Lingkungan

El Nino Super Luas Sebabkan Kematian 450 Ribu Jiwa, Indonesia Masuk Negara Berisiko

Ilustrasi tanah kering karena kemarau panjang. (Dok x el nino)

UNHAS.TV - Fenomena El Nino yang salah satu tandanya berupa kekeringan dan gelombang hawa amat panas diperkirakan akan banyak merenggut jiwa manusia jika fenomena ini terus berlanjut hingga ke pertengahan tahun depan.

Para peneliti menemukan fakta terbaru yang mencemaskan bahwa El Nino makin panjang waktunya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan luasan wilayah terdampak makin melebar. 

Sejumlah peneliti dari Laboratorium Dampak Iklim Universitas Chicago, Amerika Serikat, merilis prakiraan bahwa El Nino akan merenggut 451 ribu jiwa pada kurun waktu Juni 2026 hingga Februari 2027.

Ini adalah angka minimum dari faktor gelombang hawa panas semata dan belum mempertimbangkan dampak lainnya semisal kekeringan, banjir, sumber air yang berkurang, kegagalan panen tanaman pangan, serta kebakaran.

"Kami telah memperkirakan dampak yang paling memilukan yakni kematian umat manusia," kata Michael Greenstone, seorang professor ekonomi Universitas Chicago yang juga pendiri dari Laboratorium Dampak Iklim.

"Ini bisa menimpa siapa saja, orangtua dan anak-anak, kakek nenek, tetangga, para pekerja, dan golongan lainnya," ujar Michael sebagaimana dikutip dari CNN. 

Para ilmuwan memperkirakan, El Nino akan menimbulkan tambahan suhu sekitar sebesar 1,2 derajat Celsius dari suhu normal pada bulan-bulan berikutnya. Bukan hanya itu, para ahli memproyeksikan pada 20 tahun ke depan, bumi makin panas karena jangka waktu El Nino akan bertambah seiring pertambahan tahun.

Indonesia Negara Berisiko

Para ahli juga memperkirakan sejumlah negara paling berisiko dari dampak gelombang hawa panas akibat El Nino, khususnya di wilayah paling selatan. Indonesia, Sudan, India, Brasil, Amerika Serikat, dan Nigeria ada di daftar tersebut. Bahkan sudah ada 31.400 jiwa di Nigeria tewas akibat hawa panas. 

Para ahli mendesak para pemimpin dunia, khususnya negara-negara paling berisiko untuk segera bertindak sebelum lebih banyak korban berjatuhan. "Tanggap darurat harus ditingkatkan dan upaya lebih keras harus dilakukan demi keselamatan umat manusia," ujar Tamma Carleton yang juga ikut terlibat pada penelitian yang dilakukan Laboratorium Dampak Iklim.(*)