MAKASSAR, UNHAS.TV - Kelangkaan Liquified Petroleum Gas atau LPG tiga kilogram mulai mengganggu aktivitas rumah tangga di sejumlah wilayah Kota Makassar.
Sejumlah ibu rumah tangga mengaku kesulitan memperoleh tabung gas bersubsidi tersebut hingga harus mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari.
Salah satu warga yang merasakan dampak kelangkaan itu adalah Hayati S. Selama tiga hari terakhir, ia berkeliling mencari LPG tiga kilogram di sejumlah toko dan tempat penjualan gas di sekitar tempat tinggalnya. Namun, upayanya belum membuahkan hasil.
Dalam satu hari, Hayati mengaku telah mendatangi delapan toko yang menjual LPG tiga kilogram. Namun, seluruh tempat yang didatanginya tidak memiliki persediaan tabung gas.
“Kalau saya sudah tiga hari cari di toko-toko yang jual gas. Hari itu saya pergi cari sudah delapan tempat yang saya datangi, tidak ada satupun yang kami dapat,” kata Hayati.
Kesulitan memperoleh LPG membuat Hayati belum mengetahui perkembangan harga terbaru selama masa kelangkaan. Ia juga mempertanyakan aturan pembelian LPG tiga kilogram yang mengharuskan masyarakat membawa dokumen tertentu.
Menurut Hayati, pembelian gas dengan menggunakan KTP dan kartu keluarga membuat sebagian masyarakat kecil merasa kesulitan. Ia khawatir dokumen pribadi tersebut berisiko hilang saat warga harus mengantre untuk mendapatkan LPG.
“Kalau bisa kami mohon kepada pemerintah agar masyarakat kecil jangan terlalu dipersulit. Kami ini membeli, bukan meminta gratis. Jangan terlalu banyak persyaratan untuk mendapatkan gas,” ujarnya.
Karena tidak kunjung mendapatkan LPG, Hayati akhirnya menggunakan kompor listrik sebagai solusi sementara. Peralatan tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan memasak, mulai dari merebus air, memasak makanan, hingga menggoreng.
“Terpaksa sekarang kami ambil strategi apa boleh buat. Kebetulan kami punya kompor listrik, jadi kami gunakan untuk masak air, masak-masak, dan menggoreng,” kata Hayati.
Warga Kota Bergantung pada LPG
Kondisi serupa dialami Inramasputri Tandipuang. Ia mengatakan kelangkaan LPG tiga kilogram baru dirasakan dalam beberapa hari terakhir. Tabung gas yang biasanya mudah ditemukan di gardu sekitar rumah, kini sulit diperoleh.
Menurut Inramasputri, persoalan utama bukan kenaikan harga, melainkan ketersediaan barang. Harga LPG tiga kilogram di tingkat pangkalan masih berada pada kisaran normal.
Ia menyebut harga LPG tiga kilogram di pangkalan sekitar Rp18.500 per tabung. Sementara itu, harga di gardu atau pengecer kecil berkisar Rp22 ribu hingga Rp23 ribu. Menurut dia, harga tersebut belum mengalami lonjakan signifikan.
“Kalau soal harga masih stabil. Di pangkalan saya dapat Rp18.500, kemudian kalau di gardu sekitar rumah biasanya Rp22 ribu. Paling tinggi Rp23 ribu,” ujar Inramasputri.
Meski harga belum meningkat tajam, kelangkaan LPG tetap berdampak pada pengeluaran keluarga. Kondisi tersebut terutama dirasakan rumah tangga yang hanya memiliki satu tabung gas.
Menurut Inramasputri, membeli tabung tambahan bukan perkara mudah karena harga tabung baru cukup mahal bagi sebagian masyarakat. Ia berharap harga tabung dapat lebih terjangkau agar warga memiliki cadangan ketika terjadi gangguan pasokan.
“Pengeluaran pasti meningkat, apalagi yang punya tabung hanya satu. Sulit kalau tabung baru mahal. Kalau punya dua tabung, masih bisa menunggu satu atau dua hari ketika gas langka,” katanya.
Bagi masyarakat perkotaan seperti Makassar, LPG menjadi kebutuhan utama karena pilihan bahan bakar alternatif sangat terbatas. Berbeda dengan masyarakat di daerah pedesaan yang masih dapat menggunakan kayu atau sumber energi lain untuk memasak.
Inramasputri menilai pemerintah perlu memberikan informasi lebih awal jika terjadi gangguan distribusi LPG. Pemberitahuan tersebut dinilai penting agar masyarakat dapat menyiapkan alternatif memasak dan mengatur kebutuhan rumah tangga.
Warga juga meminta pemerintah menelusuri penyebab kelangkaan LPG tiga kilogram. Mereka berharap distribusi gas bersubsidi kembali normal dan tersedia bagi masyarakat yang memang bergantung pada LPG untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kelangkaan LPG tiga kilogram ini menjadi perhatian warga karena komoditas tersebut merupakan bagian penting dari aktivitas rumah tangga. Masyarakat berharap program penyediaan energi bersubsidi dapat berjalan sesuai tujuan, sehingga kebutuhan memasak keluarga kecil tetap terpenuhi.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Ibu rumah tangga Hayati S dan Inramasputri Tandipuang menanggapi gas LPG 3 Kg yang langka. (Unhas TV / Venny Septiani Semuel)
-300x149.webp)







