Econotalks
Ekonomi
Program

Soroti Risiko FOMO Bisnis, Dosen FEB Unhas: UMKM Jangan Terjebak Viral Sesaat!

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Andi Tenri Harahap, sebagai narasumber dalam Econotalks bertajuk Viral Hari Ini, Sepi Besok? Cara UMKM Bertahan di Era FOMO Bisnis”, Jumat (16/4/2026). (Unhas TV/Paramitha)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Fenomena bisnis yang viral namun cepat meredup menjadi sorotan dalam program Econotalks yang digelar di Studio Podcast Unhas TV pada Jumat (17/4/2026).

Mengangkat tema “Viral Hari Ini, Sepi Besok? Cara UMKM Bertahan di Era FOMO Bisnis”, diskusi ini menghadirkan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Andi Tenri Harahap, sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, ia menyoroti bahwa fenomena viralitas yang marak di era digital kerap mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mengikuti tren tanpa perencanaan jangka panjang.

Menurutnya, viralitas seharusnya tidak dipahami sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai pintu masuk ke pasar.

“Viral itu hanya door opening. Itu cara UMKM masuk ke pasar, tapi setelah itu yang jadi pertanyaan adalah apakah mereka bisa bertahan atau tidak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir, jumlah UMKM di Indonesia terus meningkat signifikan, didorong oleh percepatan digitalisasi, khususnya pascapandemi.

Saat ini, terdapat sekitar 64 juta UMKM yang berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta menyerap hampir 90 persen tenaga kerja nasional. 

Meski demikian, sebagian besar UMKM masih menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan usahanya.

Menurutnya, sekitar 80 persen UMKM masih berada dalam kondisi struggling untuk bertahan. Salah satu penyebab utama adalah ketergantungan pada tren viral tanpa diimbangi pemahaman pasar dan strategi bisnis yang matang.

“Banyak yang tumbuh cepat, tapi tidak tumbuh kuat. Ketika produknya sudah tidak viral, mereka kehilangan arah karena tidak punya fondasi bisnis yang jelas,” jelasnya.

Ia juga menyoroti peran besar media sosial dalam membentuk tren konsumsi. Platform digital seperti TikTok dan Instagram dinilai mampu menciptakan permintaan secara instan melalui eksposur yang luas, misalnya melalui ulasan food blogger atau konten viral bertajuk hidden gem. Namun, ia menegaskan bahwa viralitas tidak menjamin keberlanjutan usaha.

“Media sosial memang memudahkan UMKM dikenal, tapi tidak menjamin bisnis itu sustain. Yang menentukan adalah relevansi produk terhadap kebutuhan pasar,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perilaku konsumen di era digital cenderung dinamis dan mudah berpindah mengikuti tren. Hal ini menuntut pelaku usaha untuk mampu menjaga loyalitas pelanggan melalui pengalaman konsumen dan inovasi produk yang berkelanjutan.

Ia menekankan pentingnya menciptakan unique selling value atau nilai keunikan produk sebagai pembeda di tengah persaingan pasar yang ketat. Tanpa diferensiasi yang jelas, produk UMKM akan sulit bertahan meski sempat viral.

“Pasar kita itu dinamis tapi belum stabil. Jadi UMKM harus adaptif, tapi juga punya identitas yang kuat agar tetap relevan,” ujarnya.

Dosen FEB Unhas itu kemudian menegaskan, memanfaatkan tren viral sebagai strategi awal tidaklah keliru. Namun, pelaku UMKM harus siap menghadapi konsekuensi seperti persaingan harga, kualitas, hingga perebutan pasar.

“Kalau tidak konsisten menjaga kualitas, justru viral bisa jadi bumerang. Konsumen sekarang mudah membandingkan, dan sekali kecewa, mereka akan pindah,” pungkasnya.

(Achmad Ghiffary M / Unhas TV)