
Di pos-pos kepolisian kecil sepanjang jalur Trans-Sumatera, semua mencari Bilqis. Semua menjadi satu: wajah seorang anak yang harus ditemukan, apapun caranya.
Dan di tengah gelombang kepedulian itu, doa-doa terus menembus langit. Di masjid, di gereja, di rumah-rumah yang sederhana. Bahkan seorang pengemudi ojek daring menulis status: Kalau saya lihat anak itu di jalan, saya berhenti, saya peluk, saya antar ke rumahnya.
Kalimat sederhana yang mungkin tak pernah sampai ke telinga keluarga Bilqis, tapi entah bagaimana, menggetarkan hati siapa pun yang membacanya.
Hari ketujuh, malam Sabtu, udara di Makassar terasa berat. Doa ibunda Bilqis di sajadahnya kembali diulang seperti setiap malam. Lirih tapi pasti. Lalu ponsel bergetar. Kabar datang dari Jambi: seorang anak kecil ditemukan, sendirian, mengenakan jaket lusuh.
Polisi segera mengonfirmasi. Semua langkah yang ditempuh, semua sinyal yang diikuti, semua doa yang diucap, akhirnya bertemu di satu titik terang.
Dan ketika malam menurunkan hujan tipis, mukjizat itu benar-benar datang. Bilqis ditemukan.
***
Ketika layar ponsel menyala, wajah Bilqis muncul. Wajah yang sama, tapi dengan cahaya yang berbeda.
“Papa…” suaranya kecil, serak, namun cukup untuk memecah tangis di seluruh rumah. Ayahnya tak bisa berkata apa-apa. Ibunya sujud di lantai, menyebut nama Tuhan di antara isak, “Alhamdulillah… Engkau kembalikan anakku.”
Video itu menyebar ke seluruh negeri. Tapi tak ada sensasi di dalamnya. Yang ada hanyalah cinta, keikhlasan, dan pengingat bahwa di tengah semua luka sosial kita, masih ada sesuatu yang menyatukan: doa seorang ibu, harapan orang banyak, dan tekad aparat yang tak menyerah.
Dan di Makassar, langit malam tampak sedikit lebih terang. Seolah balon merah yang dulu melayang kini kembali turun, membawa pesan sederhana:
Bahwa dunia ini masih punya ruang untuk keajaiban. Bahwa doa ibu tidak pernah tersesat. Bahwa solidaritas bisa mengalahkan kejahatan.
Kisah Bilqis bukan sekadar berita yang akan dilupakan esok hari. Ia adalah pengingat abadi: bahwa di tengah hiruk-pikuk zaman, di antara layar-layar dingin dan komentar sinis, masih ada kasih yang murni, menembus batas pulau, waktu, dan langit.
Mungkin, inilah arti sejati dari kata pulang: bukan sekadar kembali ke rumah, tapi menemukan lagi pelukan yang membuat dunia terasa aman. Pulang adalah saat ketika seseorang yang hilang akhirnya kembali ke tempat di mana doa-doa dilahirkan.
Dalam setiap pencarian, selalu ada yang tersisa—bekas takut, trauma, tapi juga kasih yang lebih dalam. Bilqis telah kembali, namun kisahnya meninggalkan jejak: bahwa kebaikan bisa berlipat ganda hanya karena satu nama kecil yang diserukan bersama.
Dan kita pun belajar, bahwa setiap anak yang selamat, setiap doa yang dikabulkan, adalah pengingat bahwa dunia ini belum sepenuhnya gelap.
Selalu ada cahaya kecil yang menyala, di dada seorang ibu yang tak berhenti berdoa.








