakin mudah dijangkau.

Melalui berbagai platform digital, masyarakat kini dapat membuka rekening, melakukan transaksi, hingga memantau perkembangan investasi hanya melalui ponsel.

Selain itu, rendahnya batas modal awal juga menjadi daya tarik tersendiri. Dengan dana yang terbatas, masyarakat tetap dapat berinvestasi di berbagai instrumen yang tersedia.

Ditambah lagi, semakin beragamnya pilihan instrumen investasi membuat masyarakat memiliki banyak alternatif sesuai kebutuhan dan profil risiko.

Nur Alamzah juga menekankan pentingnya literasi keuangan. Menurutnya, pemahaman tentang konsep nilai waktu uang (time value of money) menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat untuk berinvestasi.

Daripada membiarkan uang mengendap, investasi dinilai lebih efektif untuk menjaga dan meningkatkan nilai aset di masa depan.

Ia juga menyoroti faktor lain yang mendorong minat mahasiswa terhadap investasi, yaitu kemudahan akses informasi melalui media digital seperti YouTube, TikTok, dan Instagram.

Media tersebut dinilai lebih menarik dan mudah dipahami oleh generasi muda dibandingkan metode pembelajaran konvensional.

Meski demikian, mahasiswa tetap diingatkan untuk tidak sekadar mengikuti tren. Pemahaman yang matang, perencanaan yang jelas, serta pemilihan instrumen yang tepat menjadi kunci dalam berinvestasi.

“Apapun kondisi kita, investasi tetap harus dilakukan. Karena ini berkaitan dengan masa depan. Jangan berpangku tangan, generasi muda harus bergerak dan mulai merencanakan masa depannya sejak sekarang,” tegasnya.

Dengan kemudahan akses dan dukungan teknologi, investasi kini bukan lagi hal yang sulit dijangkau. Namun, kesiapan pengetahuan dan sikap bijak dalam mengelola keuangan tetap menjadi faktor utama agar investasi dapat memberikan manfaat optimal di masa mendatang.

(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)