Ada buku yang lahir dari gagasan, tetapi ada pula yang lahir dari pertemuan panjang antara pengalaman, ketekunan, dan rasa ingin tahu yang tidak pernah selesai.
Geology of the Sulawesi Region termasuk dalam kategori kedua. Buku ini bukan sekadar karya akademik, melainkan hasil dari dialog lintas generasi antara dua geolog yang dipertemukan oleh satu objek yang sama: Sulawesi.
Di balik lebih dari seribu halaman yang tersusun dalam dua volume, tersimpan kisah tentang Theo van Leeuwen dan Adi Maulana.
Theo adalah geolog senior yang telah meneliti Sulawesi sejak 1970-an, sementara Adi merupakan ilmuwan generasi baru yang tumbuh dan berkembang dalam tradisi akademik modern, dengan Sulawesi sebagai ruang belajarnya.
Perbedaan generasi ini justru menjadi kekuatan utama, karena keduanya membawa cara pandang yang berbeda, namun saling melengkapi.
Theo datang ke Sulawesi dalam konteks industri, ketika eksplorasi mineral menjadi bagian dari agenda besar perusahaan global. Namun dalam prosesnya, ia menemukan sesuatu yang melampaui kepentingan ekonomi semata.
Ia menyadari bahwa Sulawesi menyimpan rekaman geologi yang sangat kompleks, lapisan-lapisan batuan yang mencerminkan sejarah panjang interaksi antara lempeng benua Asia dan Australia. Pengalaman lapangan selama puluhan tahun memberinya pemahaman yang tidak hanya berbasis data, tetapi juga intuisi ilmiah yang terasah oleh waktu.
Adi Maulana memulai dari titik yang berbeda, tetapi dengan intensitas yang sama. Pengalamannya di Bantimala membentuk ketertarikan awalnya terhadap batuan metamorfik, yang secara geologis merupakan hasil dari tekanan dan temperatur ekstrem.
Dari sana, ia menempuh pendidikan di Australia dan Jepang, memperluas kerangka berpikirnya, sekaligus mengasah kemampuan analisis yang lebih sistematis.
Salah satu kontribusi pentingnya adalah menunjukkan bahwa kompleks Bantimala dan Barru, yang sebelumnya dianggap satu kesatuan, sebenarnya berasal dari sumber dan lingkungan tektonik yang berbeda. Temuan ini memperlihatkan bahwa Sulawesi tidak bisa dipahami dengan pendekatan yang sederhana.
Pertemuan antara Theo dan Adi sekitar tahun 2010 menjadi titik balik yang penting. Keduanya tidak hanya berbagi data, tetapi juga berbagi kegelisahan intelektual yang sama: bagaimana menyusun pemahaman yang lebih utuh tentang geologi Sulawesi. Dari sinilah kolaborasi dimulai, melalui berbagai riset bersama, diskusi, dan pertukaran gagasan yang berlangsung secara intens.
Keputusan untuk menulis buku muncul beberapa tahun setelah pertemuan mereka. Pada awalnya, mereka hanya berencana menyusun kajian tentang Sulawesi Barat, wilayah yang paling banyak mereka teliti.
Namun seiring berjalannya waktu, mereka menyadari bahwa pendekatan parsial tidak cukup untuk menjelaskan kompleksitas Sulawesi. Oleh karena itu, cakupan buku diperluas hingga mencakup seluruh wilayah Sulawesi, lengkap dengan aspek stratigrafi, struktur geologi, hingga rekonstruksi paleogeografi.
Proses penulisan buku ini berlangsung lebih dari satu dekade, sebuah durasi yang mencerminkan tingkat kompleksitas materi yang dihadapi. Mereka harus mengumpulkan dan memverifikasi data dari berbagai sumber, termasuk publikasi ilmiah, laporan perusahaan, serta hasil penelitian yang belum dipublikasikan.
Selain itu, mereka juga berdiskusi dengan berbagai ilmuwan internasional untuk memastikan bahwa interpretasi yang disajikan memiliki dasar yang kuat.
