UNHAS.TV - Namanya Fitri Yuliani. Ia mengenal ketimpangan informasi dari tempat ia tumbuh. Di Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Di kampung halamannya, ia menyaksikan bagaimana remaja desa kerap berada di pinggir arus informasi. Banyak program, edukasi, dan kesempatan lebih dulu sampai ke sekolah-sekolah di kota.
Sementara remaja di pelosok harus mencari jalan sendiri untuk mengetahui hal-hal yang seharusnya menjadi hak mereka.
Keresahan itu pelan-pelan membentuk pilihan hidup Fitri. Dari seorang siswa jurusan IPA yang terbiasa belajar kimia dan fisika, ia justru memilih Ilmu Politik Universitas Hasanuddin.
Ia ingin memahami mengapa anak muda kerap berjarak dengan politik, padahal keputusan politik memengaruhi hampir seluruh sisi kehidupan.
“Dulu aku sadar, kenapa remaja saat ini kurang melek atas politik. Aku tinggal di pelosok dan jarang melihat generasi muda yang mau tahu tentang dunia politik,” kata Fitri dalam program Unhas Story yang dipandu Zahra Tsabita Sucheng.
Fitri tidak berasal dari keluarga politik. Ketika ia menyampaikan keinginannya kepada orang tua, jawaban yang ia terima sederhana: boleh saja, selama ia mampu bertanggung jawab.
Ia lalu mencari tahu tentang jurusan ilmu politik, memastikan bahwa lulusan MIPA tetap dapat masuk ke bidang sosial, dan akhirnya mendaftar melalui jalur SNBT.
Ilmu Politik Unhas semula bukan pilihan pertama. Fitri menempatkan psikologi di urutan pertama dan ilmu politik di pilihan kedua. Namun ketika dinyatakan lulus di ilmu politik, ia menerima hasil itu sebagai keputusan yang sejak awal sudah ia pertimbangkan.
Ekspektasinya tentang ilmu politik juga berubah. Sebelum kuliah, ia membayangkan politik sebagai ruang debat dan adu argumen.
Setelah menjalani perkuliahan, ia melihat politik lebih dekat dari itu: cara manusia mengambil keputusan, menentukan pilihan, bernegosiasi, bahkan membangun relasi dalam keluarga.
“Politik itu berpengaruh di setiap sisi kehidupan sehari-hari kita,” ujar Fitri. Ia mencontohkan proses tawar-menawar saat membeli sesuatu sebagai bentuk sederhana dari praktik politik.
Bagi dia, politik tidak hanya milik orang dewasa atau elite, tetapi menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak kecil hingga dewasa.
Kesadaran sosial Fitri semakin tumbuh ketika ia bergabung dalam Duta Generasi Berencana atau Duta Genre.
Di sana, ia membawa isu ketimpangan antara remaja desa dan kota. Ia melihat remaja desa lebih sering menghadapi persoalan pernikahan dini, seks pranikah, dan penyalahgunaan napza, tetapi tidak selalu memperoleh edukasi yang memadai.
Fitri kemudian terpilih sebagai Juara 1 Duta Genre Kabupaten Bulukumba. Setelah satu tahun menjalankan program, ia mewakili Bulukumba ke tingkat Provinsi Sulawesi Selatan dan meraih predikat Best Advokasi Putri pada 2024.
Penilaian itu, kata dia, tidak hanya melihat penampilan, tetapi juga kerja advokasi dan program yang dijalankan di lapangan.
Pengalaman sebagai Duta Genre mengubah cara Fitri memandang lingkungan. Dulu ia mengaku cenderung cuek terhadap persoalan sekitar. Setelah menjadi duta, ia merasa punya tanggung jawab untuk memberi informasi, bukan sekadar melarang.
Peduli dengan Isu Pernikahan Dini
Dalam isu pernikahan dini, misalnya, ia tidak langsung menghakimi. Ia lebih banyak mengajak orang bertanya: apakah anak sudah siap secara mental, fisik, usia, dan finansial?
Dari keresahan yang sama, Fitri mendirikan komunitas Andeskar, singkatan dari Anak Desa Berkarya. Komunitas ini menjadi ruang bagi remaja desa untuk berbagi informasi, mengembangkan minat, dan membangun kepercayaan diri.
Dalam satu tahun, Fitri berhasil mengumpulkan 55 remaja dari wilayah pelosok. Andeskar tidak hanya menjadi tempat bercerita.
Para anggotanya membuat program, mengikuti lomba, berbagi pengalaman pendidikan, dan saling memberi informasi tentang peluang. Fitri yang kini kuliah di Unhas, misalnya, membagikan pengalaman kampus kepada teman-teman di desa.
Baginya, komunitas ini adalah rumah bagi anak-anak desa yang memiliki bakat tetapi belum punya ruang untuk menampilkannya.
Jejak advokasi itu pula yang ia bawa ketika menjadi delegasi Woman Inspirasi Sulawesi Selatan di Jakarta pada 2025.
Dalam forum peringatan Hari Kartini itu, Fitri membawa proyek berbasis komunitas Andeskar. Ia menyusun modul ajar untuk perempuan yang tidak bersekolah dan anak laki-laki yang kekurangan peran ayah.
Di Jakarta, Fitri bertemu sekitar 150 perempuan dari berbagai daerah dan kampus. Ia tidak hanya mengikuti sesi materi, tetapi juga diminta menyusun proyek bersama delegasi lain.
Kelompoknya membahas isu perempuan dari perspektif kerja domestik dan beban sosial. Pengalaman itu membuat Fitri melihat bahwa prestasi perempuan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan bertahan, bersuara, dan menguatkan diri.
Sosok yang paling menginspirasinya adalah Najwa Shihab. Fitri mengagumi cara Najwa berbicara, berdiri, menyampaikan pendapat, dan mempertahankan sikap di tengah berbagai stigma.
Ia tidak ingin menjadi orang lain, tetapi mengambil keberanian dan keteguhan sikap dari sosok yang ia kagumi.
Duta Pengelola Informasi Unhas
>> Baca Selanjutnya
Fitri Yuliani, Duta Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Unhas 2025. (Dok Unhas TV)








