Lingkungan
Sosial

Ketika Limbah Jadi Berkah, Program Biogas PLN Peduli Wujudkan Harapan dan Energi Bersih di Sinjai

KOMPOR BIOGAS - Rostina (53) warga Desa Saukang di Kabupaten Sinjai merebus air menggunakan kompor biogas di dapurnya, Minggu (1/3/2026). (dok pln uid sulselrabar)

SINJAI, UNHAS.TV - Pukul empat dini hari, dapur Andi Hasriani, 51 tahun, sudah hidup. Guru honorer di Dusun Bakae, Desa Saukang, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, itu memulai hari lebih awal: menyiapkan sarapan, merapikan rumah, lalu bergegas ke sekolah.

Sejak beberapa pekan terakhir, api di kompornya menyala biru meski tanpa tabung gas. Sumbernya bukan elpiji, melainkan biogas dari kotoran sapi.

Hasriani menjadi satu dari delapan kepala keluarga penerima manfaat Program Biogas Kampung Energi Terpadu di dusunnya.

Program ini merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli yang dijalankan PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar).

Pelaksanaan program tersebut PLN Peduli menggandeng Yayasan Peduli Bangsa Sinjai dan didukung Pemerintah Kabupaten Sinjai.

Di Dusun Bakae dipasang satu biodigester berkapasitas 12 meter kubik. Limbah ternak warga diolah menjadi gas metana untuk kebutuhan memasak. Residu pengolahannya dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

“Alhamdulillah, dengan biogas kami tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Dana yang tadinya dipakai untuk membeli tabung gas dapat digunakan untuk kebutuhan sekolah anak dan kebutuhan rumah sehari-hari,” ujar Hasriani, Selasa (3/3/2026).


PROGRAM BIOGAS - Kandang sapi dari Program Biogas Kampung Energi Terpadu bantuan dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Sulselrabar di Kabupaten Sinjai. Program ini juga sebagai sarana pengolahan limbah ternak menjadi energi ramah lingkungan. (dok pln uid sulselrabar)


Sebelum ada biogas, ia menghabiskan sekitar empat tabung gas per bulan atau sekitar Rp72 ribu untuk memasak. Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, pengeluaran rutin itu cukup terasa. Kini biaya tersebut bisa dialihkan untuk kebutuhan lain.

Selain hemat, ia menilai kompor biogas lebih aman. Sistemnya bekerja pada tekanan rendah tanpa tabung penyimpanan bertekanan tinggi.

“Kalau pakai tabung gas, selalu ada rasa khawatir takut bocor atau meledak. Tapi sekarang dengan biogas, saya lebih tenang dan merasa aman saat memasak untuk keluarga,” katanya.

Program ini dirancang berbasis komunitas. Sapi-sapi yang menjadi sumber bahan baku biogas adalah milik warga penerima manfaat. Limbah yang sebelumnya tak bernilai kini menjadi energi bersih. Skema ini membentuk siklus tertutup: dari kandang ke dapur, dari limbah menjadi berkah.

Residu Jadi Pupuk Organik

>> Baca Selanjutnya