Internasional
News
Opini
Polhum

Dia yang Membaca KANT, Dia yang Mati oleh RUDAL

Ilustrasi: Immanuel Kant dan Ali Larijani

Oleh: Yusran Darmawan*

Pada suatu hari di tahun 2015, di sela-sela pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, seorang pejabat senior Iran duduk berhadapan dengan Henry Kissinger. 

Percakapan itu tampak seperti dialog diplomatik biasa, tetapi sesungguhnya ia mempertemukan dua cara membaca dunia: satu lahir dari pengalaman panjang Amerika sebagai kekuatan global, satu lagi dari pengalaman Iran sebagai negara yang hidup di bawah tekanan sekaligus perlawanan.

Kisah percakapan ini kemudian dicatat oleh Vali Nasr dalam bukunya Iran's Grand Strategy: A Political History, terbitan tahun 2025 oleh Princeton University Press, sebuah karya yang menunjukkan bahwa Iran tidak semata digerakkan oleh ideologi, melainkan oleh strategi besar yang rasional, historis, dan berlapis.

Dalam buku itu, percakapan tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami cara berpikir elite Iran yang sering disalahpahami oleh Barat. Kissinger, dengan naluri realisnya, mengajukan pertanyaan yang telah lama menjadi asumsi Barat: kapan Iran akan berhenti menjadi kekuatan revolusioner dan mulai bertindak sebagai negara yang pragmatis? 

Kapan Iran akan meninggalkan identitas ideologisnya dan masuk ke dalam logika negara-bangsa modern? Dan pada akhirnya, kapan Iran akan berdamai dengan Amerika Serikat? 

Pertanyaan itu bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan cerminan keyakinan lama bahwa waktu akan menormalkan segalanya, bahwa ideologi akan melemah, bahwa kepentingan ekonomi dan stabilitas akan menang, dan bahwa setiap negara pada akhirnya akan tunduk pada rasionalitas yang sama.

Namun, di hadapan Kissinger saat itu bukan sekadar seorang politisi. Ia adalah Ali Larijani, seorang doktor filsafat yang menulis tentang Immanuel Kant dan bahkan menerjemahkan karya-karyanya ke dalam bahasa Persia. 

Lahir dari keluarga ulama berpengaruh, Larijani menapaki lintasan yang tidak lazim: dari dunia intelektual menuju pusat kekuasaan. Ia pernah terlibat dalam struktur militer, memimpin lembaga penyiaran nasional, menjadi negosiator nuklir, hingga menjabat Ketua Parlemen Iran.

Dalam dirinya, filsafat, strategi, dan kekuasaan bertemu dalam satu sosok yang jarang ditemukan dalam politik modern.

Alih-alih menjawab pertanyaan Kissinger secara langsung, Larijani justru menggeser arah percakapan. Ia tidak bertanya kapan Iran akan berubah, tetapi kapan Amerika yang akan lelah. 

Pertanyaan ini membawa percakapan mereka pada pemikiran Kant, khususnya gagasan tentang perpetual peace. Dalam esainya tahun 1795, Kant menulis, “The state of peace among men living side by side is not the natural state; the natural state is one of war.” 

Bagi Kant, perdamaian bukanlah kondisi alami manusia. Yang alami justru konflik. Perdamaian harus dibangun melalui rasionalitas, institusi, dan pengalaman pahit dari perang itu sendiri.

Kant kemudian menambahkan logika yang lebih tajam: “War itself… becomes gradually more destructive and costly, so that states must eventually feel compelled to abandon it.” Perang akan menjadi semakin mahal dan merusak hingga negara-negara pada akhirnya dipaksa untuk menghentikannya. 

Perdamaian, dalam kerangka ini, bukan lahir dari moralitas, melainkan dari kelelahan, dari titik ketika biaya konflik melampaui manfaatnya.

Di sinilah perbedaan tafsir muncul. Bagi Kissinger, gagasan Kant adalah jalan menuju stabilitas. Ia membaca bahwa semua negara akan sampai pada titik jenuh tersebut, lalu memilih kompromi. Dalam kerangka ini, Iran hanyalah soal waktu, suatu hari ia akan berubah. 

Namun Larijani membaca Kant dengan cara yang berbeda, bahkan lebih strategis. Ia tidak melihat dirinya sebagai subjek yang akan kelelahan, melainkan melihat lawannya sebagai pihak yang bisa didorong menuju kelelahan itu.

Jika perang berhenti karena biaya terlalu tinggi, maka strategi bukanlah menghindari konflik, melainkan mengatur agar biaya itu lebih berat bagi lawan. 

Dalam pembacaan Larijani, kutipan Kant berubah fungsi: bukan lagi sekadar refleksi filosofis, tetapi peta strategi. Perdamaian akan datang, tetapi hanya setelah satu pihak tidak lagi sanggup melanjutkan perang. Dengan demikian, Kant tidak lagi dibaca sebagai filsuf moral, melainkan sebagai analis tentang daya tahan.

Strategi Iran pun menemukan bentuknya dalam logika tersebut. Ia bukan tentang kemenangan cepat, melainkan tentang ketahanan jangka panjang. Tekanan ekonomi dijawab dengan adaptasi internal. Tekanan militer dijawab dengan perang tidak langsung melalui jaringan proksi. 

Isolasi dijawab dengan membangun jalur alternatif. Semua diarahkan pada satu tujuan: membuat biaya konflik bagi lawan terus meningkat dari waktu ke waktu hingga akhirnya tidak lagi rasional untuk dilanjutkan.


>> Baca Selanjutnya