News
Pendidikan

ICOGEST 2026 Angkat Peran Geosains dalam Transisi Energi dan Ketahanan Bencana

Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik dan Departemen Geofisika Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin menggelar event ICOGEST 2026 di Gedung CSA Fakultas Teknik Unhas, Gowa, Senin (14/9/206). (Unhas TV / Mustika Syaharuddin)

GOWA, UNHAS.TV - Ancaman bencana alam dan kebutuhan terhadap sumber energi terbarukan menjadi dua persoalan yang diangkat dalam International Conference of Geosciences and Geotechnology (ICOGEST) 2026.

Melalui forum ini, perkembangan ilmu kebumian tidak hanya dibahas dalam konteks akademik, tetapi juga diarahkan agar informasi mengenai bencana, sumber daya alam, dan energi dapat semakin dikenal masyarakat.

ICOGEST 2026 digelar Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik bersama Departemen Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Hasanuddin, di Gedung CSA Fakultas Teknik Unhas, Gowa, Senin (14/9/206).

Konferensi ini merupakan agenda dua tahunan yang mempertemukan kalangan akademik dengan peserta dari berbagai instansi terkait bidang kebumian dan energi. 

Ketua Panitia ICOGEST 2026, Arifuddin Jamil MSc., mengatakan salah satu tujuan konferensi adalah mendekatkan geosains dan geologi kepada masyarakat. Menurutnya, informasi kebumian yang dibahas dalam forum tersebut tidak hanya ditujukan bagi kalangan akademik.

“Tujuannya adalah kami ingin memperkenalkan dan membuat geosains atau geologi itu lebih familiar kepada masyarakat, sehingga targetnya bukan cuma akademik, tapi juga masyarakat secara luas,” ujar Arifuddin.

ICOGEST pertama kali dilaksanakan pada 2024 dengan Departemen Geofisika sebagai host dan Departemen Teknik Geologi sebagai co-host. Pada penyelenggaraan tahun ini, Departemen Teknik Geologi menjadi host, sementara Departemen Geofisika bertindak sebagai co-host.

Format penyelenggaraan 2026 juga berbeda dibandingkan edisi perdana. Jika pada 2024 ICOGEST terdiri atas kegiatan mahasiswa dan konferensi, tahun ini kegiatan dipusatkan pada konferensi.

Arifuddin mengatakan pilihan tersebut dilakukan agar pembahasan lebih difokuskan pada pengembangan keilmuan kebumian sekaligus penyebarluasan informasi kepada masyarakat.

“Kegiatan tahun ini kami cuma melakukan kegiatan konferensi saja dikarenakan kami ingin fokus kepada bagaimana mengembangkan kebumian secara akademik dan menyebarluaskan informasi-informasi kebumian, termasuk misalnya bencana alam atau natural resource kepada khalayak umum,” jelasnya.

Fokus tersebut dibawa melalui tema “Advancing Earth Science Innovations for Sustainable Energy Transition on Resource and Disaster Resilience.”

Tema ini menempatkan inovasi ilmu kebumian dalam pembahasan mengenai transisi energi, sumber daya, dan ketahanan terhadap bencana. 

Arifuddin mengatakan isu kebencanaan menjadi salah satu perhatian karena masyarakat berhadapan dengan berbagai jenis bencana alam.

Ia menyinggung peristiwa gempa dan tsunami sebagai contoh persoalan yang menunjukkan pentingnya informasi kebumian untuk dikomunikasikan kepada masyarakat.

“Kita tahu bahwa saat ini kita menghadapi berbagai macam jenis bencana alam, seperti contohnya baru-baru ini terjadi di Nepal misalnya, ataupun beberapa tahun yang lalu terjadi tsunami dan gempa bumi. Kami ingin mengomunikasikan hal tersebut kepada masyarakat melalui forum ini,” katanya.

Isu Transisi Energi

Selain kebencanaan, ICOGEST 2026 membahas persoalan transisi energi. Arifuddin menyebut kondisi bahan bakar minyak sebagai salah satu hal yang mendorong pembahasan mengenai pencarian sumber energi terbarukan yang dapat digunakan sebagai alternatif bahan bakar berbasis minyak.

“Kita tahu bahwa saat ini kita mengalami krisis bahan bakar minyak, yang mana kemudian tentu kita ingin mencari lagi lebih banyak sumber-sumber energi terbarui atau terbarukan yang dapat kita pergunakan sebagai bahan bakar pengganti minyak,” ujarnya.

Pembahasan mengenai dua isu tersebut melibatkan peserta dari berbagai latar belakang. ICOGEST 2026 terbuka bagi mahasiswa jenjang S1, S2, dan S3 serta peserta dari berbagai instansi yang berkaitan dengan bidang kebumian.

Arifuddin menyebut keterlibatan peserta juga berasal dari sektor energi, termasuk Pertamina dan bidang panas bumi atau geothermal.

Agenda konferensi turut menghadirkan pembicara dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi paralel. 

Pada sesi pleno, empat pembicara yang dijadwalkan hadir yakni Lujia Feng PhD, Prof Dr Eng Adi Maulana ST MPhil, Prof Farid, dan Dr Abang Mansyursyah Surya Nugraha. 

ICOGEST direncanakan kembali dilaksanakan pada 2028. Arifuddin berharap pada penyelenggaraan berikutnya, kegiatan yang dihadirkan dapat lebih beragam dan tidak hanya menyasar kalangan akademik.

Ia menyebut pengabdian kepada masyarakat sebagai salah satu bentuk kegiatan yang dapat dikembangkan untuk memperluas jangkauan ICOGEST kepada masyarakat umum.

(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)