Tantangan terbesar dalam proses ini bukan hanya pada pengumpulan data, tetapi pada bagaimana menyusun narasi ilmiah yang konsisten di tengah fakta bahwa data terus berkembang.
Dalam banyak kasus, temuan baru justru membuka pertanyaan baru, sehingga membuat batas antara pengetahuan yang pasti dan yang masih spekulatif menjadi semakin tipis.
Oleh karena itu, keputusan untuk menyelesaikan buku ini pada titik tertentu merupakan pilihan metodologis, bukan karena semua pertanyaan telah terjawab, tetapi karena diperlukan sebuah pijakan awal bagi penelitian selanjutnya.
Di sinilah buku ini memperoleh makna strategisnya. Ia tidak hanya menjelaskan struktur geologi Sulawesi, tetapi juga memberikan konteks yang lebih luas tentang potensi sumber daya alam yang terkandung di dalamnya.
Sulawesi dikenal sebagai wilayah yang kaya akan nikel, serta memiliki indikasi keberadaan logam tanah jarang yang kini menjadi komoditas penting dalam industri teknologi global. Dalam konteks geopolitik kontemporer, di mana persaingan antarnegara semakin dipengaruhi oleh akses terhadap sumber daya strategis, pemahaman geologi menjadi sangat relevan.
Kita dapat melihat bagaimana konflik global, termasuk perang Rusia dan Ukraina, memperlihatkan bahwa energi dan mineral bukan lagi sekadar komoditas ekonomi, tetapi telah menjadi instrumen kekuatan politik.
Dalam situasi seperti ini, informasi yang disajikan dalam buku ini menjadi penting, karena menunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Sulawesi, memiliki posisi yang strategis dalam peta sumber daya global.
Namun demikian, buku ini tidak berhenti pada aspek eksploitasi. Para penulisnya menegaskan bahwa sumber daya geologi harus dipahami sebagai aset nasional yang memerlukan pengelolaan yang bijak dan beretika.
Tanpa pemahaman yang memadai, eksploitasi justru dapat menimbulkan dampak negatif, baik secara ekologis maupun sosial. Oleh karena itu, buku ini juga dapat dibaca sebagai upaya untuk membangun kesadaran bahwa ilmu pengetahuan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan keberlanjutan.
Sebagai sebuah karya besar, buku ini tidak hanya hadir di ruang akademik, tetapi juga akan diperkenalkan kepada publik. Peluncuran Geology of the Sulawesi Region dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 29 April 2026, pukul 09.00–13.00 WITA, di UNHAS Hotel & Convention, Makassar.
Momen ini bukan sekadar seremoni penerbitan buku, melainkan penanda penting bahwa kerja panjang lebih dari satu dekade akhirnya menemukan bentuknya, dan siap menjadi rujukan bagi banyak pihak.

Prof. Adi Maulana
Geology of the Sulawesi Region bukanlah sebuah kesimpulan, melainkan sebuah langkah dalam proses panjang memahami bumi. Buku ini menunjukkan bahwa pengetahuan tidak pernah benar-benar final, tetapi selalu berkembang seiring dengan ditemukannya data baru dan munculnya perspektif baru.
Lebih dari itu, buku ini adalah bukti bahwa kolaborasi lintas generasi dapat menghasilkan sesuatu yang melampaui kapasitas individu. Theo van Leeuwen membawa pengalaman dan kedalaman observasi lapangan, sementara Adi Maulana menghadirkan pendekatan analitis yang sistematis dan kontekstual. Keduanya tidak saling menggantikan, tetapi saling melengkapi.
Sulawesi, dalam hal ini, bukan hanya objek kajian, tetapi juga ruang pertemuan, ruang di mana pengalaman, pengetahuan, dan waktu berkelindan.
Dari pertemuan itulah lahir sebuah karya yang tidak hanya membantu kita memahami masa lalu bumi, tetapi juga memberi arah bagi masa depan.








