UNHAS.TV - Argentina melaju ke babak final Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Inggris pada laga yang berlangsung dramatis. Meski Inggris berhasil mencetak gol tunggal di babak pertama, Argentina ternyata bisa membalik keadaan dengan dua gol sekaligus di 18 menit akhir babak kedua.
Inggris pun harus mengubur impian "Football is coming home". Negara ini memang amat meyakini sepakbola lahir di negeri mereka dan sudah saatnya sepakbola kembali ke rahim bangsa Inggris.
Akan tetapi, di lapangan sepakbola, keyakinan saja tidak cukup. Semua racikan strategi Thomas Tuchel dikandaskan oleh kecerdikan Lionel Messi dan kawan-kawan. Inggris pulang dan pemain Argentina pun bersorak. Sorakan yang kemudian membuka luka politik yang seharusnya ditutup rapat.
Pemicunya datang dari Lisandro Matinez dan Giovani La Celso. Sambil bertelanjang dada, keduanya membentangkan kain putih dengan tulisan hitam: Las Malvinas Son Argentina yang bermakna Malvinas (Kepulauan Falkland milik Argentina). Tidak jelas dari mana mereka mendapatkan kain putih itu.
Para pendukung Inggris pun marah besar. Ini mengingatkan pada perang 74 hari di tahun 1982. Perang yang memperebutkan wilayah Falkland yang bila ditarik jauh ke belakang, sudah muncul pada era 1700-an dan 1800-an.
Perang di wilayah Amerika Selatan itu dipicu saat Argentina menurunkan pasukannya dan menduduki wilayah itu. Inggris memberi tanggapan dengan mengerahkan armada militernya. Perang pun tak bisa dielakkan hingga kemudian Inggris memenangkan perang itu. Sekitar 645 pasukan Argentina tewas, di sisi Inggris sebanyak 255 tewas.
Melalui referendum pada tahun 2013, wilayah ini milik Inggris tapi Argentina masih menyimpan hasrat memiliki. Pada tahun 2024, Presiden Argentina Javier Milei kembali menegaskan bahwa Malvinas harus kembali ke Argentina.
Kembali ke isu kain itu, Inggris melancarkan protes ke FIFA dan mendesak penyelidikan lebih jauh. Menteri Dalam Negeri Inggris Peter Kyle menilai tindakan itu sebagai tindakan tidak pantas dan jauh dari prinsip olahraga yang menekankan pada persatuan dan persahabatan.
Menurut pihak Inggris, tindakan Argentina melanggar Pasal 3.1.24 tentang Kode Etik Stadion di Piala Dunia yang menegaskan bahwa dilarang melakukan tindakan politik, penyerangan, dan diskriminasi. Ini juga melanggar Hukum 4 pada Laws of the Game yang disusun oleh IFAB.
Sebelumnya, FIFA memberi sanksi larangan dua kali bertanding kepada pemain Korea Selatan Park Jong-woo setelah membentangkan kain bertuliskan "Dokdo Wilayah Kami" setelah timnya menang atas Jepang pada Olimpiade 2012.
Badan Sepakbola UEFA juga pernah menjatuhkan sanksi larangan satu kali bertanding kepada dua pemain Spanyol, Rodri dan Alvaro Morata, karena membentangkan kain bertuliskan "Gibraltar adalah Spanyol" saat selebrasi di Euro 2024.(*)






-300x170.webp)

