MAKASSAR, UNHAS.TV - Di tengah kondisi ekonomi yang semakin dinamis dan penuh ketidakpastian, kemampuan mengelola keuangan menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki generasi muda.
Perencanaan keuangan atau financial planning kini tidak lagi sekadar menjadi tren, melainkan kebutuhan yang harus mulai dipahami sejak dini oleh Generasi Z.
Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Andi Raina Ananda Herdiyana SE MSc dalam program Econotalks Unhas TV di Unhas TV yang bertajuk “Pentingnya Financial Planning untuk Masa Depan Gen Z”.
Menurutnya, banyak anak muda yang masih memiliki anggapan bahwa perencanaan keuangan baru perlu dilakukan ketika memiliki penghasilan besar. Padahal, pola pikir tersebut justru menjadi salah satu hambatan utama dalam membangun kesehatan finansial jangka panjang.
“Jangan tunggu punya gaji besar untuk mulai mengelola keuangan. Apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan kondisi kita 30 sampai 40 tahun yang akan datang,” ujarnya.
Raina menjelaskan bahwa financial planning pada dasarnya bukan ditentukan oleh besar kecilnya pendapatan seseorang, melainkan bagaimana pendapatan tersebut dikelola secara disiplin dan terarah.
Seseorang dengan penghasilan yang tidak terlalu besar tetapi memiliki perencanaan keuangan yang baik dapat berada dalam kondisi finansial yang lebih sehat dibandingkan mereka yang berpenghasilan tinggi namun tidak memiliki pengelolaan keuangan yang jelas.
Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi Generasi Z saat ini adalah rendahnya kesadaran mengenai pentingnya literasi keuangan.
Banyak anak muda yang belum memahami tujuan pengelolaan uang serta manfaat jangka panjang dari menabung dan berinvestasi. Akibatnya, sebagian besar pendapatan yang dimiliki sering kali habis untuk memenuhi kebutuhan konsumtif tanpa perencanaan yang matang.
Selain minimnya literasi keuangan, perkembangan media sosial juga menjadi faktor yang turut memengaruhi perilaku finansial generasi muda.
Paparan gaya hidup mewah, tren konsumsi, hingga fenomena flexing membuat sebagian anak muda merasa perlu mengikuti standar hidup yang ditampilkan di dunia digital, meskipun kondisi keuangan mereka belum memungkinkan.
“Sering kali kita membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena ingin mengikuti tren atau apa yang ditampilkan di media sosial. Padahal keputusan seperti itu dapat memberikan dampak negatif terhadap kondisi keuangan,” jelasnya.
Fenomena fear of missing out (FOMO) yang semakin marak di kalangan anak muda juga dinilai berpotensi mendorong perilaku konsumtif.
Keinginan untuk selalu mengikuti tren terbaru, mencoba tempat yang sedang viral, atau memiliki barang yang sedang populer dapat membuat seseorang mengabaikan prioritas keuangannya.
Karena itu, Raina mengingatkan pentingnya kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan bertanya kepada diri sendiri sebelum membeli sesuatu.
Jika tidak membeli barang tersebut tidak memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan sehari-hari, maka kemungkinan besar barang tersebut masih termasuk kategori keinginan dan pembeliannya dapat ditunda.
“Kalau tidak membeli sesuatu itu tidak mengganggu hidup kita secara signifikan, berarti itu masih keinginan. Namun kalau memang sangat dibutuhkan dan memengaruhi aktivitas sehari-hari, barulah masuk kategori kebutuhan,” katanya.
Dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membuat anggaran keuangan.
Menurut Raina, anggaran berfungsi sebagai peta yang membantu seseorang mengetahui ke mana saja uangnya digunakan setiap bulan. Dengan adanya anggaran, seseorang dapat mengevaluasi pengeluaran yang berlebihan dan menentukan prioritas yang lebih penting.
Ia menilai banyak anak muda yang mengabaikan pentingnya membuat anggaran karena merasa proses tersebut rumit atau tidak diperlukan. Padahal, tanpa anggaran yang jelas, seseorang akan sulit mengetahui apakah kondisi keuangannya sehat atau tidak.
Gen Z Membangun Dana Darurat
>> Baca Selanjutnya
Andi Raina Ananda Herdiyana SE MSc membahas pentingnya financial planning bagi Gen Z. (Dok Unhas TV)








