
Fitri Yuliani , Duta Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Unhas 2025. (Dok Unhas TV)
Perjalanan Fitri kemudian berlanjut ke dunia informasi publik. Pada 2025, ia mengikuti seleksi Duta PPID Universitas Hasanuddin. Awalnya, ia hanya melihat unggahan di Instagram Unhas.
Istilah PPID—Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi—membuatnya penasaran. Ia tertarik karena selama ini menyukai komunikasi dan dokumentasi.
Beberapa teman mengirimkan informasi pendaftaran itu kepadanya dan menyarankan agar ia mencoba.
Saat itu Fitri masih semester tiga dan sempat ragu karena peserta lain berasal dari semester yang lebih tinggi. Namun ia tetap mengirim CV dan menjawab pertanyaan tentang PPID dengan bekal riset awal.
Ia lolos. Semakin jauh mengikuti proses, semakin ia memahami bahwa PPID bukan sekadar urusan media sosial. PPID adalah pusat layanan informasi dan dokumentasi.
Di Unhas, PPID menyediakan berbagai jenis informasi, mulai dari data berkala seperti jumlah mahasiswa dan fakultas, informasi beasiswa, hingga informasi serta-merta seperti keadaan darurat atau bencana.
Fitri menjelaskan bahwa PPID bertumpu pada prinsip keterbukaan informasi publik. Ia menyebut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 sebagai landasan penting dalam memastikan informasi menjadi hak masyarakat.
Peran Duta PPID, menurut dia, adalah menjembatani layanan tersebut agar lebih dikenal mahasiswa dan publik.
Sebagai Duta PPID Unhas, tantangan terbesarnya adalah menyederhanakan informasi agar mudah dipahami mahasiswa. Fitri memulainya dari lingkaran terdekat.
Ia mengenalkan PPID kepada teman-teman seangkatan, menjelaskan fungsi website, dan membagikan konten melalui media sosial. Baginya, perubahan besar dapat dimulai dari percakapan kecil.
Fitri juga ingin membawa PPID lebih jauh ke sekolah-sekolah di pelosok. Program itu sejalan dengan kegelisahannya sejak awal yakni akses informasi tidak boleh hanya dinikmati mereka yang tinggal dekat pusat kota.
Ia berencana meminta dukungan kelembagaan agar dapat melakukan sosialisasi ke sekolah yang belum tersentuh informasi secara merata.
Keberhasilannya sebagai Duta PPID Unhas membawanya menjadi delegasi kampus ke tingkat nasional. Ia sempat gugup karena seleksi nasional lebih ketat, termasuk tes tertulis dan debat.
Namun dukungan pihak PPID membuatnya lebih percaya diri. Baginya, lolos sebagai delegasi saja sudah menjadi pencapaian besar.
Di tengah derasnya arus informasi digital, Fitri melihat PPID memiliki peran penting untuk melawan hoaks. Informasi harus berasal dari kanal resmi, disaring, dan diverifikasi. Ia percaya mahasiswa perlu membiasakan diri memeriksa sumber sebelum mempercayai atau menyebarkan kabar.
“Kalau memang bukan dari link resmi atau website resmi, berarti itu informasi yang tidak jelas,” kata Fitri. Sebagai duta, ia merasa harus berani menyampaikan mana informasi benar dan mana yang keliru.
Dari Duta Genre, pendiri Andeskar, delegasi Woman Inspirasi, hingga Duta PPID Unhas, Fitri melihat benang merah yang sama: dampak bagi orang lain. Ia ingin menjadi dosen, bukan semata karena ingin mengajar, tetapi karena ingin membangun ruang belajar yang memperluas kesadaran.
Dalam waktu dekat, ia ingin melanjutkan program yang sudah dimulai, terutama komunitas Andeskar dan kegiatan PPID. Dalam jangka panjang, ia ingin setiap langkah yang ia ambil punya manfaat yang lebih luas.
Pesannya kepada generasi muda sederhana: menjadi diri sendiri, memiliki pendirian, dan berani mencoba hal kecil. Fitri percaya, tidak perlu menjadi orang lain untuk bermakna. Cukup mulai dari keresahan sendiri, lalu mengubahnya menjadi kerja nyata.
Dari pelosok Bulukumba hingga ruang informasi publik Universitas Hasanuddin, Fitri menunjukkan bahwa akses informasi bukan sekadar data. Ia adalah jalan menuju kesetaraan, keberanian, dan kesempatan bagi lebih banyak anak muda untuk ikut menentukan masa depan.
(Zahra Tsabita Sucheng / Unhas TV)








