Econotalks
Ekonomi

El Nino Ancam Pasokan Pangan, Pemerintah Diminta Perkuat Intervensi dari Hulu hingga Hilir

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Dr Suharwan Hamzah SE MSi saat tampil dalam program Econotalks di Studio Unhas TV, Kamis (8/10/2026). (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Fenomena El Nino yang berkepanjangan berisiko menekan produksi pangan dan mendorong kenaikan harga di pasar.

Kondisi ini dinilai membutuhkan intervensi pemerintah secara menyeluruh, mulai dari sektor produksi hingga distribusi dan pengendalian harga.

El Nino yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada kondisi cuaca, tetapi juga berpotensi mengganggu produksi pangan. Keterbatasan air dapat menurunkan hasil pertanian dan memengaruhi ketersediaan sejumlah komoditas di pasar.

Ketika pasokan menurun sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, harga pangan berpeluang mengalami kenaikan. Karena itu, pemerintah dinilai perlu melakukan langkah antisipasi sejak dari sektor hulu.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Dr Suharwan Hamzah SE MSi, mengatakan intervensi pemerintah perlu dilakukan secara menyeluruh untuk menjaga produksi sekaligus menekan tekanan harga pangan.

“Jadi dalam menekan harga El Nino yang berkepanjangan ini, sebenarnya dibutuhkan intervensi pemerintah dalam hal ini dari hulu. Dan intervensi pemerintah dalam hal ini secara menyeluruh dari hulu sampai hilir,” ungkapnya.

Menurutnya, intervensi dari sisi hulu dapat dilakukan melalui pembangunan infrastruktur pendukung pertanian, termasuk pengairan, serta perlindungan terhadap petani yang menghadapi risiko akibat kondisi cuaca.

“Misalnya dari hulu pemerintah bisa laksanakan misalnya dengan pempanisasi. Kemudian yang kedua bisa dilaksanakan dengan adanya asuransi usaha tani,” tuturnya.

Selain perlindungan terhadap petani, penyediaan varietas bibit unggul yang mampu bertahan dalam kondisi kekeringan juga dinilai penting untuk menjaga produktivitas pertanian. “Kemudian selanjutnya bisa disediakan varietas bibit unggul yang misalnya tahan kering,” jelasnya.

Tidak hanya pada sektor produksi, penguatan distribusi antardaerah juga diperlukan untuk memastikan komoditas pangan tetap tersedia di wilayah yang mengalami kekurangan pasokan.

“Kemudian dari distribusi dalam hal ini di tengah, maka fasilitas dan kerja sama antar daerah ini diperlukan misalnya dalam proses memindahkan dari daerah komoditas, dari daerah yang surplus ke daerah yang defisit,” ungkap Suharwan.

Langkah tersebut dinilai dapat membantu mengurangi kesenjangan pasokan antara daerah yang mengalami surplus dan daerah yang mengalami defisit komoditas pangan.

Sementara itu, pada sisi hilir, pemerintah dapat melakukan intervensi untuk menjaga harga pangan tetap berada pada tingkat yang terjangkau masyarakat, terutama ketika terjadi gangguan pasokan.

“Kemudian yang ketiga dari intervensi bisa dilakukan di sisi hilir. Dalam hal ini misalnya bagaimana menekan supaya harganya, harga pangan itu masih aman,” tuturnya.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah melalui operasi pasar. Kebijakan tersebut dapat digunakan untuk menjaga stabilitas harga ketika pasokan komoditas mulai berkurang.

“Bisa dilakukan dengan operasi pasar atau misalnya kalau sudah terjadi kekurangan, maka impor ini bisa dilakukan. Saya kira seperti itu,” pungkasnya.

Intervensi dari hulu hingga hilir dinilai menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman El Nino berkepanjangan. Pemerintah tidak hanya dituntut menjaga produksi pangan, tetapi juga memastikan distribusi berjalan lancar dan harga tetap terkendali.

Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga ketersediaan pangan sekaligus menekan tekanan kenaikan harga yang berpotensi membebani masyarakat.

(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)